Nungky SJ

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Fatimah Az-Zahra

Fatimah Az-Zahra

Fatimah Az-Zahra

*****

Gengs, udah gak jaman lagi cewek terjebak di Cinderella Complex yang cuma pasrah nunggu * Pangeran * atau pihak luar buat nyelamatin hidup mereka. Dari sejarah Yunani-Romawi sampai gerakan feminisme modern, cewek terbukti bukan sekadar Objek Pasif, tetapi Game-Changer peradaban! Islam sendiri udah nge-frame cewek sebagai mitra sejajar yang punya Intellectual Power dan taring kepemimpinan. Jadi, klise kalau cewek itu harus diam, rapuh, dan manut.

Liat aja aksi epic Fatimah Azzahra, Wakil Ketua BEM UI sekaligus calon dokter. Dia dobrak menara gading akademis yang steril demi membela keadilan sosial. Need for achievement-nya tinggi, logis, patriotik, dan berani kotor-kotoran di jalanan buat sikat koruptor demi kesejahteraan rakyat !.

# Mini Screenplay: Viva La Verdad di Bundaran HI #

Di bundaran Hotel Indonesia Jakarta, atmosphere: Panas, riuh, flare merah mengepul, dan sirene aparat menggema.

Silmy napas terengah-engah, megang Megafon, " Fatimah, barikade di depan tebel banget! Kita cewek, emang beneran bisa ngubah keadaan? Gue takut kita cuma terjebak stigma kalau cewek itu lemah dan butuh diselamatin kaya cerita dongeng ".

Fatimah menatap lurus barikade, matanya menyala, " Silmy, drop that Cinderella Complex mental right now! Stigma kalau cewek harus diam dan nunggu * Pangeran * itu cuma Ilusi Patriarki biar suara kita dibungkam tirani. Kita bukan putri pasif di dalam istana, Silmy. We are the ones who write history !".

Boy mengepalkan tangan ke udara, energy meluap, " Facts! Suara kita di jalanan ini bukan sekadar aksesoris. Liat para elite di sana, tidur nyenyak di atas penderitaan rakyat, numpuk kekayaan dari uang korupsi yang ngerogoh perut rakyat kecil !".

Junaidi memperbaiki posisi almamater, " Ketidakadilan ini udah parah banget! Hukum cuma tajam ke bawah, tumpul ke atas. Uang rakyat dirampok, kesejahteraan digusur. Gak ada pilihan lain: We Fight The Corruptors, Zero Tolerance !".

Suasana memanas. Barikade barisan depan merapat. Seorang Komandan Aparat maju pakai pengeras suara, " Mundur kalian! Jangan coba-coba terobos barikade! Bubarkan barisan atau kami tindak tegas !"

Fatimah maju satu langkah, berdiri paling depan tanpa gemetar, " Buka jalannya! Kita gak bakal mundur cuma gara-gara ancaman! Gue berdiri di paling depan bukan cuma demi ego, tetapi karena keselamatan dan nyawa temen-temen gue jauh lebih berharga daripada kekuasaan semu yang kalian jaga !".

Silmy keraguannya sirna total, berteriak mendampingi Fatimah, " Fatimah benar! Kalau mereka takut sama kebenaran, kita yang bakal teriakin kebenaran itu sampai telinga mereka pekak !".

Fatimah mengangkat tangan, menyerukan komando, " Hari ini bukan cuma soal menang atau kalah di jalanan! Dalam catatan sejarah, kita udah menang karena berdiri di barisan kebenaran. Bersihkan negara dari koruptor, tegakkan keadilan, dan kembalikan kesejahteraan buat seluruh rakyat Indonesia !".

Aksi Fatimah ini jadi tamparan keras sekaligus inspirasi buat orang tua, pendidik, dan calon pemimpin masa depan: saatnya cetak generasi perempuan independen yang berani bersuara, berdiri di atas kaki sendiri, dan gak takut buat mendobrak ketidakadilan.

Salam Literasi Pariaman, 22/8/26.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post