Salam Misterius
Azan Magrib baru saja beekumandang. Syahdu membuat hatiku bergetar halus. Suara muadzin menyeru mengajak orang menuju kebaikan. Udara senja di luar rumah terasa menusuk kulit.
Di sela suara keran air yang lupa kupadamkan, terdengar suara motor berhenti di depan rumah.
“Assalamualaikum…”
Aku menegang. Keran masih cerewet, tapi hatiku mulai waspada.
“Assalamualaikum…”
Kedua kalinya. Bukan cuma salam, ini suara yang familiar. Seperti suara Epi, bukan tetangga depan yang sering main ke rumah.
Tapi bukankah Fahmi tadi ke masjid? Pintu rumah pun kukunci. Ulfa masih berkutat di kamar mandi, mungkin sedang berdamai dengan sabun dan hidup.
Tapi aku nggak panik. Epi itu bukan orang asing. Dia udah kayak adikku. Jadi gak seperti tamu kalau datang ke rumah. Langsung aja seperti anak-anak di rumah. Dengan begitu hatiku jadi tenang.
Aku buru-buru menyelesaikan wudhu. Air sempat nyiprat ke dada, membahasai bagian dada, tapi tak apa. Kesehatan akhirat tetap prioritas.
Keluar kamar mandi, aku turun dan teriak dari tangga,
“Bentaaarr yaa, Epi!”
Langkahku ringan, tapi ada rasa penasaran yang menggantung.
Sebelum buka pintu, aku menunduk. Melongok ke arah gang depan. Sunyi. Hanya lampu yang menggantung di gang itu yang menerangi alam senja yang mulai gelap.
Kupingku belum mendengar respon dan belum melihat ada bayangan orang satupun di luar. Tiba-tiba terdengar suara motor hidup kembali, segera kubuka pintu pagar dan ngenggg…. melaju pergi.
Aku tepuk tangan keras, kode khas untuk memanggil seseorang. Tapi motor itu malah menjauh, seolah tak pernah ada urusan dengan rumah ini.
Aku sempat berpikir, mungkin aku salah dengar. Tapi kupaksa otak untuk mengingat. Suaranya tadi nyata sekali. Salamnya sopan. Sungguh, setan saja tak mungkin sepolos itu.
Aku balik ke kamar, pasang kacamata, cek ke luar lagi. Kosong.
Rasa penasaran mendorongku mengirim pesan ke Epi.
“Pi, barusan ke rumah ya?”
Balasannya tak lama muncul.
“Aku di Cikarang, Bun”
Deg.
Lah, jadi… siapa yang barusan kabur?
Kuabaikan perasaanku. Aku gak mau Magrib berlalu terlalu jauh. Selesai shalat. Aku duduk di sajadah. Tersenyum kecut. Mungkin ini bukan apa-apa. Tapi mungkin juga, Allah sedang mengajarkan sesuatu.
Bahwa dunia ini tak sekadar tentang logika. Ada waktu-waktu yang harus lebih dijaga. Seperti magrib ini, saat langit turun mengantar rahmat, tapi juga saat bisikan bisa datang tanpa undangan.
Aku terdiam. Merenung.
Mungkin salam tadi adalah teguran, bukan teror. Teguran agar aku tak sembarangan buka pintu, bahkan untuk suara yang kukenal. Teguran agar aku tidak lengah, bahkan saat merasa aman.
Rabu, 24 Syawal 1446 H, 23 April 2025
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan