Rapat Serius, Nada Dering Menjerit
Siang itu, langit mendung tapi penuh tekanan, Desy melangkah ke ruang serba guna dengan langkah penuh kalkulasi.
Pukul 13.50, rapat baru mulai jam 14.00, tapi aturan kepala sekolah lebih ketat dari jadwal kereta cepat.
"Siapa datang telat, siap-siap jadi viral"
Desy duduk. Rapat dimulai.
Kepala sekolah berdiri seperti komandan pasukan ninja.
"Tidak ada yang main HP. Ini ruang rapat, Mudah-mudahan satu jam kita selesai"
Semua mengangguk penuh hormat.
HP pun berpindah ke mode airplane...
Tapi Desy, sang pejuang rasa kantuk sejati, punya taktik licin.
Langkah 1: Gaya duduk rapat sempurna.
Langkah 2: HP diselipkan di balik buku catatan notulen rapat.
Langkah 3: WA dibuka... lalu dimulailah perang pantun gila di grup sebelah.
"Ikan hiu makan pepaya
Kalau kamu ngantuk
Kirim meme aja!
Desy sesekali menahan tawa. Bibir digigit, hidung mengembang.
Teman ngirim sticker absurd: kucing pakai sorban sambil berdiri di atas galon.
Hampir lepas tawanya....
Tiba-tiba...
SUASANA HENING.
Kepala sekolah lagi serius menjelaskan visi-misi 2045.
Dan saat itu...
“TRIIIINNGG!! TRIIINGG!! LAGU CINTA JERIT-JERIT BERGAUNG!!”
Nada dering HP Desy menyala,
kayak konser dangdut dadakan di tengah seminar ilmiah.
Lebih keras dari suara kipas.
Lebih nyaring dari haters saat ASAT.
"Astaghfirullah... itu suara dari mana? "
Semua menoleh.
Mata tertuju ke HP Desy yang jatuh ke lantai dan meronta-ronta seperti udang dibakar.
Meme kucing galon pun tersenyum melihat kekacauan ini.
Desy reflek, angkat tangan, izin keluar.
Wajahnya merah seperti tomat baru panen.
Langkah cepat, nyaris lari sprint ke luar ruangan.
Dan saat itulah...
Telepon dijawab.
"Assalamualaikum" Suara sepupunya dari seberang terdengar serak.
"Desy.... Nenek udah gak ada. Baru aja ninggalin kita. Suara tangisan masih terdengar....
Desy langsung terdiam. Dunia melambat.
Semua keriuhan dalam rapat seolah mengecil.
Nada dering yang tadi memalukan... justru jadi penyelamat.
Karena jika HPnya benar-benar silent, mungkin kabar duka itu tak akan sampai secepat itu.
Ketika Desy masuk lagi ke ruangan, semua mata kembali menatap.
Tapi kali ini bukan karena kesalahan...
melainkan karena ketenangan.
Kepala sekolah melirik dan berkata:
"Lain kali, HP tetap silent. Tapi kali ini... Bu Desy dimaafkan"
Desy tersenyum dalam hati.
“Terima kasih, ringtone dangdutku. Kau penyelamat mukaku.”
Kadang... yang kita anggap malapetaka, ternyata jembatan dari takdir.
Senin, 19 Mei 2025
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan