Impian Menjahit
Hari itu, aku duduk sendiri di ruang guru, mengoreksi tumpukan ulangan anak-anak. Pensil merah di tanganku menari di atas kertas, memberi tanda di sana-sini. Tapi ada yang mengganggu pikiranku—nilai mereka. Aku yakin sudah mengajar dengan baik, menjelaskan setiap konsep dengan sabar, tapi mengapa hasil ulangan tetap mengecewakan?
Tiba-tiba, pintu ruang guru terbuka. Nita, sahabatku, masuk dengan langkah ringan dan senyum khasnya. "Rajin banget," katanya, mendekat ke mejaku.
Aku menghela napas. "Aku penasaran, Nit. Aku sudah mengajar sebaik mungkin, kupikir anak-anak paham. Tapi kenapa, saat diuji, mereka tetap kesulitan?"
Nita duduk di kursi sebelahku, ikut melihat hasil ulangan yang kuberi coretan. "Aku juga nggak ngerti kenapa mereka nggak bisa matematika dasar," katanya.
Aku mengangguk. "Makanya, mereka kesulitan fisika juga. Bisa menulis rumus, bisa memasukkan angka, tapi proses akhirnya berantakan. Aku jadi ingin bantu ngajarin matematika lagi. Maaf ya, bukan mau nyaplok kerjaanmu," candaku.
Nita tertawa kecil. "Gitu, ya? Eh, ngomong-ngomong, Nur, kamu bisa menjahit nggak?"
Aku menoleh heran. "Sedikit-sedikit bisa. Lurus, belok, bikin perempatan, pertigaan, semua aman. Kenapa? Mau minta dijahitin?" aku bercanda.
"Serius, Nur. Kita coba custom baju, yuk!" ajaknya, kali ini dengan nada serius.
Aku menatapnya lama. "Custom baju? Maksudmu?
"Aku ada kenalan, Kak Titin. Dia jago menjahit. Bisa ngajarin kita," jelasnya penuh semangat.
Aku tak langsung menjawab, tapi entah kenapa, ajakan itu menarik. Mungkin karena aku memang suka mencoba hal baru. Akhirnya, setelah jam mengajar selesai, kami berdua pergi ke sebuah perumahan bernama Perumahan Indah, ke rumah Kak Titin.
Hari itu, Kak Titin memperkenalkan kami pada dasar-dasar menjahit. Kami belajar mengukur tubuh, mencatat ukuran, lalu ditugaskan membuat pola dasar di rumah. Aku melakukannya dengan serius, mencatat rapi setiap detail yang diajarkan.
Keesokan harinya, aku kembali membawa pola yang sudah kubuat. Dengan penuh harap, kuperlihatkan pada Kak Titin. Dia mengambilnya, memeriksa sebentar, lalu bertanya, "Ini pakai skala berapa?"
Aku terdiam. "Skala?" ulangku bingung.
Kak Titin menepuk dahinya sendiri. "Ya ampun, aku lupa menjelaskan soal skala kemarin!" katanya sambil tersenyum. Lalu, dia mengambil bukuku dan menuliskan angka 95 di sudutnya.
Aku tersenyum lega. "Lumayan, kan?" kataku, dalam hati bersyukur bisa mengikuti pelajaran dengan baik.
"Kapan ada waktu, bawa bahan ke sini ya. Kita lanjut ke tahap berikutnya," ujar Kak Titin.
Dan begitulah, setiap Rabu dan Jumat, aku dan Nita selalu menyempatkan waktu untuk belajar menjahit di rumah Kak Titin.
Suatu malam, aku tidak bisa tidur. Bahan yang sudah kupotong tadi siang terus terbayang di kepalaku. Akhirnya, aku bangun dan mulai menjahit. Jarum dan benang seperti menari di tanganku, dan sebelum pagi tiba, baju itu hampir selesai.
Keesokan harinya, aku mengenakannya ke sekolah. Begitu memasuki ruang guru, aku melihat Nita sudah duduk dengan secangkir teh di hadapannya. Begitu melihatku, dia menatapku dari atas ke bawah dengan tatapan tak percaya.
"Ada yang salah dengan penampilanku?" bisikku, khawatir ada sesuatu yang terbalik.
Nita masih menatap lekat-lekat sebelum akhirnya bertanya, "Serius, ini kamu yang jahit?"
Aku tersenyum puas. "Kan sudah kubilang, aku bisa menjahit," jawabku sambil mencubit pinggangnya.
Nita melotot dan mencoba membalas, tapi aku buru-buru menghindar. Kami tertawa bersama.
Sepulang sekolah, seperti biasa, kami menuju rumah Kak Titin. Kali ini, aku membawa baju hasil jahitanku.
Selasa, 25 Februari 2025
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan