1000 - 1 0
Rahman
*****
A Remixed Essay Inspired by Buya Arifin’s Wisdom
Manusia sering kali terjebak dalam matematika dunia yang keliru: karena satu kesalahan, seribu kebaikan seolah lenyap tanpa sisa. Kita begitu cepat menghapus jejak perjuangan, ketulusan, dan pengorbanan seseorang hanya karena satu momen ketika ia tergelincir. Padahal, jika kita bersedia memandang dengan mata kasih sayang dan kedewasaan spiritual, kita akan sadar bahwa 1000 dikurangi 1 tidak pernah menjadi 0.
Tidak ada seorang pun di bumi ini yang kebal dari kesalahan. Hari ini seseorang berada di atas jalan yang lurus, esok bisa saja ia tersandung oleh rasa lelah, emosi, atau ketidaktahuan. Namun, Buya Arifin selalu mengingatkan kita untuk tidak melihat manusia dari titik jatuhnya, melainkan dari seluruh perjalanan hidupnya secara utuh.
Tujuan dari mengingatkan sesama bukanlah untuk menunjukkan siapa yang paling benar atau memuaskan keinginan untuk menghakimi. Nasihat terbaik adalah nasihat yang lahir dari kepedulian, yang tidak melukai, tidak merendahkan, dan memberikan ruang bagi jiwa untuk bertumbuh. Ketika manusia memberi vonis, Allah justru meluaskan pintu ampunan. Jika manusia sanggup menghapus seribu kebaikan hanya karena satu celah, kasih sayang Tuhan justru mampu merawat seribu kebaikan di balik satu ujian yang kasat mata.
Mengapa kita harus takut berbuat salah hingga memilih untuk diam tak melakukan apa-apa? Keberanian untuk melangkah, berbuat, dan bahkan belajar dari kegagalan jauh lebih mulia daripada hidup pasif demi rasa aman yang semu. Kemuliaan hidup tidak diukur dari seberapa bersih kita dari kesalahan, melainkan dari seberapa besar kerendahan hati kita untuk bangkit, memperbaiki diri, dan melihat kebaikan dalam setiap insan.
Naskah Dialog: " Di Balik Satu Keburukan, Ada Seribu Kebaikan ".
Suasana teras rumah kayu yang tenang. Suara angin berembus perlahan. Abdi duduk tersandar dengan wajah muram, memegang keningnya.
Abdi dengan nada frustrasi dan penuh kekesalan, " Buya... aku benar-benar hancur hari ini. Pekerjaan impian yang sudah aku persiapkan bertulan-bulan melayang begitu saja cuma gara-gara aku terlambat lima menit sampai di lokasi wawancara! Kenapa hal seburuk ini harus terjadi padaku ?".
Buya Arifin tersenyum lembut, menyeduh teh hangat lalu menyodorkannya pada Abdi,
" Tenangkan hatimu dulu, Abdi. Tarik napas dalam-dalam. Jangan cepat-cepat menyimpulkan bahwa apa yang terjadi hari ini adalah sebuah kemalangan. Kita tidak pernah tahu kebaikan apa yang sedang disiapkan Tuhan di balik tirai takdir-Nya ".
Abdi menghela napas berat, menatap Buya, " Tetapi Buya... ini gaji besar dan posisi yang sangat bagus! Bagaimana mungkin ada sisi baik dari sebuah keterlambatan yang merusak segalanya ? Di mana kebaikannya ?".
Buya Arifin.menatap Abdi dengan tatapan mata yang sejuk dan penuh kedalaman,
" Abdi, bukankah kita sering lupa pada rumus kehidupan ? Manusia kerap menghapus seribu kebaikan hanya karena satu kesalahan kecil. Tetapi Tuhan tidak begitu. Di balik satu peristiwa yang menurut matamu buruk, sering kali ada seribu kebaikan, perlindungan, dan kasih sayang yang belum sanggup dijangkau oleh pikiranmu ".
Abdi menunduk, tersenyum sumbang, " Maafkan aku, Buya... tapi kalimat itu rasanya cuma penawar duka sementara untuk orang yang sedang sial...".
Buya Arifin tersenyum tenang tanpa sedikit pun tersinggung," Coba pegang ponselmu, Abdi. Buka berita utama hari ini ".
Abdi mengernyitkan dahi, bingung namun tetap membuka ponselnya. Seketika matanya membelalak, jemarinya gemetar,
" Tunggu... ini... gedung perkantoran tempatku wawancara tadi... mengalami kebakaran hebat di lantai sepuluh... tepat jam sepuluh pagi ?!".
Buya Arifin fengan suara pelan dan lembut, " Jam berapa seharusnya wawancaramu dimulai, Abdi ?".
Abdi suaranya menyusut, terbata-bata, " Jam sepuluh... Tepat saat kebakaran itu terjadi...".
Buya Arifin meraih pundak Abdi dengan hangat, " Bayangkan, Abdi... Jika saja kamu tidak terlambat lima menit, kamu mungkin sudah berada di dalam ruangan itu. Keterlambatan yang tadi kamu maki dan kamu anggap sebagai keburukan, nyatanya adalah cara Tuhan untuk menyelamatkan nyawamu ".
Abdi tertegun panjang. Air matanya menetes pelan, dadanya bergemuruh oleh rasa haru dan penyesalan, " Ya Allah... aku... aku hampir tidak percaya, Buya. Aku tadi begitu penuh prasangka dan menyalahkan keadaan, padahal Tuhan sedang melindungi hidupku..."
Buya Arifin mengangguk penuh kasih, " Itulah keterbatasan mata dan hati kita, Abdi. Kita begitu mudah panik karena hanya melihat satu titik hitam di atas kertas putih yang luas. Padahal, kertas itu dipenuhi ribuan kebaikan yang belum sempat kita baca. Maka dari itu, belajarlah untuk selalu melihat kebaikan pada siapa pun dan dalam situasi apa pun. Karena di balik satu kekeliruan atau keburukan yang kita ketahui, selalu ada ribuan kebaikan dan rencana indah yang tak kita sadari ".
Salam Literally Pariaman,1/8/26.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
