Rindu yang Menghidupkan (1)
BAB 1 — Rindu yang Menghidupkan
Angin pagi menyelip di antara jendela kayu rumah kecil di ujung desa itu. Embun masih menggantung malu-malu di ujung daun pisang, dan suara ayam bersahutan dari kejauhan. Desy bangun lebih awal dari biasanya. Ada rasa yang sulit ia ungkapkan, antara harap dan takut, antara rindu dan gugup.
Ia menatap ibunya yang masih terlelap di sudut kamar yang dibagi dua oleh lemari reyot. Sejak ayah pergi empat tahun lalu, rumah itu hanya dihuni tiga orang. Ibu, Desy, dan adiknya yang masih SMP. Tak ada orang lain, tapi cinta dan kekuatan mereka mampu menggantikan semuanya.
“Ya Allah, lancarkan jalanku hari ini…” bisiknya, sambil merapikan kerudungnya yang sudah mulai pudar warnanya.
Hari itu, Desy akan mendaftar kuliah. Ia tak tahu bagaimana nasibnya nanti. Uang yang dikumpulkan ibu dari hasil menjahit belum cukup untuk bayar daftar ulang. Melihat nilai rapornya tinggi, dan ada secercah harapan, berharap ia bisa masuk dengan jalur prestasi.
“Ibu cuma bisa bantu doa, Des,” kata ibunya malam sebelumnya, sambil mengelus rambut Desy. “Tapi kalau Allah mau, doa ibu bisa jadi kunci langit terbuka.”
Desy hanya mengangguk. Ia sudah terbiasa menahan tangis di balik senyum.
Setelah shalat Dhuha, ia sempat mengajar ngaji dua anak tetangga. Rutinitas kecil yang selalu ia jaga, bukan karena diminta, tapi karena ia suka. Apalagi si Rara, anak perempuan lima tahun yang cerewet tapi rajin, sudah menunggu dengan buku Iqro'nya mungilnya.
“Mbak Desy, jangan lama-lama kuliahnya ya. Nanti Rara ngajinya sama siapa?”
Desy hanya tertawa, menyembunyikan perasaan getir yang mengendap di hati. Ia ingin kuliah, ingin mengubah nasib, ingin membuat hidup ibunya lebih ringan. Tapi ia juga takut-takut tak mampu, takut menyerah di tengah jalan, takut kecewa.
Sore itu, sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya.
“Mbak Desy, Bunda minta tolong hubungi kami kalau butuh biaya masuk kuliah. Anggap ini sedekah untuk Rara yang jadi lebih semangat ngaji karena Mbak Desy.”
Tangis Desy pecah seketika. Ia duduk di tikar, menggenggam ponsel erat-erat. Bukan karena uang itu, tapi karena Allah menjawab doanya lewat cara yang tak ia duga.
Di sisi lain, beberapa hari kemudian, ia juga membaca tulisan di mading, sebuah pemberitahuan bahwa mahasiswa yang nilai IPKnya tinggi akan diberikan beasiswa, mulai dari semester dua jika IPK-nya di atas 3,5.
Desy menarik napas panjang. Aku belum diterima. Tapi kampus yang sedang ia datangi ini benar-benar sudah mengambil hatinya.
Aku daftar disini aja. Diploma III, Jurusan Fisika. Target 3 tahun lulus dan bisa mulai bekerja.
“Jalan ini bukan pilihan mudah, ya Allah… Tapi aku akan melangkah.”
Dan saat ia memilih Diploma Fisika, jurusan yang bahkan tak ia pahami benar. Itu bukan karena cinta, tapi karena keyakinan bahwa semua perjuangan akan menemukan bentuk keberkahannya sendiri, pada waktunya. Mungkinkah Desy menjadi mahasiswa?
Bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan