Cuma Omongan
Cuma Omongan
Rahman
*******
Ngomongin soal korupsi di Indonesia tuh rasanya kayak nonton sinetron yang episodenya enggak kelar-kelar. Gemes, kesel, tetapi ujung-ujungnya cuma bisa elus dada.
Bagi sebagian orang, korupsi itu istilah kerennya extraordinary crime alias kejahatan luar biasa. Efek dominonya enggak main-main yang bikin ekonomi seret, rakyat susah, dan jurang antara yang kaya sama yang miskin makin jomplang. Biar negara kita enggak game over, korupsi ini emang kudu dibabat habis sampai ke akarnya, mulai dari bikin sistem digital biar enggak bisa disogok, sampai miskinin koruptor lewat undang-undang perampasan aset.
Nah, kalau ngomongin sosok yang paling berani dan hobi nge-skakmat para koruptor, kita enggak boleh lupa sama Presiden ke-4 kita, KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Sejak awal memimpin di era reformasi tahun 1999, Gus Dur udah gerah banget sama korupsi warisan zaman dulu yang udah mendarah daging. Makanya, beliau langsung sat-set bikin tim khusus buat ngebongkar kasus korupsi, yang jadi cikal bakal lahirnya KPK yang kita kenal sekarang.
Gus Dur tuh terkenal banget sama gaya bicaranya yang santai, humoris, tapi kalau udah nyindir, damage-nya kelar hidup lo !.
Ingat enggak waktu beliau diwawancarai Andy F. Noya di acara Kick Andy tahun 2007 ? Waktu itu Andy nanya soal keputusan nekat Gus Dur yang membubarkan Departemen Penerangan dan Departemen Sosial.
" Gus, kenapa sih sampai harus membubarkan Departemen Penerangan sama Departemen Sosial ?", tanya Andy.
" Ya, persisnya karena departemen itu mestinya mengayomi rakyat, tetapi ternyata korupsinya gede-gedean ! Sampai hari ini lagi !", jawab Gus Dur sambil tersenyum santai.
" Tetapi Gus, kalau mau membunuh tikus, kan enggak perlu sampai membakar seluruh lumbungnya ?", tanya Andy.
" Masalahnya, tikusnya sudah menguasai lumbung !", jawab Gus Dur lansung skakmat.
Enggak cuma itu. Ada lagi momen epik pas Hari Korupsi Internasional. Waktu itu, para wartawan lagi ngerubungin Gus Dur buat nanya soal nasib korupsi di negeri ini.
" Gus, kenapa ya korupsi di Indonesia ini seolah-olah udah mendarah daging dan menjadi budaya ?", tanya Wartawan.
" Ah, budaya gimana ? Zaman sekarang korupsi relatif bisa dipantau dibanding era-era sebelumnya ", jawab Gus Dur.
" Emang bedanya korupsi zaman sekarang sama zaman dulu apa, Gus ?", tanya Wartawan lainnya dengan penasaran.
" Gini... Di zaman Orde Lama, orang korupsi di bawah meja. Pas masuk zaman Orde Baru, korupsinya naik ke atas meja. Nah, di zaman Reformasi sekarang ? Mejanya sekalian dikorupsi !", jawab Gus Dur sambil terkekeh-kekeh.
Nyesek tetapi kocak, kan ? Gus Dur tuh paham banget sama paradoks di Indonesia. Beliau gemes banget melihat para elit politik yang hobi pamer dan bangga-banggain kalau demokrasi di Indonesia udah berjalan dengan baik. Padahal, di balik layar, praktik korupsi malah makin merajalela.
Melihat kelakuan para elit itu, Gus Dur dengan berani langsung nge-gas, " Begitu kok ngaku kalau demokrasi mulai berjalan di Indonesia ? Ini omongan goblok !"
Bagi Gus Dur, ngaku-ngaku jadi negara demokrasi tetapi hukumnya masih tumpul ke atas dan tajam ke bawah itu adalah kebohongan publik yang hakiki. Esensi demokrasi itu baru ada kalau hukumnya tegak tanpa pandang bulu. Mau dia pejabat, anak jenderal, atau konglomerat, kalau salah ya harus disikat.
Tanpa penegakan hukum yang adil, semua obrolan soal kebebasan dan kesejahteraan rakyat itu cuma gimmick politik doang.
Kalimat penutup dari Gus Dur ini pas banget buat nampar realitas sampai sekarang, " Selama koruptor masih bebas bergerak, demokrasi di Indonesia itu cuma omongan !".
Salam Literasi Pariaman, 3/8/2026.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
