Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Perjalanan Panjang Sepotong Sabar

Pagi ini, langit Jakarta belum sempat galau, tapi hatiku sudah duluan. Gara-gara "perintah agung" dari Gubernur DKI, hari ini semua pegawai DKI baik berstatus ASN maupun KKI tidak diperbolehkan naik kenderaan pribadi apalagi jemputan. Semua diwajibkan naik kendaraan umum. Wajib! Katanya, demi langit biru Jakarta dan kenangan manis di masa kecil. Oke Pak, saya ikut. Tapi kenapa saya yang harus jadi tokoh utama di sinetron penuh liku ini?

Biasanya, butuh 15-20 menit aku sampai sekolah pakai motor kesayangan. Hari ini? Baru keluar pagar rumah aja rasanya kayak mau naik gunung. Bukan karena tinggi, tapi karena was-was. Ini pertama kalinya aku naik kendaraan umum ke sekolah setelah… ya, kira-kira 13 tahun lalu terakhir naik metromini. Waktu itu masih langsing, sekarang? Yah, metromininya yang almarhum, bukan aku.

Metromini sudah tiada, berganti Jatlingko. Angkot keren ber-AC, CCTV, gratis pula! Tapi sayang, Jatlingko ini jarang mampir ke perumahanku. Mungkin karena dia tahu aku belum move on dari metromini. Akhirnya aku minta diantar dulu ke jalan besar. Di sanalah aku berdiri, menanti Jatlingko seperti menanti gebetan yang katanya “otw” tapi ternyata belum mandi.

Saking lamanya, aku hampir buka tenda. Tapi karena takut dibilang satpam liar, aku putuskan minta diantar lagi. Kali ini ke lampu merah dekat MD. Katanya, di sana banyak pilihan kendaraan umum. Kayak aplikasi dating, bedanya yang ini nggak bisa diswipe left.

Setelah turun, aku melihat tiga ibu-ibu berseragam Pramuka. Ah, ini dia gengku. Dari seragamnya saja sudah jelas. Kami para pejuang pendidikan. Kalau bukan guru, masa iya tentara pakai rok?

Sekitar 10 menit kemudian, datanglah Transjakarta, si ular besi panjang dengan wajah tenang. Dari tiga pintunya, hanya pintu depan yang dibuka. Kami naik satu-satu seperti peserta lomba masuk kereta cepat. Ibu-ibu itu men-TAP kartu. Aku ikut-ikutan men-TAP e-toll milik suami, sambil baca doa, “Ya Allah semoga saldonya cukup.”

Begitu duduk, aku langsung keluarkan HP. Ini momen bersejarah. Harus ada dokumentasi. Dengan gaya sok candid tapi niat selfie, kukirim fotoku ke grup sekolah. Dalam hitungan detik, grup itu penuh foto guru-guru naik MRT, Commuter, Jatlingko, napa gak ada yang naik becak hias ya?

Takut kebablasan, aku berdiri. Wajahku tegang. Begitu mobil panjang ini naik flyover, aku panik. “Lho, ini bukan jalannya dong!” Untung sopirnya ramah, aku tanya sambil nahan deg-degan, "Pak, kalau turun harus TAP lagi nggak?" Jawabannya: "Harus, Bu." Oke, kukeluarkan lagi kartu sakti e-toll suami. Layar menampilkan Rp. 2000. Murah, tapi deg-degannya seharga Rp. 20.000.

Turun, aku berbalik lagi kearah belakang 😀. Setengah berlari menuju perempatan. Aku berdiri dengan pikiran galau, nyari kendaraan lain. Kalau jalan kaki, bisa jadi senam pagi tak terencana. Tapi siapa sangka, dari kejauhan, datanglah sang pahlawan. Anakku sendiri, naik motor sambil senyum kecut. Katanya, “Takut Mak salah naik bus, jadi aku tunggu buat jaga-jaga”.

Akhirnya, dengan angin pagi yang belum sempat nyubit pipi, aku tiba di sekolah. Pintu gerbang menyambut, halaman parkir kosong melompong. Mobil dan motor para guru? Libur tampil. Rasanya seperti festival kendaraan umum nasional.

Dan ya, aku nggak telat, cuma mepet. Tapi perjuangan ini nyata. Aku akan berpikir lagi naik apa nanti pulangnya.

Setelah jadi pendekar angkutan umum di pagi hari, sore ini aku masih harus menjalani episode kedua. Misi Pulang. Tapi tenang, kami mikir-mikir dulu bentar sebelum pulang. Sebelum pulang, kami sempatkan dulu berteduh di bawah naungan sujud. Shalat Asar di sekolah. Bukan apa-apa, takutnya nanti terjebak di atas angkot saat azan berkumandang, lalu bingung, gimana shalatnya, kan gak mungkin nanya “Ini kiblatnya ke arah mana, Pak Sopir?”

Setelah "Prinjerprint" ritual sakral tap absen pulang yang bikin hati plong. Aku dan Bu Imas melangkah dengan gaya model catwalk pensiunan, alias kaki mulai gempor. Kami ngobrol cantik di bawah langit sore sambil berdiskusi panjang lebar soal takdir transportasi.

Bu Imas dengan wajah bak petugas navigasi berkata,

“Ada dua jalan menuju rumah kita”

Wuiih... berasa lagi konsultasi sama GPS spiritual.

Pilihan pertama, jalan kaki dulu ke pertigaan pasar Pondok Bambu. Nanti naik Jaklingko, turun di depan rumah sakit Duren. Tapi jangan masuk rumah sakit, kecuali mau jadi relawan jaga UGD.

Pilihan kedua, naik Transjakarta ke Casablanca, lalu nyambung Jaklingko lagi arah Perumnas Klender. Turun deh di situ.

Kami memilih yang lebih beradab untuk kaki kami yang sudah menuju renta. Udah naik Transjakarta aja. Kami nunggu di halte, sambil menghitung berapa kali motor lewat dan hati kami iri.

Tiba-tiba, entah darimana, muncul sosok familiar...

“Loh, Pak Shobur?”

“Iya Bu, saya juga nunggu Transjakarta.”

Ternyata beliau juga ikut misi pulang ini. Jadilah kami tiga sekawan senasib.

Setelah menunggu yang rasanya lebih lama dari nunggu THR cair, akhirnya si ular panjang berwarna keorenan itu datang juga. Aku siap-siap loncat... eh enggak ding, ini bukan sinetron laga. Tapi semangatku memang setinggi itu. Maklum matahari semakin condong ke arah peraduan.

Turun dari Transjakarta, kami ganti mode nunggu level dua. Jaklingko. Setelah nyampe di bawah, baru ingat tadi gak pamit sama Pak Shobur. Saking seriusnya menikmati besi panjang ini. Tapi kali ini rasanya kayak nunggu mantan yang bilang mau balikan tapi malah nikah sama yang lain.

Jaklingko 106 datang... dan penuh. Isinya seperti ikan sarden baru panen. Kami pasrah.

Beberapa menit kemudian, datang lagi satu. Cuma lima penumpang. Ini dia! Rezeki emak-emak solehah.

Aku naik sambil deg-degan: “Ya Allah... semoga kartu e-toll tadi masih ada isinya.”

BEEP!

Alhamdulillah, berhasil! Saat turun, aku tidak TAP lagi. Tadi bu Imas menjadi pahlawan TAP. Tidak hanya Aku yang dibantunya, tapi semua penumpang nyodorin kartunya ke bu Imas. Tanpa nanya, bu Imas langsung menyentuh layar dengan kartu. Angka Rp 0 muncul. Gratis tis tis. Alhamdulillah, Jaklingko jadi kenderaan tanpa bayar. Ah serasa milik pribadi. Kalau gak salah, ini warisan pak Anis selagi menjabat gubernur sebelum yang sekarang.

Wah... rasa bahagianya kayak nemu diskon 100% di kasir swalayan.

Pukul 5 sore aku sampai juga. Bukan di surga, bukan di istana... tapi di depan rumah sendiri.

Aku lirik jam, waktu ngaji sebentar lagi. Buru-buru mandi, buru-buru ganti baju, buru-buru istighfar.

Bukan salah siapa-siapa. Cuma salah waktu yang jalannya suka cepet kalau kita capek.

Dan begitulah, Misi Pulang hari ini sukses. Tidak dengan tumpangan pribadi, tapi dengan tumpukan pengalaman dan pelajaran hidup.

Kadang kita harus tersesat sedikit, supaya bisa menemukan arah.

Kadang harus pegal-pegal dulu, baru paham makna sabar.

Dan kadang, harus naik kendaraan umum, biar tahu... betapa nikmatnya punya motor sendiri. Hehehe...

Rabu, 30 April 2025

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post