Tradisi Manis di Hari Pertama Sekolah pasca Idul Fitri
Seperti tahun-tahun sebelumnya, hari pertama masuk sekolah setelah Idul Fitri di sekolah NASA selalu disambut dengan tradisi khas, halal bi halal.
Pagi tadi, halaman sekolah sudah dipenuhi senyum dan wajah-wajah cerah yang baru saja kembali dari kampung halaman, masih terasa aura ketupat dan opor ayam di udara.
Seluruh guru, karyawan, dan anak-anak dari kelas X sampai kelas XII sebanyak 20 kelas kali 36 anak (ya, hitung sendiri berapa tangannya!), berkumpul rapi di lapangan. Suasananya mirip reuni akbar, hanya saja yang ini dilengkapi dengan anak-anak yang berseliweran dan guru-guru yang mencoba berdiri tegak sambil menahan pegal.
Kegiatan dimulai dengan sambutan dari Ibu kepala sekolah, yang sudah terkenal dengan pidatonya yang penuh semangat dan kadang-kadang suka terselip pantun dadakan.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!
Lebaran sudah usai, waktunya kembali ke sekolah,
Mari kita saling memaafkan,
Agar hati bersih, semangat pun kembali membara!"
Tentu saja semua tepuk tangan, meskipun beberapa guru saling melirik sambil menahan tawa karena pantunnya terasa agak maksa. Tapi itulah kepa sekolah tak pernah kehilangan semangat!
Dalam sambutannya, beliau menyampaikan ucapan Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin, dan harapan agar setelah Ramadhan, semua warga sekolah menjadi pribadi yang lebih baik. “Kalau sebelumnya suka telat, sekarang jadi tepat waktu. Kalau sebelumnya PR suka lupa, sekarang jangan sampai lupa lagi, apalagi pura-pura lupa!” katanya, disambut senyum malu-malu dari murid-murid.
Setelah itu, momen inti dimulai, saling bersalam-salaman. Para guru dan karyawan berbaris di lapangan, siap menyambut para siswa. Kepala sekolah berdiri diikuti oleh guru dan karyawan setelah sebelumnya bersal mana dulu dengan kepala sekolah. kemudian anak-anak pun berbaris. Panjangnya antrian? Jangan ditanya. Bahkan salah satu guru sempat bercanda, “Kalau ini masuk olahraga, saya sudah lulus senam jari tingkat nasional!”
Meski lelah berdiri berjam-jam, apalagi harus menyalami ratusan tangan, para guru tetap tersenyum. Ada rasa haru setiap kali tangan-tangan itu terulur, diiringi ucapan, “Mohon maaf lahir dan batin, Bu…” dengan berbagai logat dan gaya, dari yang malu-malu sampai yang penuh percaya diri.
Tapi di balik semua lelah itu, ada kehangatan. Halal bi halal ini bukan sekadar tradisi, tapi momen penuh makna. Sebuah cara sederhana untuk mengajarkan anak-anak bahwa saling memaafkan itu indah. Bahwa setelah kesalahan, selalu ada kesempatan untuk memperbaiki diri. Dan bahwa sekolah bukan hanya tempat belajar pelajaran, tapi juga tempat menanamkan nilai-nilai kehidupan.
Saat acara usai, kaki memang pegal, suara serak, dan tangan terasa seperti habis diajak lomba tepuk tangan, tapi hati… ah, hati terasa ringan dan penuh syukur.
Rabu, 9 April 2025
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan