Asing
Asing
Rahman
*****
# Kebenaran di Era Algorithm & Echo Chamber #
Di dunia yang serba *Fast-Forward ini, kebenaran kadang kerasa kayak cermin yang retak. Dari kacamata Sains, ia adalah data dan bukti empiris. Dari Filsafat, ia logika dan pragmatisme. Dari Sosial-Budaya, ia cuma kesepakatan kolektif.
Tetapi bagi seorang Muslim, kebenaran (*Al-Haq*) itu mutlak. Ia datang dari Allah SWT sebagai *Al-Furqan*, yang ngebedain mana yang hakiki dan mana yang sekadar *Gimmick*.
Di zaman sekarang, mendadak yang ramai dianggap paling benar, dan yang viral dianggap paling sah. Padahal, kebenaran bukan soal *Followers* atau berapa banyak orang yang nge-*Like*. Kebenaran tetaplah kebenaran, walau berdiri sendirian tanpa tepuk tangan, tanpa sorak-sorai, dan tanpa panggung *Mainstream*.
# Perjuangan Melawan Arus: Harga dari Sebuah Integritas #
Bicara soal membela kebenaran di era digital bukan cuma soal teori, tapi soal pengorbanan mental dan keberanian untuk * Stand Out*. Waktu kebohongan diputar berulang-ulang sampai terdengar bak kepastian, memilih untuk jujur sering kali bikin kita dibilang "aneh", "sok suci", atau malah di-*Cancel* sama lingkungan.
Namun sejarah selalu ngebuktiin: waktu adalah sahabat terbaik kebenaran. Mau ditutup rapat kayak apa pun, kebenaran bakal menemukan jalannya sendiri untuk bersinar. Kita tidak butuh pengakuan publik untuk merasa valid dalam kebenaran. Jutru, **kitalah yang butuh kebenaran supaya tidak *Lost* dalam ilusi yang kita ciptakan sendiri.**
# A Scene of Modern Dilemma: Abdi vs. Syahid #
Di sudut koridor kehidupan modern yang serba bising, dua anak muda berpijak di antara arus Zaman.
Abdi, " Syahid, tunggu bentar! Lo kenapa sih ? Dari tadi cuma diam pas yang lain lagi 'asik-asikan' pakai cara begitu. Gak usah sok paling suci deh, kita cuma berusaha *Blend in* biar gak dikucilkan !".
Syahid tersenyum tenang, " Di, *Adaptation* itu ada limitnya. Kalau jalannya udah nabrak aturan Allah dan melegalkan yang batil, gue gak bisa ikut. Kita tahu persis itu salah, kan ?".
Abdi, " Salah, salah! Plis deh, sadar gak sih? Semua orang di sana ikut! Kalau lo begini terus, lo bakal sendirian, Syahid. Gak bakal ada yang mau berteman sama lo !".
Syahid, " Lebih baik gue merasa 'sendirian' di jalan Allah, daripada ramai-ramai tapi berjalan menuju murka-Nya. Gue gak benci kalian, tapi ini bukan soal gengsi atau sok idealis. Ini soal *Faith*, tentang integritas batin ".
Abdi, " Tetapi apa lo gak capek? Di-ejek, di-cap sok alim, di-FOMO-in tiap hari. Emang lo gak ada rasa takut atau pengen *Give Up* aja ikut arus ?".
Syahid, " Gue manusia biasa, rasa takut pasti ada. Tapi ingat pesan Rasulullah ? ** Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali asing. Maka beruntunglah orang-orang yang terasing itu **. Kalau bukan kita yang berani jaga nilai-nilai kebenaran ini pas orang lain meninggalkannya, terus siapa lagi ?".
Abdi mulai terdiam, menunduk, " Lo... beneran gak peduli dibilang aneh ?".
Syahid, " Gue lebih peduli sama ridha Allah, Di. Penilaian manusia itu *Temporary*. Kelak di hadapan-Nya, kita berdiri *Solo* mempertanggungjawabkan pilihan hidup. Gue cuma pengen pulang membawa hati yang bersih ".
Abdi hening sejenak, " Syahid... jujur, di dalam hati gue paling dalam, gue juga gak tenang sama cara mereka tadi. Gue cuma takut... takut sendirian kayak lo ".
Syahid merangkul bahu Abdi, " Lo gak pernah benar-benar sendirian kalau berjalan di atas kebenaran. Allah selalu ada. Dan kalau lo siap, lo bisa berdiri bareng gue sekarang ".
" Gue ini Orang Asing. Apakah lo juga merasa terasing dan berani memilih untuk menjadi Sang Pembebas yang 'Asing' itu?". Syahid.
# Inspirasi untuk Generasi Dunia #
Membela kebenaran di era modern adalah bentuk **pengorbanan tertinggi**. Ia menuntut kita untuk berani melepas kenyamanan popularitas demi memegang teguh prinsip.
Dunia hari ini tidak kekurangan orang pintar atau orang populer, tetapi dunia sangat haus akan **jiwa-jiwa yang jujur dan berani terasing demi memperjuangkan nilai-nilai hakiki**.
Ketika kamu berani menjadi *Orang Asing* demi membela kebenaran, kamu sedang menyalakan obor inspirasi tidak hanya untuk dirimu sendiri, tetapi untuk seluruh anak muda di berbagai belahan dunia yang sedang ragu untuk melangkah.
* Dare to be different. Dare to be true *.
Salam Literasi Pariaman, 1/10/2026
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
