Nopiranti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Pengaruh Soft Spoken Terhadap Kesehatan Jiwa dan Raga
Dokumentasi pribadi

Pengaruh Soft Spoken Terhadap Kesehatan Jiwa dan Raga

Pengaruh Soft Spoken Terhadap Kesehatan Jiwa dan Raga

Duh, judul tulisannya sudah seperti penelitian ilmiah saja ya. Hmm, penelitian super sangat sederhana sih ini juga. Saya yang melakukan penelitian, plus saya juga sebagai objek yang diteliti. Lho, maksudnya? Iya, saya melakukan riset ala kadarnya terhadap tingkah laku dan kebiasaan saya sehari-hari dan efeknya terhadap diri saya sendiri. 

Singkat cerita saya kan termasuk orang yang emosian, mudah tersulut amarah, dan gampang 'meledak'. Entah itu lewat hentakan badan atau melalui bombardir kata-kata bentuk ledakannya. Tapi, tidak berlaku pada semua kondisi dan orang ya. Hanya pada situasi tertentu saja saya bisa bersikap tidak baik. Itu juga saya lakukan jika terpantik suatu hal yang sudah benar-benar membuat saya geram dan tidak bisa lagi diredam dengan bersikap lunak.

Tapi, ketika saya meninggikan suara dan menguar amarah, ternyata tidak selalu menyelesaikan masalah. Iya kalau orang yang dimaksud sadar, lalu berubah setelah saya bentak dan ceramahi panjang lebar. Namun, yang terjadi seringkali di luar ekspektasi. Bicara ngegas malah bikin saya capek. Marah-marah juga membuat energi saya terkuras habis. Perkara yang dihadapi juga belum tentu kelar. Belum lagi perasaan orang yang dibentak atau dimarahi yang pasti merasa terluka oleh perlakuan saya.

Ketika saya bicara dengan nada tinggi, otomatis urat saraf di kepala saya tertarik dan menjadi tegang. Efeknya kepala jadi pusing. Belum lagi kata-kata yang seringkali meluncur tanpa bisa disaring. Memang sesaat rasanya lega bisa meluapkan kekesalan dengan puas. Tapi, setelahnya apa? Saya jadi malas bicara, enggan beraktivitas, dan ada rasa malu ketika akan memulai lagi komunikasi dengan orang yang bersangkutan.

Tapi, sudah tahu efeknya jelek, saya masih saja mengulangi kebiasaan tidak elok itu. Lama kelamaan pusingnya bertambah parah yang menyebabkan tekanan darah saya naik drastis. Oh, no, ini ancaman serius untuk kesehatan diri saya. Saya harus melakukan sesuatu untuk menghentikan kebiasaan buruk ini dan berjuang mengembalikan kestabilan kesehatan jiwa dan raga saya. Tapi, bagaimana caranya? 

Qadarullah, sebuah konten di media sosial memberi saya ide, yaitu dengan membiasakan diri soft spoken alias bicara dengan nada yang lemah lembut. Awalnya agak canggung ya. Ketika saya kesal atau marah, eh malah disuruh lemah lembut. Kontradiktif banget, 'kan? Terus, bagaimana saya menerapkan konsep soft spoken ini sebagai terapi menurunkan tekanan darah? 

Jika saya mulai tersulut emosi dan rasanya ingin meledak, saya coba diam dahulu sejenak. Tarik napas yang dalam. Embuskan perlahan. Ulangi beberapa kali sampai detak jantung terasa lebih normal. Kedua, awali dengan tersenyum. Senyum akan memantik rasa tenang. Ketiga, baca bismillah banyak-banyak, mohon pertolongan Allah agar bisa memulai komunikasi dengan baik. Keempat, mulai deh bicara dengan nada lembut, memilih kata-kata yang baik, dan disampaikan dengan perlahan-lahan. Lakukan juga kontak mata yang hangat ketika menyampaikan poin inti pembicaraan. Jika lawan bicaranya perempuan, sesekali saya genggam tangannya atau peluk bahunya untuk mengalirkan energi baik bahwa saya bersungguh-sungguh dengan apa yang saya ucapkan.

Lantas, apa yang terjadi setelah itu? Yang paling saya rasakan adalah bahagia karena sudah bisa melawan diri saya sendiri untuk tidak marah-marah. Rasa bahagia itu memantik rasa tenang. Ketenangan membuat saya mudah tersenyum senang. Senyum itu memicu lepasnya hormon endorfin atau hormon yang membuat kita merasa bahagia dan santai. Saat itulah stres saya berkurang dan tekanan darah menurun. Mood juga otomatis membaik. Saya merasa lebih jernih dan positif dalam berpikir. Hal ini membuat hubungan sosial dengan sekeliling juga menjadi lebih mudah terjalin dengan baik. Memang tidak lantas masalah jadi selesai saat itu juga. Tapi, minimal saya terhindar dari luapan emosi yang merusak kesehatan jiwa dan raga saya. Orang yang diajak bicara juga terhindar dari rasa sakit hati.

Jujur, sesekali saya masih suka lepas kendali. Tapi, tidak separah sebelumnya. Saya sudah merasa jauh lebih baik dengan menerapkan terapi soft spoken ini. Terapi ini cocok di saya karena bisa mengurangi stres, meningkatkan kualitas  hubungan karena bisa membuat orang lain merasa lebih nyaman, meningkatkan kesadaran diri untuk mengontrol kata-kata dan emosi, serta mendukung kesehatan mental karena bisa mengurangi gejala depresi dan kecemasan.

Tapi, ketika soft spoken tidak juga membuat saya tenang, maka diam dan menghindar itu jauh lebih baik. Dari pada terjadi Perang Dunia ketiga, iya kan, Besti? Peace...

 

Sukabumi, 3 Januari 2026

(46 hari menuju Ramadan)

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post