Ketupat Galau Kelapa Mehong
Hari ini, pasar lebih ramai dari biasanya. Mau beli bumbu masak saja, Mak-Mak sudah antre panjang, berbaris tak beraturan seperti barisan semut yang menemukan gula. Bapak-bapak juga tak mau kalah, ikut meramaikan kerumunan dengan strategi khas mereka—menyusup di sela-sela, pura-pura lihat harga, eh tahu-tahu sudah di depan. Waduh!
"Hari ini buka 24 jam," seru Abang penjual bumbu sambil tersenyum lebar, mungkin setengah lega, setengah stres melihat antrean yang lebih mirip kerumunan konser.
Beberapa ibu yang malas menunggu, langsung ambil keputusan bijak, "Ya udah deh, Bang. Saya nanti malam aja balik, kalau masih ada rezekinya."
Lain di tukang bumbu, lain pula di pedagang ketupat kosong. Mereka santai saja, sambil duduk di pinggir jalan, tangan sibuk membuat ketupat, mata fokus menonton YouTube. Multitasking level dewa! Tapi yang kasihan bukan mereka, melainkan ketupat yang sudah dua hari tak laku-laku. Pinggirannya mulai menghitam, mengisyaratkan masa kedaluwarsa yang semakin dekat. Akhirnya? Jadi sampah.
Harga-harga juga ikut menari-nari, naik seiring euforia Lebaran. Kelapa yang biasanya Rp10 ribu, mendadak jadi Rp30 ribu. Luar biasa! Bagi yang hanya butuh sedikit santan, lebih baik mundur teratur dan melipir ke rak santan instan. Kara pun tersenyum di pojokan.
Lalu, bagaimana kabar pepaya muda? Nah, ini dia primadona Mak-Mak! Pepaya muda jadi rebutan untuk bahan sayur lontong Lebaran. Rasanya kasihan melihat tumpukan pepaya yang menggunung. Semoga laris manis, biar tak bernasib sama seperti tahun lalu—sisa-sisa pepaya ditinggalkan begitu saja di pinggir jalan, akhirnya hanya jadi sampah.
Kadang suka berandai-andai, andai para penjual tak mengambil pepaya sebanyak itu, mungkin sebulan kemudian pepayanya sudah matang di pohon, bisa dijual dengan harga lebih tinggi. Tapi, ya sudahlah, begitulah ritme pasar setiap akhir Ramadhan. Selalu sesak, selalu ramai, dan selalu penuh kejutan!
Ini hanya sekelumit kisah dari sedikit waktu perjalanan pagi. Jika berkeliling dalam waktu yang lama dan berkeliling pasar, tidak tertutup kemungkinan tulisannya menjadi berlembar-lembar sampai bosan bacanya. Benar kan pembaca?
Pasar Perumnas Klender
Sabtu, 29 Ramadhan 1446 H. 29 Maret 2025
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan