Nopiranti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Pengendali Kabut
Dokumentasi Pribadi

Pengendali Kabut

Pengendali Kabut

Kabut mana di desa ini yang tak bisa kutaklukkan? Kabut di tepian sungai yang hampir menenggelamkan Bude Ris selepas hujan sore itu? Meski hampir terlambat, kabut di tepian sungai itu ringan saja kuterobos. Hingga aku bisa datang tepat waktu membawa tim penolong untuk menyelamatkan Bude Ris.

Info penting kudapat dari Bude Yul yang waktu itu sempat berpapasan dengan Bude Ris sepulang memetik sayur di kebun. Katanya Bude Ris merasa kebelet. Tapi, dia bilang rasanya tak mungkin bisa bertahan jika harus menuntaskan hajat di rumah yang jaraknya masih lumayan jauh. Bude Yul tidak tahu jika saat itu Bude Ris ada kemungkinan turun ke tepian sungai yang dilewatinya. Bude Yul berpikir mustahil Bude Ris senekad itu turun ke sungai saat sedang turun kabut. Entah apa yang terjadi setelah itu. Mungkin Bude Ris tergelincir lalu jatuh di atas bebatuan dan pingsan.

Menjelang magrib, keluarga panik karena tidak mendapati Bude Ris pulang ke rumah. Pencarian pun di mulai. Jalanan menuju kebun disusuri berulang kali. Daerah sekitar pinggir sungai pun disasar dengan hati-hati. Tapi, tak ada yang berani menerobos lebih jauh ke arah kabut tebal yang menyelimuti sungai. Hingga di satu titik agak jauh ke hilir, dekat dengan sumber air panas yang menjadi keunikan sungai di kampungku, keyakinanku menguat. Aku harus menerjang kabut itu, karena aku yakin Bude Ris di sana. Ternyata firasatku benar. Di situ tergeletak gendongan anyaman bambu dan sayuran yang berantakan, bersebelahan dengan tubuh Bude Ris yang tak sadarkan diri di samping batu besar yang licin. Andai terlambat sedikit lagi saja, mungkin Bude Ris akan ikut hanyut terbawa gelombang arus deras yang tetiba datang dari arah hulu, sesaat setelah semua orang sudah naik kembali ke atas.

Kabut di hutan jati milik Pak Har yang terkenal angker juga masih bisa aku tangani. Hampir pukul lima sore waktu itu, suara Bu Har yang panik, beradu cerita dengan beberapa warga. Bu Har khawatir karena suaminya belum juga pulang. Di tengah hujan, ada warga yang membantu mencari ke sawah, mungkin Pak Har masih sibuk mengurus aliran air. Tapi, ternyata Pak Har tak ada di sana. Warga kemudian mendatangi kebun sayur, mungkin Pak Har memeriksa ajir tanaman kacang panjang, khawatir tumbang terkena angin yang menyertai hujan. Di sana, nihil juga, Pak Har tak ada.

Titik terang mulai tampak saat kudengar celoteh anak kecil yang mengatakan jika dia melihat Pak Har berjalan ke arah hutan jati tadi siang, sebelum hujan turun. Suara zikir bakda salat Magrib yang terdengar dari pengeras suara masjid desa tetangga mengiringi rombongan warga yang bergegas menuju hutan jati. Jalanan licin selepas hujan membuat langkah terasa lebih berat karena banyak tanah yang menempel di alas kaki.

Cahaya senter berkelebat ke setiap penjuru hutan. Suara yang memanggil Pak Har, bergantian menggema, memecah kesunyian malam. Dalam dekapan kabut seperti itu, tak ada yang berani berpencar. Semua bergerak beriringan ke arah yang sama. Kecuali aku, radarku kuat memberi sinyal untuk berbalik ke arah yang berlawanan. Tersaruk-saruk tapakku menerjang tanah licin yang semakin menurun dan ditutupi daun-daun jati kering yang meranggas. Aku jatuh tergelincir. Badanku dihentikan akar pohon, tepat beberapa langkah dari lokasi terlihatnya raga Pak Har dalam kondisi telungkup. Jeritan pilu Bu Har dan hiruk pikuk warga yang berjibaku mengangkat jasad Pak Har, semakin membuat gigil menjadi. Seketika aroma mistis pekat menguar, membuat semua orang bergegas pulang sambil rapat merapalkan aneka doa sebisanya.

Lalu, kabut mana lagi yang telah kusambangi demi menemukan raga-raga yang tersesat? Banyak. Ada kabut di hutan bambu yang menyembunyikan Tole waktu dia bermain petak umpet dengan teman-temannya sepulang sekolah. Ada juga kabut di atas bukit itu. Di sanalah Kakek Maja ditemukan dalam keadaan terduduk kaku dan sudah dikerubuti semut. Setelah tiga hari tiga malam keluarga dan warga bekerja keras mencarinya kesana kemari. Termasuk ke sekitar tempat kakek malang itu ditemukan sudah tak bernyawa. Tumpukan kayu bakar masih rapi tersimpan di samping jasadnya. Kemudian kabut di dekat pemakaman umum yang menjadi lokasi ditemukannya Bu En yang sedang hamil besar, dalam keadaan linglung. Dia merasa seperti ada yang menuntunnya ke suatu tempat antah berantah ketika mengambil jalan pintas menuju rumah saudaranya.

Semua kabut itu tenang saja kudatangi. Meski terkadang ada rasa gemetar, tapi selebihnya aku merasa ada kekuatan yang membimbingku untuk berani menerjang ke dalam rungkupan kabut itu. Kekuatan yang memberiku bisikan untuk segera menyelamatkan orang yang tengah terperangkap di dalamnya. Tapi, tidak dengan kabut yang satu ini. Entah apa yang membuatku gentar kali ini. Kabar itukah yang membuatku kaget, syok, dan pikiranku seperti kehilangan akal sehat?

“Mbak Kina belum pulang. Padahal tadi pagi hanya pamit mandi di pancuran sambil mencuci baju,” isak ketakutan Den mengacaukan radar pengendali kabutku.

Saat semua orang sibuk bergerak mencari Kina, badanku yang sudah demam sejak semalam, malah menggigil lebih hebat. Persendian tulangku terasa linu dan tak bertenaga ketika digerakkan. Alih-alih bersemangat menuju TKP seperti biasanya, tubuhku malah meringkuk di atas kasur kapuk lepet di pojok ruang tengah yang juga berfungsi sebagai ruang tamu. Pikiranku terpaut erat pada Kina, tapi ragaku tak kuasa untuk bangkit.

“Ras, apa kamu punya firasat di mana Kina berada? Biar nanti warga saja yang mendatangi tempat itu,” ucap lirih simbok padaku. Beliau sangat berhati-hati menyampaikan pertanyaan itu. Simbok sangat tahu bagaimana dekatnya aku dengan Kina. Kina itu bukan hanya tetangga dan teman sepermainan. Buatku, dia itu separuh jiwa, yang teramat mengerti siapa Ras, jauh sebelum orang-orang menganggap aku ada dan bisa berguna sebagai pengendali kabut.

Kala semua orang menjauh, Kina datang mendekat. Aku bisa merasakan ketulusan sikapnya. Dia tidak risih berjalan beriringan denganku yang bertubuh sangat mini untuk anak laki-laki seumuranku. Dia sabar mendengarkan celoteh bahasa isyarat atau suara gaguku yang biasanya harus berulangkali kuperagakan untuk membuat Kina mengerti apa yang kumaksud. Kina juga yang membuatku berani memasuki kabut demi menolong orang lain.

"Kebaikan yang tulus itu menghadirkan kehangatan dalam jiwa. Dan kehangatan dapat menghalau kabut. Jadilah orang baik yang memberikan kehangatan dan mampu menyingkirkan segala macam kabut yang menghalangi dan mencelakakan." Meski baru kelas 8, tapi cara Kina berpikir dan bersikap seringkali teramat dewasa. Mungkin itu dipengaruhi oleh pola asuh orang tuanya yang penuh sopan santun dan keuletannya belajar lewat aneka buku yang sering dia pinjam dari perpustakaan sekolahnya.

Selepas SD, aku tidak lanjut ke SMP. Kina lah yang telaten berbagi pengetahuan dan keterampilan yang dia dapat di sekolah padaku lewat cerita, buku catatan, atau buku bacaan. Di dekat Kina aku tidak pernah merasa sedih dan sakit hati. Dia tidak pernah mengejek, merendahkan, atau sekadar iseng menjadikanku bahan candaan.

"Makan dahulu bubur ini, lalu minum obatnya biar demammu reda ya, Le. Nanti kalau sudah lebih enakan badannya, Simbok bantu kamu mencari Kina ya," ucap simbok seraya menyuapkan sesendok bubur ke mulutku.

Seketika semangatku bangkit. Iya, aku harus kuat. Jika orang lain saja sungguh-sungguh aku bantu, sekarang giliran Kina ada kesulitan, masak aku tidak berjuang?

Segera kuhabiskan bubur dan kuminum obat yang simbok berikan. Kurebahkan badan untuk melemaskan urat-urat yang tegang. Sambil terpejam, aku membayangkan Kina. Kulihat dia tersenyum riang membawa ember cucian. Langkahnya ringan menuju pemandian umum di dekat sawah Pakde Lim. Bukan hanya Kina yang suka mandi dan cuci di sana. Para ibu, bapak, anak muda, dan anak kecil juga sering memanfaatkan fasilitas di sana.

Biasanya aku ikut menemani jika Kina hendak mencuci di sana. Tapi, karena aku sakit, dari pagi tadi aku tidak bisa keluar rumah.

Bayangan keceriaan Kina dan pengaruh obat yang mulai bekerja, membuatku tenang hingga akhirnya aku tertidur. Sepertinya baru sekejap aku terlelap, tiba-tiba ragaku terasa dihentak. Aku terbangun dan mendapati degup jantungku bergemuruh tak beraturan. Aku gelagapan, terasa ada yang menghimpit dadaku, membuatku sesak. Aku menggigil hebat. Jemariku mengepal kuat. Mulutku ingin bersuara, tapi yang terdengar hanya racauan bunyi huruf vokal yang tak jelas. Aku ingin berlari ke tempat Kina, tapi jemari kakiku pun ikut kejang, sulit digerakkan.

Simbok datang menenangkanku. Tapi, aku tak bisa tenang. Sekuat tenaga aku coba beringsut ke arah dapur. Simbok membantu memapahku. Aku roboh di pintu dapur. Tanganku yang masih terkepal kejang berusaha menunjuk ke arah bungkusan gula aren. Aku terus menceracau, menunjuk, berusaha memberi tahu simbok.

Cukup lama untuk akhirnya simbok mengerti apa maksudku.

"Kina ada di pondok gula aren, Ras?" Tanya simbok yang langsung aku jawab dengan anggukan putus asa. Air mata semakin deras mengalir seiring lolongan tangisku yang tak bisa dikendalikan.

Simbok meninggalkanku sendiri di pintu dapur. Beliau bergegas ke luar rumah dan berteriak pada para tetangga, menyampaikan informasi dariku. Ramai kudengar suara derap kaki dan obrolan yang semakin menjauh meninggalkan rumah. Hatiku menjerit. Teramat ingin aku ikut menjemput Kina ke pondok gula aren, tempat di mana dulu sebagian warga di kampungku menjadi buruh membuat gula aren, termasuk simbok. Namun, kelebat bayangan yang tadi hadir dalam mimpi, membuatku semakin terpuruk tak berdaya.

Kuharap bayangan tadi hanya mimpi buruk. Kepalaku terus kugeleng-gelengkan, berharap bayangan itu enyah dari pikiranku. Namun, lengkingan tangis dan suara ribut yang terdengar di luar rumah, membuatku hilang harapan. Kalimat istirja yang terdengar dari pengeras suara di masjid, membuat tantrumku semakin menjadi. Kuantuk-antukan kepala dengan keras ke tiang dapur, membuat luka di keningku. Darah menetes satu per satu. Tapi aku tak peduli. Luka di hatiku terasa lebih pedih. Jika menyakiti tubuhku seperti ini bisa menjadi jalanku bertemu kembali dengan Kina, aku takkan berhenti mengantukkan kepalaku ke tiang.

"Sudah, Le. Jangan kausakiti dirimu. Kau harus kuat. Kina pasti tidak suka melihat kamu seperti ini. Kina pasti ingin kamu hadir mengantarnya ke peristirahatan terakhirnya. Ikhlaskan kepergian Kina ya, Le. Berikan dia banyak doa. Jangan sampai Kina merasa lebih sedih melihatmu seperti ini,” isak ibu menenangkan aku.

Perlahan tantrumku mereda. Meski kejang di jemari kaki dan tanganku masih terasa, tapi sudah agak mendingan. Aku mulai bisa menggerakkan badan lebih leluasa. Simbok membersihkan dan mengobati luka di dahiku. Dalam diam, air mata terus mengalir dari mataku. Aku menyiapkan diri untuk memberikan informasi selanjutnya yang pasti akan membuat simbok dan semua orang syok. Informasi yang kudapat dari mimpi tadi, yang sudah lebih dahulu membuat aku tantrum.

Kutarik selembar baju yang tergantung di paku. Kuberikan pada simbok. Dengan bahasa insyarat dan ceracauku yang gemetar, aku berusaha memberi tahu.

“Jangan bilang kalau pelakunya adalah Mas Af. Jangan…,” simbok tak kuasa meneruskan ucapannya saat dengan yakin aku anggukan kepalaku. Jemariku menunjuk ke arah Bukit Mahoni yang tampak berkabut sore itu. Aku minta dipapah oleh simbok menuju ke sana. Akan kubalas kesakitan Kina dengan tanganku sendiri. Perudapaksa dan pembunuh sahabatku tidak boleh lolos. Dia harus menerima balasan setimpal, oleh tanganku sendiri. Meski dia adalah abang kandungku yang sudah dua tahun ini mengalami gangguan kejiwaan sejak ditinggal menikah oleh gadis pujaannya.

“Mas Af, takkan kumaafkan dirimu…” Tekadku bulat, seraya menggenggam erat sebilah pisau lipat.

Sukabumi, 7 Januari 2026

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post