Lomba Iqamah di Ruang Guru
Bel masuk tinggal 10 menit lagi. Empat guru muda Yuyu, Titi, Lili, dan Fifi berlari kecil menuju pojokan ruang guru, tempat mereka biasa shalat.
Sebuah ambal agak tebal tergelar manis, cukup untuk delapan orang dengan posisi shaf super rapat yang bikin jidat bisa kena siku kalau nggak hati-hati. Tempat ini sudah mereka nobatkan sebagai musalla resmi tidak resmi, karena meski tanpa pembatas, suasananya tetap khusyuk. Kadang. Ya, kadang-kadang.
Siang itu, suasana agak hening. Titi lagi shalat qabliyah di belakang Yuyu, Lili di sebelah kanannya. Sementara Yuyu sudah selesai qabla, berdiri canggung sambil ngintip-ngintip. Matanya melirik ke Titi. Hmmm... gerakannya mulai melambat. Astaghfirullah, Titi sadar dia diperhatikan! Dan seperti paham rencana jahat temannya, ia malah tambah pelan. Sujudnya kayak slow motion sinetron.
Yuyu menghela napas. “Sudahlah,” batinnya. Ia pun berdiri tegak, menarik napas dalam-dalam, dan...
“Allahu Akbar, Allahu Akbar...”
Baru dua kata, suara lain memotong.
“Allahu Akbar, Allahu Akbar...”
Lho?! Titi berdiri juga, ngiqamah cepat-cepat, padahal baru salam barusan! Nggak mau kalah, Lili pun ikutan bersuara, suaranya sedikit serak tapi penuh semangat. Seketika, trio qamat bergema di musalla mungil itu. Tiga suara qamat saling bertabrakan di udara. Kayak audisi azan antar kampung.
Fifi, yang lagi shalat sunah di pinggir kanan, hampir tersedak tawa. Tapi demi kesucian shalat, ia tahan sekuat mungkin. Wajahnya merah menahan geli, bahunya bergerak-gerak kecil. “Ya Allah, jangan sampai batal,” lirihnya dalam hati sambil menahan napas. Tapi dalam hatinya sudah panik, “Ini siapa yang jadi imam? Jangan aku ya Allah, jangan aku...”
Ketiga cewek di kirinya itu akhirnya gagal menyelesaikan iqamah. Mereka malah terbahak bersama.
“Astaghfirullah, kayak lomba qamat aja!” kata Yuyu sambil ketawa ngakak.
“Kita bikin timnas qamat putri nih,” celetuk Lili sambil pegang perutnya yang kram karena ketawa.
Tiba-tiba, Titi berhenti tertawa, wajahnya berubah serius. Dengan keteguhan hati seorang santri senior, ia berdiri, mengangkat tangan dan...
“Allahu Akbar, Allahu Akbar...”
Ia qamat sampai tuntas, dengan penuh ketenangan dan suara merdu. Yang lain melongo.
“Yuyu, kamu imam ya,” kata Titi santai, lalu langsung geser ke sisi Yuyu.
“Lho, lho, kok aku?” protes Yuyu gak ikhlas.
“Kan kamu gagal qamat,” jawab Nela sambil nyengir.
Yuyu emang pantas jadi imam, bacaan Al-qur'annya sangat fasih, Hafidhah lagi. Mereka bersyukur punya teman seperti Yuyu.
Fifi pun ikut berdiri, merapat. Kali ini dengan hati tenang. Ia mengurut dada, Alhamdulillah, aman dari tugas berat jadi imam. Batinnya.
Shalat dimulai, tapi senyum masih menggantung di bibir mereka.
Shalat Dhuhur itu jadi salah satu yang paling diingat, khusyuk dengan bumbu tawa, dan penuh semangat berjamaah meski tempatnya sempit dan suara qamatnya adu cepat.
Malaka 3, Jum'at 16 Mei 2025
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan