Berani Menulis
"Kata orang, menulis itu gampang." Awalnya aku pun setuju. Toh cuma nulis, apa susahnya? Cukup ketik atau tulis apa yang ada di kepala saat itu, mudahkan? Aku yakin semua orang juga bisa. Ini kata-kata motivasi yang ku ciptakan sendiri. Tidak ada pilihan lain, aku harus membuktikannya. Akhirnya aku pun mulai mencoba. Merangkai kata, terus menerus.
Kalau ditanya sejak kapan aku nekat menulis? Entahlah. Kapan persisnya aku suka menulis, aku sendiri tak ingat. Mungkin dimulai sejak sekolah dulu, saat guru meminta kami mengarang. Ya, ngarang bebas, tanpa aturan baku. Terutama kalau setelah liburan panjang atau saat-saat awal masuk sekolah. Waktu-waktu seperti itu lah yang aku tunggu-tunggu.
Menulis tanpa beban! Walaupun hasilnya bisa dibilang... ya begitulah, mungkin isinya gak jelas, modalnya pede dan nekat. Walau kosakata terbatas, cara menulis masih acak-acakan, tapi aku nggak peduli. Pokoknya, aku menulis! Begitu saja. Apapun yang muncul di kepala, aku tulis. Aku jarang sekali menghapusnya. Beda banget dengan pelajaran Matematika, yang tiap kali merasa jawabanku salah, langsung saja aku hapus berulang-ulang, sampai kertas bukunya kesakitan dan luka parah.
Aku ingat, masa SMA, tepatnya kelas 1 yang sekarang disebut kelas X. Waktu itu, Fakultas Pertanian mengadakan lomba karya tulis ilmiah. Undangan lomba itu disebar ke sekolah-sekolah SMA dan sederajat di sekitar kampus. Hal itu disampaikan oleh kepala sekolah kami, Pak Ibrahim ketika upacara bendera. Siapa saja yang mau ikut lomba tersebut diminta menulis nama dan memberikannya kepada guru bahasa kami. Pak Ramli.
Seminggu ditunggu tidak ada tanda-tanda kami mau ikut. Buktinya tak seorangpun diantara kami yang menulis nama dan memberikannya ke pak Ramli. Aku juga tidak. Bukan apa, gak pede dan gak ada motivasi. Pendek kata, tahu dirilah.
Pak Ramli, guru Bahasa Indonesia kami yang terkenal tegas namun bijaksana, tiba-tiba memanggilku ke ruang guru. Dengan suara serak khasnya, beliau berkata, "Kamu ikut lomba ini, ya?" Tanpa pikir panjang, aku langsung mengiyakan. Bukan karena bisa, tapi aku menghargai pak Ramli. Jika beliau percaya aku bisa, aku berusaha untuk itu. Apalagi sekolahku berada dalam kampus, bertetangga jauh dengan Fakultas Pertanian.
Waktu lombanya tinggal beberapa hari lagi, tak sampai seminggu, dan aku satu-satunya yang ditugaskan mengikuti lomba itu. Teman-teman lainnya? Ya, mereka tetap asyik dengan urusan masing-masing.
Waktu itu, akhir tahun lapan puluh tigaan, zaman itu internet belum ada setidaknya di sekolah kami. Bahkan kami belum pernah mendengar kata "internet". Satu-satunya sumber belajar, hanya dari guru. Kalau mau cari tahu gimana caranya nulis karya ilmiah, ya cuma bisa andalkan materi yang diajarkan di kelas. Begitu, deh.
Bismillah, aku mulai menulis. Semua kutulis di kertas folio, hampir bolak-balik kertasnya. Jadi bisa dibayangkan, hampir 4 halaman penuh. Tentunya, jangan ditanya isi tulisan itu seperti apa. Yang jelas, aku cuma menulis apa yang terlintas di pikiran saat itu. Temanya tentang lingkungan hidup. Sesuai tema, kucoba merangkai kata ke arah itu. Pokoknya tulisan jadi. Walaupun asal jadi. Gugur kewajibanlah. Aku tak mau mengecewakan guruku.
Setelah itu, aku serahkan tulisanku ke Pak Ramli. Entah apa yang beliau pikirkan, karena aku nggak diminta untuk memperbaiki atau mengedit apa pun. Bahkan, aku nggak tahu apakah tulisanku itu benar-benar dibaca atau cuma dibuang begitu saja.
Satu bulan berlalu, dan tiba-tiba di kelas, Pak Ramli memanggilku. Dia mengucapkan selamat karena aku sudah ikut lomba menulis yang diselenggarakan Fakultas Pertanian. Diberilah aku sebuah sertifikat dari Fakultas Pertanian, sebagai peserta yang "berani" ikut lomba. Berani nulis. Hehe.
Saat itu, entah kenapa aku merasa biasa saja. Tidak ada rasa bangga. Mungkin karena aku nggak dapat juara, dan aku pun nggak berharap bisa juara. Aku cuma ikut lomba karena itu adalah "keinginan" dari Pak Ramli.
Suatu hari, teman dekatku memperlihatkan sebuah amplop padaku. Di dalamnya ada selembar kertas berwarna pink. Isinya mengajak "berteman". Ini istilah zaman dulu. Mungkin istilah zaman now, pedekate berujung "nembak" . Aku diminta untuk menulis balasannya.
Sejak saat itu pula, aku jadi perpanjangan tangan temanku itu dalam hal balas membalas surat cintanya. Kadang aku pun memberi sedikit "bumbu penyedap" di tulisan itu, hal ini yang paling disukai oleh temanku. Aku jadi tahu isi hati dua makhluk yang sedang kasmaran itu. Tentu saja aku memasang "resleting" di mulut ku. Aku harus bisa menjaga rahasia teman. Termasuk rahasia hatinya.
"Menulis itu ternyata nggak susah-susah amat, ya" Pikirku.
Tulis aja apa yang bisa kita indera. Melihat, mendengar, merasakan, menyentuh... pokoknya yang bisa kita alami. Jangan mikir yang aneh-aneh. Nikmati aja prosesnya. Lama-lama juga terbiasa."
Aku baru sadar, menulis itu nggak harus punya bakat luar biasa. Nggak perlu! Yang penting ada kemauan, dan pastinya, bisa terus dilatih. Jadi, yuk menulis! Jangan takut untuk mencoba. Siapa tahu, nanti hasilnya bisa lebih keren dari yang kita bayangkan..
Malakasari, Jum'at, 4 Syawal 1446 H
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
