Hari Bumi
Bumi Merintih, Langit Bersaksi
(Sebuah Renungan di Hari Bumi)
Aku sering berpikir, seandainya bumi bisa bicara, ia mungkin akan menangis. Bukan karena gempa yang mengguncangnya, bukan karena banjir yang menenggelamkan lembah-lembah rindunya, tapi karena manusia yang katanya makhluk paling mulia, justru menjadi yang paling tega.
Padahal Allah telah bersumpah atas bumi dalam firman-Nya:
“Yang telah menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap...” (QS. Al-Baqarah: 22)
Sebuah hadiah yang megah, tempat berpijak bagi jutaan makhluk, dan kita—manusia—diberi amanah untuk menjaganya. Tapi apa yang kita lakukan?
Plastik dibuang sembarangan, udara dikotori tanpa jeda, laut dipenuhi luka dari limbah. Langit bahkan tak sempat biru karena asap kendaraan dan industri. Pohon-pohon tumbang sebelum sempat menyapa pagi.
Rasulullah SAW pernah bersabda:
"Dunia ini indah dan hijau, dan Allah telah menjadikan kamu sebagai khalifah di dalamnya, dan Dia melihat bagaimana kamu memperlakukan dunia." (HR. Muslim)
Tapi kita? Malah sibuk menciptakan kemudahan yang melukai tanah yang suci ini. Kita sibuk mengejar kenyamanan, tapi lupa bahwa kenyamanan sejati adalah hidup dalam harmoni bersama alam.
Hari Bumi Diperingati setiap tanggal 22 April, pertama kali dicetuskan oleh Senator AS Gaylord Nelson tahun 1970, bukan untuk merayakan, tapi untuk mengingatkan: "Bumi bukan milik kita saja, tapi titipan untuk anak cucu kita."
Hari Bumi bukan hanya selebrasi, tapi semestinya menjadi renungan.
Lalu, apa yang bisa kita lakukan?
Matikan lampu dan alat elektronik saat tak digunakan Kurangi penggunaan plastik dan kemasan sekali pakai Menanam pohon walau hanya satu Mengajak teman menjaga kebersihan lingkungan Dan yang paling penting: sadari bahwa bumi bukan benda mati.Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya…”(QS. Al-A'raf: 56)
Jaga bumi, jaga hati. Karena siapa yang menjaga bumi, sesungguhnya sedang menjaga dirinya sendiri.
"Hijaukan hati, segarkan bumi!" "Cinta bumi, cinta Ilahi." "Jangan tunggu es mencair baru sadar, bumi sedang terbakar!" "Bumi adalah saksi, jangan sampai dia bersaksi buruk terhadap kita"
Selasa, 22 April 2025
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan