Perantara Kebaikan
Perantara Kebaikan
Hidayah itu harus dicari dengan kesungguhan, bukan hanya dinanti tanpa usaha yang jelas. Allah sudah berfirman dalam Surah Ar-Ra'd ayat 11 yang artinya "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia."
Ayat ini menekankan adanya hubungan kuat antara usaha manusia (ikhtiar) dan kehendak Allah (qadar) dalam menentukan nasib. Ini berarti perubahan positif harus dimulai dari dalam diri kita sendiri dahulu, seperti memperbaiki mental, akhlak, dan tindakan, agar Allah memberikan perubahan yang baik pula sebagai balasannya.
Tapi, dalam hidup terkadang anomali terjadi. Seperti yang pernah saya alami berhubungan dengan hidayah untuk melaksanakan salat wajib. Saya masih SD kelas 5 waktu itu. Sepulang sekolah, sambil menunggu mamah pulang dari suatu acara, saya asyik main sendiri di halaman depan. Tak lama terdengar pintu gerbang dibuka. Saya pikir mamah yang datang. Ternyata ibu tetangga depan rumah yang masuk. Dengan ramah ibu mengucap salam dan menghampiri saya. Dia menanyakan apa yang sedang saya lakukan dan apakah saya sudah makan siang.
Kedua pertanyaan itu saya anggap biasa, sebagai bentuk perhatian ibu tetangga yang memang selalu ramah pada semua orang. Tapi, pertanyaan beliau berikutnyalah yang membuat saya terhenyak dan menjadi titik balik perubahan dalam hidup saya.
"Teteh udah salat zuhur?"
Sependek itu pertanyaannya. Tapi, begitu membekas di hati dan benak saya. Jujur saja, waktu itu saya belum begitu teratur mengerjakan salat wajib. Masih sering harus diingatkan berulang kali oleh mamah dan bapak. Bahkan kadang harus diceramahi dahulu baru saya mau bergerak mengerjakan salat.
Tapi, begitu mendengar pertanyaan ibu tetangga tadi, ada getaran halus namun mengalirkan energi luar biasa yang memantik kesadaran diri saya. Badan saya langsung terhentak bangkit. Saya tersenyum seraya menjawab pertanyaan ibu tetangga. Setelah itu saya pamit masuk ke dalam rumah lalu bergegas wudu dan menunaikan salat.
Sejak itulah saya mulai disiplin salat. Tanpa harus banyak diingatkan, disuruh, dipaksa, apalagi dimarahi terlebih dahulu. Semudah dan sesederhana itu Allah mengantarkan hidayah kepada saya lewat perantara ibu tetangga dengan lisannya yang halus. Masyaallah, berkah selalu untuk ibu ya, seperti bunyi sebuah hadis: "Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya" (HR. Muslim).
Betapa beruntungnya menjadi seorang perantara kebaikan ya. Sahabat, selaras dengan semangat menyambut tahun baru 2026 ini, yuk kita sama-sama selipkan satu resolusi untuk terus memaksakan diri berbuat baik dalam setiap kesempatan. Karena kita tidak tahu, di detik yang mana dan pada hati yang mana kelak kebaikan kita akan menjadi jalan hidayah untuk orang lain.
Sukabumi, 1 Januari 2026
(48 hari menuju Ramadan)
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
