Nopiranti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Taman para Zombi
Pngtree

Taman para Zombi

Taman para Zombi

Sudah lama sebetulnya Teh Manis mendengar desas-desus keberadaan taman itu. Tapi, dia menanggapinya sambil lalu saja. Boro-boro terpikir untuk santai di taman. Yang ada setiap hari dia harus ekstra berjibaku dengan waktu untuk bisa belanja secepat dan selengkap mungkin. Supaya dia bisa dengan cepat juga menggelar dagangannya di lapak kecil di depan rumahnya yang sederhana. Sebelum tukang warung yang lain pulang dari pasar dan menggelar dagangannya juga. Meskipun Teh Manis tahu kalau rezeki itu sudah ditakar dan tak mungkin tertukar, tapi ikhtiar tetap harus maksimal. Siapa tahu makin cepat dia pulang dengan membawa belanjaan yang lengkap, makin cepat juga pelanggan datang. Walau untung yang didapat dari setiap item dagangan itu tidak besar, tapi kalau rutin disisihkan untuk ditabung, hasilnya sangat berarti untuk tambahan bekal sehari-hari.

Biaya pendidikan dan keseharian kedua anaknya sedang dalam masa yang sangat menguras isi dompet. Nafkah dari suaminya ada. Tapi, jauh dari cukup. Sedangkan mereka bukan pasangan yang komunikatif. Suaminya tipe cuek. Kalau sudah ngasih uang, ya sudah. Dia punyanya segitu, ya silakan Teh Manis urus secukup-cukupnya segitu. Dia memberi tidak berdasarkan hitungan kebutuhan. Sehari ngasih, berminggu-minggu kemudian Teh Manis kelimpungan mencari dana. Giliran Teh Manis bersuara menyampaikan keluh kesah dan kebingungannya mengatur nafkah sejumlah itu, bukannya ditanggapi baik-baik. Yang ada hanya lenguhan, bentakan, dan ceramah panjang lebar dengan nada sinis yang Teh Manis dapatkan. Masih untung suaminya tidak main tangan juga. Tidak seperti beberapa tetangganya yang kerap mendapatkan kekerasan fisik dari suami mereka.

Teh Manis sungguh merindukan ketenangan yang dulu dirasa pada tahun-tahun awal pernikahan. Ketika suaminya masih begitu bersemangat mencari nafkah sebagai buruh pabrik sepatu. Segala kebutuhan rumah tangga dipenuhi dengan baik, meski tidak berlebihan, apalagi bermewah-mewah. Tapi, itu sudah cukup buat Teh Manis. Waktu itu dia bisa tenang mengurus dua buah hati yang jarak lahirnya hanya selisih dua tahun. Dia betah merapikan rumah, memasak, dan menyempatkan diri melakukan hobinya menjahit, meski sekadar menggunakan jarum jahit biasa, bukan memakai mesin. Lumayanlah keisengannya itu bisa mewujud perintilan rumah yang unik. Seperti gorden, bantal kursi, taplak meja, hingga seprei. Di waktu libur kerja, suaminya sering menyempatkan untuk mengajak bermain. Naik kereta, jajan di pusat kuliner, atau sekadar berkeliling mall untuk cuci mata.

Tapi, keadaan berubah sejak suaminya kena PHK. Berulangkali dia melamar kerja ke berbagai perusahaan, hanya membuatnya semakin frustrasi menghadapi semua penolakan. Akhirnya dia banting setir menjadi tukang ojeg. Awalnya lancar-lancar saja, ojeg pengkolan masih belum banyak waktu itu. Tapi, ketika ojeg daring mulai banyak beroperasi, suami Teh Manis kena imbas juga. Pelanggannya mulai beralih, dan pemasukan hariannya mulai berkurang. Ternyata seretnya penumpang membuat semangat suami Teh Manis juga ikut melempem. Dia mulai sering uring-uringan, tak semangat berangkat mengojek, kurang responsif juga dengan segala tetek bengek urusan rumah tangga. Teh Manis semakin keteteran. Sudahlah sibuk mengurus rumah dan anak-anak, ditambah lagi harus keliling kampung menjajakan gorengan dan masakan milik orang lain.

Hasil jualan yang sebelumnya memang jauh dari cukup, sekarang lebih morat-marit. Mau tidak mau Teh Manis harus cari sumber pendapatan lain. Tanpa ragu, dia menjajakan jasa tenaganya pada para tetangga.

Sesekali ada yang memintanya mencuci dan menyetrika baju, atau beres-beres rumah. Di lain waktu Teh Manis siap saja jika diminta membantu di sawah atau di kebun. Momong bayi, mengurus lansia, atau membantu masak di acara hajatan juga gas saja Teh Manis jabani. Yang penting dia bisa dapat uang untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga.

Suatu hari anak bungsunya sakit. Dia tidak mungkin ditinggalkan sendiri di rumah. Selama beberapa hari Teh Manis hanya berdiam diri di rumah saja. Dia berpikir mungkin suaminya akan sedikit melunak sikapnya. Ternyata harapannya hanya angin kosong. Suaminya tetap berlalu nongkrong di pangkalan ojeg, untuk kemudian pulang malam tanpa membawa penghasilan. Yang ada Teh Manis tetap masih harus menyediakan kopi dan makanan untuknya.

Amarah Teh Manis membatu di palung hati. Tangis mengkristal di dasar benak. Tak ada waktu untuk mengeluh dan meratapi nasib. Toh perut lapar anak-anak dan dirinya takkan reda hanya dengan jejelan kata-kata motivasi. Teh Manis bangkit. Dia rogoh tabungan terbaik yang dia simpan dengan hati-hati di tempat tersembunyi. Bergegas dia berangkat ke pasar dan menjual beberapa gram emas yang dia beli dari hasil menyisihkan upah kerjanya selama ini. Dia pakai uang itu untuk membeli bahan-bahan membuat gorengan dan aneka camilan. Tekadnya sudah bulat, dia akan membuka lapak sederhana saja di depan rumahnya.

Dari sinilah Sang Pemilik semesta membukakan jalan lapang bagi Teh Manis. Berawal dari hanya menyediakan gorengan dan minuman instan, lalu ditambah jualan seblak, mi goreng, bakso, lotek atau karedok, dan bubur ayam. Modal sedikit ternyata bisa terus berkembang. Karena permintaan pelanggan, akhirnya Teh Manis mulai merambah ke usaha sembako. Rumah sempitnya jadi semakin sesak dengan etalase dagangan. Tapi, setidaknya hati dan pikirannya menjadi lebih lapang. Dompetnya tak pernah lagi sepi penghuni. Meski masih tetap harus mengencangkan ikat pinggang, Teh Manis sudah bisa sedikit bernapas lega untuk urusan sekolah kedua buah hatinya.

Tapi, lahir dan batin Teh Manis tak selamanya prima. Ada waktunya lelah teramat kejam mendera. Pejam matanya yang hanya beberapa jam saja dalam sehari, tak cukup menyuplai tenaga untuk tubuhnya yang harus selalu siap siaga. Belum lagi tabiat suaminya yang tak sedikit pun berubah. Malah semakin parah sejak dia mengenal aplikasi judi online. Mulai sering suaminya mengambil uang hasil dagangan. Jika tak dapat karena Teh Manis bertahan menyembunyikan uang-uang itu, dengan seenaknya dia ambil saja beberapa barang di rumah untuk dijual.

Musnah sudah kesabaran Teh Manis. Dia benar-benar terperas lahir dan batin, dan pagi itu puncak segala amarah itu meluap. Teh Manis meledak ketika dia temui suaminya nekad menjual motor dengan harga yang sangat murah. Teh Manis masih kuat bertahan ketika suaminya selama ini tidak pernah mau mengantar dirinya belanja ke pasar. Dia lebih memilih menggunakan jasa ojeg pengkolan yang lain saja. Tapi, kali ini suaminya sudah sangat keterlaluan. Motor itu satu-satunya harapan Teh Manis supaya suaminya masih tetap punya semangat bekerja, menjemput rezeki. Jika bukan untuk dirinya dan anak-anak, cukup sajalah uang hasil ngojeg itu untuk bertahan suaminya sendiri. Kalau sekarang motor itu dijual, akan seberat apa lagi kerja keras yang harus Teh Manis lakoni?

Runtuh pertahanan Teh Manis. Lunglai dia berangkat ke pasar. Raganya terombang-ambing di jok motor ojeg langganannya. Hatinya tercabik. Tapi, bibirnya rapat terkatup. Tak ada kata yang berani meloncat keluar. Semua keluh kesah sudah terbiasa diam, terkebiri di dasar hati. Air mata juga seolah menguap, kering tak bersisa. Teh Manis tampak seperti zombi. Raganya bergerak, tapi ruhnya entah di mana.

Pasar menyambutnya seperti biasa. Ramai, dengan perpaduan aneka warna dan aroma. Namun, ada yang berbeda. Sedetik, Teh Manis merasa seperti sedang memasuki sebuah taman. Gerbangnya yang terbuat dari sayuran hijau dan buah-buahan warna-warni, terbuka lebar seolah menyilakannya untuk masuk tanpa ragu. Lorong antarlapak yang biasanya penuh sesak dan becek, sekarang berubah menjadi hamparan rumput hijau sintetis. Membuat Teh Manis bersemangat untuk merasakan empuknya berjalan di atasnya. Para pedagang dan pembeli yang sehari-hari penuh teriakan dalam balut wangi tubuh yang beragam, sekarang menjelma manusia-manusia tenang yang berjalan anggun dan berbicara dengan penuh kelembutan. Pakaian mereka semua putih bersih. Senyum merekah lebar, mengurai ketegangan yang tadi begitu kuat menarik otot di kepala dan pundak Teh Manis.

“Selamat datang di Taman para Zombi. Akhirnya, kamu bisa mampir juga ke sini,” sebuah sapaan mengagetkan Teh Manis. Di sampingnya berdiri Ceu War, teman pedagang yang biasa bertemu di pasar.

“Aku juga baru bisa mampir hari ini. Hanya berbeda sekejap saja dari kamu. Ayo, kita bergabung dengan teman-teman kita yang lain. Di sana,” ajak Ceu War sembari menggamit lengan Teh Manis yang masih belum bisa menguasai keadaan.

Taman para Zombi? Ya, dia sering mendengar rumor itu. Diam-diam teman-temannya sering bergunjing tentang keberadaan taman ini. Dulu sekali ketika masih awal-awal Teh Manis datang ke pasar, sesekali ada yang iseng nyeletuk, entah itu pedagang atau sesama pembeli.

“Kalau udah ga kuat, mampir ajalah ke Taman Zombi. Tar juga kita baek lagi coba.” Segitu saja info yang Teh Manis dengar. Meski tebersit rasa penasaran, tapi Teh Manis merasa tak begitu berkepentingan. Namun, hari ini, siapa sangka dirinya sudah bisa berada di tempat yang tak pernah ada yang bisa atau mau menjelasakan secara detail di mana dan seperti apa penampakannya.

Teh Manis tak mau ambil pusing. Taman para Zombi yang tenang, membuatnya nyaman. Dia putuskan untuk bebas aja melepas segala kepenatan, barang sejenak. Di sini dia bisa berjumpa dengan kawan-kawan penjual yang dia tahu selama ini mempunyai kisah setali tiga uang dengan dirinya. Jika biasanya mereka bertemu dalam keadaan kusut dan tergesa-gesa, kali ini berbeda. Di taman ini mereka tidak beradu pilu. Mereka tetap menyimpan koyak mereka sendiri rapat-rapat. Sorot mata sayu dan kantung mata panda parah yang menampakkan jelas beban derita mereka selama ini, perlahan memudar. Wajah mereka berseri, tampak bertahun-tahun lebih muda dan segar. Mereka justru memilih untuk berbagi tawa, guyonan, rangkulan, atau sekadar saling menyuapkan secuil nasi dan makanan ringan yang tersaji melimpah di hadapan mereka.

Di antara langit biru cerah yang menaungi mereka leyeh-leyeh di atas karpet hijau sintetis yang empuk, ditemani dersik lembut yang menguarkan wangi segar sayuran dan buah-buahan, serta dininabobokan oleh suara-suara lembut nan ramah yang bercerita hanya tentang kegembiraan dan rasa syukur, Teh Manis seperti menemukan tempat me-recharge energi yang hampir 0% sejak tadi dia berangkat dari rumah. Perlahan tubuhnya rebah tanpa perlawanan. Dia meluruh, santai, tenang, lelap tertidur.

Sepercik air menyentuh wajah Teh Manis. Membuat matanya mengerjap-ngerjap. Tapi, rasa kantuk belum mau mengalah. Dia masih ingin berlama-lama menikmati ketenangan ini. Namun, percikan air semakin rapat menghujani wajahnya. Teh Manis tak bisa lagi mengelak. Perlahan dibukanya kedua mata. Sinar terang menebos tatapnya yang remang-remang. Suara-suara lembut nan tenang yang tadi menemaninya, berubah menjadi gemuruh obrolan yang tak jelas apa temanya.

“Nah, udah sadar dia. Syukurlah,” ujar suara cempreng yang terdengar di telinga kirinya.

“Ayo, bangun, Teh. Kamu kuat, kamu bisa. Ayo, kita berjuang lagi sama-sama, Teh.” Giliran suara lembut yang sekarang mampir di telinga kanannya.

Teh Manis membangun kembali kesadarannya hingga utuh. Kiri-kanannya sekarang kembali seperti biasanya, pemandangan pasar yang hiruk pikuk. Dia rebah di atas dipan kayu milik Pak Har, pemilik kios beras. Oh ya, sekarang dia ingat. Tadi pagi setelah turun dari ojeg, Teh Manis melangkah tanpa arah. Kepalanya terasa berat, dadanya bergemuruh, tangan dan kakinya gemetar, keringat dingin terasa membasahi dahinya. Sepintas dia mendengar namanya dipanggil, tepat di depan kios beras Pak Har. Setelah itu Teh Manis tak ingat apa-apa lagi, sebelum kemudian dia memasuki Taman Zombi itu.

“Kamu tadi pingsan, Teh. Cukup lama kamu tak sadarkan diri. Sampai bingung dan khawatir kami semua melihatnya,” ucap Pak Har seperti memahami kebingungan Teh Manis.

“Iya, Pak. Terima kasih banyak sudah membantu saya. Maaf jika saya sudah merepotkan,” jawab Teh Manis masih dengan suara lemah. Pelan-pelan dia bangkit, lalu duduk seraya menyenderkan badan ke tembok kios.

“Minum dulu, Teh. Biar tenagamu pulih lagi. Meskipun Ibu tahu kamu sudah mendapatkan tambahan cadangan energi di Taman Zombi tadi, ‘kan?” ujar Bu Har yang membuat Teh Manis kaget. Dia tersenyum kemudian duduk di samping Teh Manis.

“Menurut Ibu, Taman Zombi itu kurang cocok. Lebih tepat kalau namanya Taman para Bidadari. Bidadari dunia yang kelak semoga menjadi bidadari di surga yang abdi dengan kesenangan dan kebahagiaan sebagai balasan atas semua jerih payah kita berletih-letih di dunia ini,” bisik Bu Har yang semakin membuat Teh Manis terkaget-kaget.

“Ibu juga pernah ke taman itu, Teh. Tetap semangat ya. Kamu tidak sendiri. Banyak yang peduli dan sayang sama kamu. Terlebih, ada Allah yang pasti Mahatahu semua yang terbaik untuk kita,” lanjut Bu Har seraya mengelus-elus punggung tangan Teh Manis yang dingin. Perlahan kehangatan menjalar, keyakinan tumbuh pelan-pelan, semangat berdetak lagi, seulas senyum terbit kembali di wajah Teh Manis yang mulai merona, tak pucat lagi.

“Iya, Taman para Bidadari rasanya memang jauh lebih cocok. Meskipun Taman para Zombi juga benar adanya. Zombi yang di-make over menjadi bidadari ya, Ibu.” Tawa renyah Teh Manis dan Bu Har menguar seiring matahari yang semakin hangat, membuka hari baru yang penuh semangat.

Sukabumi, 11 Januari 2026

(38 hari menuju Ramadan)

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post