Senja yang Lebam dan Kenang Hujan yang Koyak
Senja yang Lebam dan Kenang Hujan yang Koyak
Ketika senja dan hujan bersua, mengantarkan aku dan kamu menjadi kita. Penuh gairah, tapi tetap tahu arah. Hingga di satu titik, senja pula yang melemparkanku ke jurang sesal yang mencabik harga diri dalam sunyi yang bungkam.
---
Latihan sudah usai 30 menit yang lalu. Aku masih terdiam di teras koridor kelas yang mulai senyap. Hampir semua teman sudah pulang. Aku tadi mandi dulu sebentar karena di tengah latihan tamu bulananku menderas. Aku merasa tidak nyaman jika memaksakan pulang dalam kondisi badan kurang bersih.
Ditemani lirik manis Teruntuk Mia, mataku nanar memandang derai hujan yang menjegal langkahku pulang. Aku tak bawa payung. Jas hujan juga aku tak punya. Sementara akses masuk gang ke rumahku hanya bisa dilalui dengan jalan kaki atau motor. Aku malas pulang naik ojeg jika harus memakai jas hujan milik tukang ojeg. Kurang nyaman saja rasanya. Sambil menghangatkan jemari di dalam saku jaket, aku termenung menghidu aroma hujan.
"Belum pulang, Nay?" Suara sapaan mengagetkanku.
"Eh, belum, Kak. Nunggu hujan berhenti," jawabku agak gugup ketika tahu siapa yang menyapa.
"Kakak temani, boleh?" Tanya Kak Fey yang membuatku gelagapan. Gugup karena sapaan pertama tadi saja masih belum hilang. Ini ditambah permintaan kedua yang sungguh membuatku salah tingkah.
"Kak Fey tahu namaku? Dan sekarang dia mau duduk di dekatku? Berkah hujan kah ini?" Batinku bertanya-tanya.
"Kok bengong? Boleh ga nih Kakak duduk nemenin kamu?" Aku hanya sanggup menganggukkan kepala seraya menggeser badan dengan canggung untuk menyilakan pelatih ekskul bela diri tenaga dalam itu duduk di sampingku.
Menit-menit berikutnya aku terbuai dalam bincang hangat nan akrab dengan salah satu makhluk Tuhan yang selama 3 bulan ini telah mengisi riuh obrolan sebagian murid di sekolahku, SMA 12.
Kak Fey, dia alumnus lulusan 5 tahun lalu yang datang kembali ke almamater menawarkan satu opsi ekskul menarik yaitu bela diri tenaga dalam. Badan yang tegap, dengan kulit putih yang mulus, ditambah wajahnya yang rupawan, serta suara bas-nya yang kharismatik, mampu menyedot atensi banyak murid untuk ikut gabung latihan. Tentu saja sebagian besar murid perempuan. Aku tahu kebanyakan dari mereka bukan niat semata ingin belajar bela diri. Tapi, hanya demi melihat sang pelatih. Dan aku termasuk salah satu yang juga datang dengan motif itu.
Namun, aku tidak seagresif teman yang lain. Mereka kentara sekali mencari perhatian di depan Kak Fey. Menyapa dengan suara genit, mengajak ngobrol dengan ekspresif, meminta diajari jurus berulang-ulang kali, atau sengaja membawakan makanan dan minuman kesukaan Kak Fey. Aku, mendekat saja tak berani. Barisan belakang selalu aku pilih di setiap sesi latihan dua kali seminggu itu, setiap Rabu dan Minggu. Kak Fey juga tak pernah menyapa atau mendekat padaku. Makanya tadi aku terkejut ketika Kak Fey tahu namaku.
"Hujan sudah reda. Pulang, yuk? Kak Fey antar kamu sampai rumah."
"Eh, ga usah, Kak. Aku pulang sendiri aja."
"Dah, jangan nolak. Kita searah kan pulangnya? Ayo, sebelum hujan turun lagi. Di sebelah sana masih terlihat mendung." Dengan lembut, punggungku didorong oleh jari telunjuknya untuk segera beranjak meninggalkan koridor. Aku seperti terhipnotis, ringan saja berjalan menuju parkiran.
Sejuk udara selepas hujan sore itu kuhirup dalam-dalam. Aroma khas aspal, daun, rumput, dan tanah yang terkena guyuran air hujan berpadu dengan wangi parfum Kak Fey, bergumul di benakku. Hangat. Tenang. Saking damainya, aku sampai tidak sadar jika motor Kak Fey sudah hampir sampai di depan rumahku.
"Lho, kok Kak Fey tahu rumahku ya?" Tetiba aku jengah sendiri.
"Kak Fey kan baca alamat rumah kamu di catatan biodata anggota klub kita, Nay," ucap lelaki bermata elang itu seakan tahu keterkejutanku.
"Makanya kalau dibonceng orang itu sambil ngobrol lah sesekali. Jangan asyik curi-curi pandang ke driver-nya lewat kaca spion sambil senyum-senyum sendiri." Ya Tuhan, harus ke mana kusembunyikan mukaku yang merona merah menahan malu ini? Aku cemberut sambil memalingkan wajah ke arah lain. Tak sanggup menyimak senyuman jail dari wajah yang sering kuambil fotonya diam-diam ketika sedang jeda istirahat latihan itu.
"Untuk jadwal hari Minggu nanti, kamu tunggu saja di gang depan ya. Kak Fey jemput." Belum sempat aku menjawab, tubuh tegap mahasiswa semester akhir itu sudah keburu berlalu. Meninggalkan sepotong senja terindah dalam kenangku.
Sejak hari ini, aku jadi rajin mengabadikan kepingan-kepingan unik senja yang kulalui bersama Kak Fey. Ada senja di kursi taman. Duduk-duduk saja kami menikmati segelas es campur dan sepiring batagor. Sambil asyik menyimak keriaan orang-orang dengan aneka motifnya datang ke taman kota yang lumayan lengkap fasilitasnya itu. Ada ayunan, perosotan, dan jungkat-jungkit untuk anak-anak. Ada lapangan basket, voli, dan bulutangkis untuk pengunjung remaja. Serta lintasan jalan atau lari untuk orang dewasa. Sementara untuk mereka yang hanya ingin santai melepas lelah, ada banyak kios yang menawarkan aneka makanan dan minuman serta tempat yang nyaman dan estetik untuk berlama-lama ngobrol.
Senja yang lain kami rekam di pinggir sawah yang terbentang luas di belakang sekolah. Sambil memainkan tali pengikat orang-orangan sawah, tawa kami menguar setiap kali kumpulan burung yang asyik mematuk bulir padi itu terkejut dan langsung berhamburan terbang ketika kami usir dengan gerakan orang-orangan sawah tadi.
Galeri ponselku juga penuh menyimpan kenangan senja di pantai, sungai, kafe, atau alun-alun kota. Tapi, ada satu kolase foto senja yang membuatku teramat ingin menghentikan waktu sekejap saja. Supaya aku bisa kembali ke masa lalu ‘tuk menghapus jejak dan merobek lembar-lembar kisah pertemuanku dengan Fey, serigala berbulu domba yang menjadikanku santapan empuk segala bujuk rayu atas nama rasa terindah. Padahal nyatanya sekadar meluapkan sampah yang mengotori jiwa bejatnya.
Selepas memotret senja di balkon rumahnya yang dengan jelas menampakkan keindahan setiap sudut desa, ragaku terkunci di tempat paling privat di kamarnya yang sunyi sepi. Menorehkan sejarah kelam yang merenggut mahkotaku. Air mata tumpah. Pedih koyak luka menggulung segala sesal yang datang terlambat. Tapi, segala kata tercekat di ujung lidah. Janji-janji manisnya meredam kemarahan dan ketakutanku.
“Aku akan bertanggungjawab. Setelah aku lulus kuliah, kita akan bersama selamanya.” Dan aku percaya begitu saja. Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, aku jatuh dalam segala jerat lisannya yang memabukkan.
Sejenak aku hilang arah. Tatapku pada sekeliling menjadi lebih awas. Setiap bisikan dan kerlingan mata, terasa seakan menelanjangi kesucianku yang telah ternoda. Aku mudah curiga. Semudah gugup yang memicu tremor yang tiba-tiba saja makin intens menyergapku. Perlahan aku menarik diri dari keramaian. Hingga sempat terpikir untuk menghindar juga dari Sang Pemilik raga. Aku gamang setiap kali selesai wudu. Aku ulangi lagi dan lagi membasuh tangan, berkumur, mengisap air ke hidung hingga aku tersedak hebat. Sampai aku merasa setiap kali membasuh muka, aku selalu berpikir percuma. Sebanyak apa pun air yang kuguyurkan, aku tak akan pernah suci lagi. Apalagi ketika mukena kupakai dan kedua tangan terangkat. Takbiratulihram itu sedemikian berat aku ucapkan. Tanganku kembali terkulai lemas. Aku meluruh, tak sanggup memulai kembali menegakkan tiang-tiang penopang agamaku.
Kupendam semua kekacauan batin ini sendiri. Kupikir bisa cukup tabah menunggu hingga aku dan Fey lulus. Lalu, dia datang menepati janjinya menikahiku. Tapi, entah apa yang meracuni pikirannya. Makin sering aku mengingatkan akan janjinya, makin temperamennya berubah. Kata-katanya tak lagi ramah. Kunjungannya semakin sulit diharapkan. Lalu, tiba-tiba saja dia mengancam akan menyebarkan beberapa foto intim yang selama ini terpaksa aku kirimkan padanya. Aku terpasung dilema. Pikiranku buntu. Ragaku semakin layu.
Di ambang batas kewarasan, aku tumbang. Tak kuasa lagi menahan badai yang teramat kejam menghajar ringkihku. Namun, jatuhku justru menjadi awal terciumnya busuk seorang Fey. Data di ponselku menguak semuanya. Yang menimbukan efek domino yang tak pernah kuduga. Ternyata aku bukan satu-satunya korban monster kegelapan yang selama ini berkamuflase di balik topeng lelaki bening. Meski tak kuat menahan rasa malu, kecewa, benci, dan amarah, semua korban akhirnya angkat bicara, menyeret Fey pada kerangkeng besi, tempatnya menebus segala dosa.
---
Hujan kembali rapat menyapa senja. Seakan tahu jika aku teramat ingin sesering mungkin membersihkan diri. Meski lebam di senjaku entah kapan akan sembuh dan hujan di kenangku telah begitu koyak. Pintaku akan pengampuan diri takkan pernah lelah aku semai.
Sukabum, 16 Januari 2026
(Sore di Sukabumiku yang mulai disapa hangat mentari setelah seharian tadi dicumbu mendung dan gerimis)
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
