Berpulang di Depan Rumah Allah
"Innalillahi wa innalillahi raaji'uun." Suara aku serak, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. Hatiku langsung merasakan keheningan dan kelegaan yang dalam. Sejenak, aku lupa bagaimana harus melanjutkan percakapan ini.
"Sakit apa?" Tanyaku, mencoba untuk meraih kembali sedikit kendali.
Kudengar suara Ani bergetar, kubayangkan mungkin matanya mulai berkaca-kaca. "Kurang tahu pasti. Tapi beberapa minggu ini, katanya sering mengeluh sakit di ulu hati. Badannya lemas, kurang tenaga."
Kabar itu mengejutkan sekaligus melegakan. Aku lupa bagaimana wajah Deni sekarang. Sejak aku SMA tahun kedua kami tidak pernah bertemu lagi.
Dan sebuah memori hadir kembali ketika beberapa hari lalu, di pasar, aku melihat sesuatu yang tidak biasa.
Sebuah kardus Indomie, biasanya penuh dengan mie instan tapi ini berisi jeruk dan salak.
Campuran buah yang tak terduga, tak sesuai dengan norma, namun juga seolah berbicara tentang kehidupan yang kadang tak bisa kita prediksi. Aku bertanya-tanya, Apakah ada yang membeli buah-buahan itu? Ini kan bukan puasa. Pikirku.
Aku melirik bapak tua yang duduk berjongkok di dekatnya, wajahnya penuh kerut dan kelelahan. Apakah dia merasa kecewa?
Pikiranku mulai menerawang jauh, menyusuri jalan waktu puluhan tahun yang lalu. Lalu berhenti pada waktu di mana kami masih di SMP di tahun terakhir.
Tahun delapan puluhan, saat semuanya terasa sederhana namun penuh makna. Aku dan Naida, sahabat yang tak terpisahkan. Setiap pagi melewati kedai kecil yang selalu tampak kosong. Kedai itu tak pernah buka terlalu pagi, tetapi kami tetap melewatinya, seolah ada ikatan tak kasat mata yang membuat kami terus kembali ke tempat yang sama.
Kami berjalan lima kilometer lebih setiap hari, kadang lebih lambat dari yang seharusnya, seperti ada waktu yang sengaja kami tunda, hanya untuk bisa bersantai sejenak sebelum bel masuk berbunyi. Kadang, kami tak merasa terburu-buru, bahkan ketika waktu seperti mengikis kami sedikit demi sedikit.
Setiap kali pulang, aku selalu memilih jalan lurus menuju rumah, melewati kedai Deni, sedangkan Naida berbelok ke kanan, lebih dekat ke rumahnya. Kami berdua punya rutinitas yang tak terucapkan, seakan dunia kami berjalan dalam irama yang tak terganggu.
Ahad pagi, Naida datang ke rumahku, tersenyum lebar, dan di tangannya ada sebuah amplop berwarna pink, dihiasi gambar bunga. "Dari siapa?" tanyaku, mataku sedikit melirik amplop itu.
"Dari Deni," jawabnya dengan senyum misterius.
Aku terdiam. "Deni?" tanyaku, setengah tak percaya.
Naida hanya mengangguk. "Ya, buka aja."
Aku membuka amplop itu dengan hati berdebar. Di dalamnya ada selembar kertas berwarna pink yang dilipat rapi. Aku membaca tulisan tangan itu dengan perasaan yang campur aduk. Ternyata, Deni, si pemilik kedai kecil yang selalu aku lewati, diam-diam memperhatikanku. Ia bertanya apakah aku ingin berteman dengannya.
Hatiku berdebar. Ini surat pertama yang kuterima dari lawan jenis. Ada perasaan hangat yang mulai tumbuh, tak tahu harus direspons seperti apa. Bingung. Aku menyerahkan amplop itu kembali ke Naida. "Kamu baca deh," kataku, sambil memiringkan kepala.
Naida membaca dengan serius, lalu menatapku. "Aku yakin, ini baru permulaan. Dia bakal bilang suka sama kamu nanti."
Aku hanya tertawa canggung. "Aduh, Naida, kita kan masih SMP! Ini bukan saatnya buat pacaran."
Surat-surat itu terus datang. Surat kedua bertanya kenapa aku belum membalas surat pertama. Aku merasa malu dan akhirnya menulis balasan, mulai menyusun kata demi kata dengan hati-hati. Kami terus surat-menyurat selama lebih dari setahun. Tak pernah bertemu. Tak pernah ada kata-kata yang lebih dari sekadar pengakuan melalui kertas.
Namun, suatu hari, ibu menyuruhku membeli gula dan kopi, dan tak ada pilihan lain selain masuk ke kedai Deni. Dengan hati yang canggung, aku berjalan ke dalam.
Deni, seperti biasa, menyapa dengan senyuman hangat. Setelah beberapa menit ngobrol ringan, ia menolak uang yang kuberikan. "Gratis," katanya, sambil tersenyum. Aku merasa seperti ada sesuatu yang terlepas dari diriku, seakan tidak tahu harus bersikap bagaimana.
Perjalanan pulang terasa berat. Di rumah, ibu bertanya, "Kenapa uangnya masih utuh? Tidak ada kembalian?"
Aku ragu. Lalu mengangguk pelan. "Iya, ibu. Deni bilang gratis."
Ibu tak banyak bertanya lagi, hanya berkata, "Ya sudah, uangnya simpan dulu. Kalau ada waktu, kembalikan."
Dan aku, dengan hati yang berat, menyimpan uang itu dalam tas ku. Tidak tahu bagaimana harus menjelaskan nanti, aku hanya berharap suatu saat ada jalan keluar.
Dua bulan kemudian, aku duduk di pematang sawah, membaca novel yang kupinjam di perpustakaan sekolah. Naida datang dengan sepeda bututnya, membawa sebuah kotak supermi yang penuh dengan jeruk dan salak.
"Dari pacarmu," kata Naida sambil menyeringai.
Aku terkejut. "Kita masih SMP, Naida! Masa pacaran?" jawabku, sedikit menghindar.
"Tapi dia perhatian banget. Masa iya kalau bukan pacar, mau ngasih ginian?" Jawab Naida, sembari meletakkan kotak itu di depanku.
Aku tidak menjawab lagi pertanyaan Naida. Percuma, ia pasti tidak akan berhenti berargumen!
Hari sudah sore, matahari sebentar lagi akan menghilang dan gelap akan datang.
Kami pun makan beberapa buah, sisanya dibiarkan. "Kita tutup kotak ini di sini dengan daun-daun dan tanah," kataku. "Besok pagi, kita kembali lagi."
Dan begitu waktu berlalu, kabar datang. Deni telah meninggal dunia, meninggalkan dunia ini setelah menunaikan ibadah umrah bersama keluarganya. Ia berpulang di tempat yang paling mulia, Baitullah, di hadapan rumah Allah SWT, dalam kondisi sedang berpuasa. Allahu Akbar!
Aku merasa kelegaan mendengar berita nya. Ia berpulang dengan cara yang penuh berkah. Semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosanya, menjauhkan dari azab kubur dan memberinya tempat terbaik di sisi-Nya. Aamiin.
Dalam perjalanan hidup, kita tidak pernah tahu kapan atau di mana kita akan bertemu takdir kita. Tapi yang pasti, kenangan akan terus hidup dalam hati kita, bahkan setelah waktu berlalu. Kadang, kita hanya perlu menerima perjalanan itu, dengan segala liku dan kejutan yang datang.
Kamis, 4 Syawal 1446 H
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan