Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Malam yang Harus Dipersiapkan

Malam semakin larut, dan di sudut kecil rumahnya, Dessy menatap jam dinding yang berdetak pelan. Sudah pukul sebelas malam. Matanya mulai terasa berat, tubuhnya sedikit lelah setelah seharian berpuasa dan beraktivitas. Tapi malam ini bukan malam biasa—ini adalah sepuluh malam terakhir Ramadhan, malam-malam yang dinanti untuk menemukan Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Ia menarik napas dalam. "Aku harus bertahan," gumamnya, mencoba mengusir kantuk yang mulai merayap.

Sebelum Ramadhan tiba, ia sudah menyusun strategi agar bisa bangun malam dan beribadah dengan maksimal. Namun, teori selalu lebih mudah daripada praktik. Beberapa malam pertama, ia masih sering kalah oleh rasa kantuk. Tapi ia tidak menyerah. Malam ini, ia mencoba lagi dengan lebih matang.

1. Niat yang Kuat

Dessy mengingat kembali niatnya. Ia ingin meraih keberkahan, ingin lebih dekat dengan Allah. Ia ingin malam-malam ini menjadi saksi perjuangannya. Ia berbisik dalam hati, Ya Allah, berikan aku kekuatan untuk beribadah kepada-Mu. Jangan biarkan aku melewatkan kesempatan berharga ini.

2. Mengatur Waktu Tidur

Sejak siang tadi, Dessy sudah menyempatkan diri tidur sejenak setelah dzuhur. Tidak lama, hanya sekitar 30 menit, tapi cukup untuk menyegarkan tubuhnya. Setelah tarawih tadi, ia juga tidak langsung sibuk dengan ponsel atau ngobrol panjang lebar. Ia tidur lebih awal, lalu meminta ibunya membangunkannya sebelum tengah malam.

Dan benar, meski kantuk masih mengintai, tubuhnya terasa lebih siap.

3. Menjaga Pola Makan

Saat berbuka tadi, Dessy tidak makan berlebihan. Ia tahu, jika terlalu banyak makan gorengan atau makanan berat, tubuhnya akan semakin malas bergerak. Ia memilih makan secukupnya, dengan kurma, air putih, dan makanan bergizi lainnya. Saat sahur nanti, ia sudah menyiapkan makanan tinggi protein agar tetap berenergi sampai siang.

4. Menciptakan Suasana Nyaman

Ia menyalakan lampu kecil di sudut ruang shalatnya. Tidak terlalu terang, tapi cukup untuk membuat matanya tetap terjaga. Murottal mengalun pelan dari ponselnya, mengisi ruangan dengan suara yang menenangkan. Sejadah dan mushaf sudah siap di depan. Tidak ada gangguan, hanya ia dan malam yang suci.

Dessy duduk sejenak, menarik napas, lalu berdiri untuk shalat malam. Setiap rukuk dan sujudnya terasa lebih dalam. Dalam sepi, ia merasakan ketenangan yang luar biasa.

Ia sadar, perjuangan ini tidak mudah. Tapi setiap kali rasa kantuk menyerang, ia mengingat betapa berharganya malam ini. Bukankah Rasulullah SAW saja menghidupkan sepuluh malam terakhir dengan ibadah tanpa henti? Ia tidak ingin kalah oleh rasa malas.

Dan saat butiran air matanya jatuh dalam sujud panjang, Dessy tahu, malam ini ia tidak hanya berhasil melawan kantuk—tapi juga mendekat kepada-Nya dengan sepenuh hati.

Malam-malam selanjutnya, ia bertekad akan terus berjuang. Karena ia tahu, Lailatul Qadar bukan hanya tentang begadang, tapi tentang hati yang berserah, jiwa yang tunduk, dan raga yang rela berkorban demi ridha-Nya.

Mungkin malam ini, atau esok, atau lusa—ia tak tahu kapan Allah mengabulkan doanya. Tapi ia yakin, setiap usahanya tidak akan sia-sia.

Jum'at, 21 Maret 25

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post