Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Langit Ramadhan yang Kian Jauh

Sore ini aku sendiri di rumah. Sunyi merayap pelan, menelusup lewat celah-celah jendela, mengisi ruang hati yang kosong. Dari lantai dua, aku duduk diam di teras, menatap langit yang kelabu. Ini kebiasaan lamaku—kebiasaan yang tak pernah benar-benar pergi.

Sejak kecil, aku suka memandangi langit. Dulu, sering rebahan di lapangan luas atau berbaring di pematang sawah, hanya untuk menatap hamparan langit tanpa batas itu. Ajaib, bagaimana Allah menciptakan satu langit—tanpa tiang, tanpa batas, tapi selalu menaungi. Rasanya, langit itu teman bisuku, yang tak pernah jemu kudekati dengan pandangan.

Sekarang, aku menatap langit dari perumnas. Tak seleluasa langit kampungku dulu. Di sini, bangunan tinggi menutupi sebagian besar cakrawala. Tapi keajaiban langit tak pernah mengecewakan. Walau sempit, ia tetap indah. Mendung masih bergelayut, gerimis sisa hujan asar tadi masih melekat di daun-daun tanaman kecilku.

Dan di tengah keheningan itu, aku merasakan kehilangan.

Seminggu lalu, waktu seperti ini terasa berbeda. Suara ayat suci Al-Qur’an dari masjid menyusup lembut ke dalam rumah. Anak-anak berlarian di gang depan, tawa mereka bersahut-sahutan sambil menanti waktu berbuka. Langit sore Ramadhan kala itu hangat, meski matahari mulai tenggelam.

Kini, semua itu terasa jauh. Ramadhan telah pergi. Aku belum siap melepasnya. Belum puas rasanya mencintainya selama tiga puluh hari.

Aku rindu... bukan hanya pada suasananya. Tapi pada cahaya yang dibawanya—yang membuatku lebih dekat kepada Tuhan, yang menenangkan gelisah hatiku, yang membuatku ingin menjadi lebih baik dari sebelumnya. Kini, saat Ramadhan telah berlalu, aku takut kembali tenggelam dalam rutinitas, jauh dari dzikir, jauh dari Qur’an, jauh dari-Nya.

Aku berdoa dalam diam. "Ya Allah... jangan biarkan cahaya itu padam. Jangan biarkan aku kembali kosong"

Ramadhan telah pergi, tapi rindunya menetap. Ia meninggalkan jejak di dalam hati—jejak cinta pada Al-Qur’an, pada shalat malam, pada air mata yang jatuh diam-diam saat sujud panjang. Aku takut kehilangan semuanya. Takut kembali sibuk dengan dunia, tapi lupa pada akhirat.

Ramadhan mengajarkanku menjadi muttaqin—menjadi jiwa yang takut kehilangan Allah. Dan kini, saat cahaya Ramadhan mulai mengabur, aku ingin terus menjaga nyalanya. Menjaga agar langkahku tetap berada dalam petunjuk-Nya, meski tanpa euforia Ramadhan di sekitarku.

Karena sejatinya, Ramadhan bukan hanya soal waktu. Ia adalah jalan menuju Allah. Dan jalan itu masih terbuka, selama aku masih punya niat, dan masih sanggup berdoa di bawah langit yang sama.

Malaka 3, Ahad 7 Syawal 1446 H (6 April 2025)

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post