Perjuangan Mendapatkan Malam 1000 Bulan
Ramadhan sudah memasuki hari ke-16. Desy menatap kalender di dinding kamar kosnya. Setiap harinya, ia menandai hari-hari yang telah berlalu, mengingatkan dirinya bahwa semakin dekat dengan sepuluh malam terakhir, semakin besar peluang bertemu Lailatul Qadar.
Sejak awal Ramadhan, Desy bertekad untuk meningkatkan ibadahnya. Sebagai seorang guru dan calon bidan, ia memiliki kesibukan yang cukup padat. Namun, ia tak ingin kesibukan dunia menghalangi langkahnya untuk mencari malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Sepulang mengajar, Desy duduk di musala kecil di kosnya. Ia membuka mushaf dan mulai membaca Al-Qur’an dengan perlahan. Ia ingin setiap ayatnya meresap ke dalam hati, bukan sekadar mengejar target khatam.
"Ya Allah, aku ingin semakin dekat dengan-Mu," doanya dalam hati.
Malam itu, setelah shalat tarawih, ia duduk lebih lama di atas sajadahnya, berdoa agar Allah membimbingnya untuk bisa meraih keutamaan Lailatul Qadar.
Desy tahu bahwa untuk mendapatkan Lailatul Qadar, ia harus melawan rasa malas dan kantuk. Ia memasang alarm pukul 02.30 dini hari. Awalnya sulit, tapi ia memaksa dirinya bangun.
Dengan mata yang masih berat, ia mengambil air wudhu dan berdiri dalam shalat tahajud. Meski singkat, ia merasakan ketenangan yang luar biasa. Ia bertekad untuk menjadikannya kebiasaan hingga akhir Ramadhan.
Desy semakin meningkatkan ibadahnya. Ia membaca lebih banyak Al-Qur'an, melipatgandakan doa, dan bersedekah lebih sering. Ia merasa hatinya semakin ringan, seolah dunia tak lagi membebani pikirannya.
Ia berbisik, "Ya Allah, jika ini Lailatul Qadar, jangan biarkan aku melewatkannya tanpa ampunan-
Desy mulai merasakan lelah. Ia harus mengajar di pagi hari, membantu di klinik sore harinya, dan tetap beribadah di malam hari. Tapi anehnya, ada kebahagiaan dalam kelelahan itu.
Suatu malam, saat sujud panjang, ia merasa hatinya begitu tenang. Udara terasa sejuk, tidak ada suara bising, hanya ia dan Rabb-nya. Ia tidak tahu apakah malam itu adalah Lailatul Qadar, tapi ia yakin Allah melihat usahanya.
Pagi hari terakhir Ramadhan, Desy duduk di teras kosnya, menatap langit fajar yang indah. Ia merasa damai, seakan ada beban yang diangkat dari hatinya.
"Tidak ada yang tahu kapan Lailatul Qadar datang," gumamnya, "tapi aku tahu bahwa aku telah berusaha. Dan mungkin, Allah telah mengizinkanku untuk merasakannya, tanpa aku sadari."
Ia tersenyum. Ramadhan ini telah mengubahnya. Lailatul Qadar bukan hanya tentang satu malam, tetapi tentang perjalanan mencari-Nya dengan sepenuh hati.
Dan Desy tahu, perjalanan itu tidak akan berhenti di sini.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan