Menjemput Berkah di Sepertiga Malam Terakhir
Jarum jam sudah melewati angka 10.20 malam. Desy menutup buku catatan dan merapikan dapur setelah seharian beraktivitas. Rasa lelah menyelimuti tubuhnya, tetapi ada harapan besar di hatinya—ia ingin bangun lebih awal agar tidak melewatkan tahajud, sahur, membaca Al-Qur’an, shalat di masjid, dan membersamai ibu-ibu tadarus.
Ia merebahkan diri di atas kasur, menarik selimut, lalu berdoa sebelum tidur, “Ya Allah, bangunkan aku di waktu terbaik-Mu. Jangan biarkan aku terlelap hingga melewatkan kesempatan beribadah di sepertiga malam.”
Hening. Malam terus beranjak. Di luar, angin berbisik lembut di antara dedaunan. Gerimis masih setia menitikkan airnya ke bumi.
Tiba-tiba, Desy terjaga. Matanya terbuka perlahan, hatinya berdebar. Ia melirik jam di gadgetnya. 03.15 dini hari. Alhamdulillah, tepat waktu!
Dengan penuh syukur, ia duduk mengumpulkan semua kesadarannya. Dengan kedua tangannya, dengan jemarinya ia menyentuh kedua mata lalu bergumam, "Alhamdulillahilladzi ahyaana ba'dama wa amatana wailaihinnusyuur". Lalu menyentuh dada bagian kiri, "assalamualaikum jantungku, terimakasih ya". Tangannya perlahan pindah ke posisi tempat 'bersemayamnya' paru-paru, ginjal, hati dan anggota badannya yang lain yang bisa disentuh satu per satu, dari kepala sampai ke ujung kaki.
Setelah yakin semua sudah disapa, Desy beranjak dari tempat tidur. Setelah mandi, berwudu', lalu siap-siap untuk beribadah. Ia berdiri menghadap kiblat. Suasana sunyi, hanya ada ia dan Tuhannya. Rasa khusyuk menyelimuti hatinya saat ia menengadahkan tangan dalam doa, memohon keberkahan dan keteguhan iman.
Setelah tahajud, ia menyiapkan sahur dengan tenang, lalu membaca Al-Qur’an sebelum adzan subuh berkumandang. Langkahnya ringan menuju masjid, shalat berjamaah terasa beda dengan shalat sendiri di rumah. Ia menikmati udara pagi yang sejuk. Di sana, ia bertemu ibu-ibu yang sudah mempersiapkan diri untuk tadarus.
“Hari ini kita lanjut surat berikutnya, ya,” kata seorang ibu sambil tersenyum.
Desy mengangguk, hatinya dipenuhi ketenangan dan kebahagiaan. Pagi ini, ia kembali merasakan keajaiban doa—ketika seseorang sungguh-sungguh ingin mendekat kepada Allah, maka Allah pasti memudahkan jalannya.
Rabu, 5 Ramadhan 1446 H
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan