Silbet dan Perjuangan Rabu (1)
Rabu pagi. Bukan Jumat berkah apalagi Minggu ceria. Tapi buatku, rabu adalah hari uji nyali, hari adu sabar antara aku, kendaraan umum, dan mimpi-mimpi sederhana, tiba di sekolah dengan jilbab rapi dan tidak ngos-ngosan.
Sementara itu, Silbet, motor beat butut kesayanganku sudah standby sejak malam. Diam di ruang tamu rumah dengan wajah memelas. “Ajak aku dong, Bestiee,” katanya memelas dalam bahasa knalpot. Tapi aku cuma bisa balas dengan tatapan pilu dan pelukan batin. “Maaf ya Silbet, hari ini bukan giliranmu. Ada peraturan baru yang belum bisa kita tawar.”
Padahal kalau bareng Silbet, jarak 5 km bisa kutempuh sambil selawatan sepanjang jalan. Tapi kalau naik kendaraan umum? Hmm… perjalanan bisa jadi tour de kemacetan, lengkap dengan bonus nyambung dua kali dan sempat-sempatnya mikir, “Ini sekolah masih di Negeri Indah kah?”
Trauma minggu lalu masih lekat. Saat aku harus lompat dari Transjakarta ke pinggir jalan dan berlari balik arah karena kebablasan macam adegan film laga, sementara pundak menggendong tas, tangan bawa botol minuman, dan hati bawa doa supaya nggak telat. Pokoknya, satu jam penuh petualangan tanpa popcorn.
Subuh-subuh, aku malah mikirin strategi logistik ke sekolah. Saking gak khusyuknya, dalam shalatpun aku masih kepikiran itu. Selesai sholat aku berdoa, “Ya Allah selamatkan hamba dalam perjalanan, berilah yang terbaik untuk hamba ya Rabb”
Aku seperti mendapatkan ide cemerlang, kuputuskan untuk melakukannya. Lalu aku ke dapur beres-beres tipis aja, asal jangan tipis semangat. Langsung gas!
Kupakai masker dan jaket coklat favoritku, jaket pejuang musim panas dan hujan, dari dapur sampai kelas. Silbet kulirik. Dia masih sedih, tapi kutatap dan kubisikkan: “Ayo, kita berjuang bareng, Beat bututku yang setia.”
Dan benar saja, pagi ini jalanan seperti kasur empuk, mulus dan kosong. Roda-roda kendaraan menggelinding tanpa drama. Entah ini keberuntungan atau efek aku jalan lebih pagi. Yang jelas, aku sampai di sekolah tanpa drama, tak nyambung kendaraan atau nahan napas di tengah angkot penuh.
Silbet melaju kencang, seperti punya misi rahasia dari NASA didukung jalanan seperti musim lebaran. Mungkin suatu hari nanti BKT berubah jadi tol roda dua, siapa tahu, kan? Tak mau buang peluang, langsung tancap gas, membelah jalan dengan gaya emak-emak balapan, bak pasangan pembalap dan pit crew kompak tak terpisahkan
Dan akhirnya... brake screeekk! Kami mendarat mulus di pintu gerbang sekolah tercinta tanpa drama kopling ngadat atau sandal jepit lepas.
Pak Wandy, dengan seragam putih-hitam andalan, berdiri tegap di depan gerbang seperti bodyguard drama Korea. Tatapannya menembus jalan, seolah mencari pemeran utama yang belum datang.
"Pak, kira-kira saya parkir di mana ya?" tanyaku lembut, padahal napas masih ngos-ngosan karena lomba dadakan melawan waktu.
"Di belakang TU aja, Bu," jawabnya tenang, tanpa drama. Tapi matanya menatapku, lalu berkata: “Lho, ibu naik motor?!”
"Iya Pak, kalau saya kan boleh. Bapak lupa ya, saya kan guru honor"
"Eh iya, saya lupa..., kirain berlaku untuk semua. Katanya lagi tersenyum malu.
"Terima kasih, Pak." Aku senyum lebar, senyum selebar harga BBM naik, sampai kelihatan geraham yang sudah purnatugas. Eh, aku baru sadar, masker coklatku masih nempel. Menutupi sebagian wajah yang katanya sih cerah seperti pagi di bulan Dzulqaddah.
Silbet, yang dari tadi anteng, aku ajak melaju tipis-tipis menyusuri selasar belakang. Tempatnya semi gelap, antara lorong dan terowongan bawah tanah. Udara agak sumuk, kayak AC-nya lupa dinyalain sejak zaman penjajahan.
Beberapa temannya Silbet sudah parkir rapi. Mereka berdiri manja bersandar ke dinding, kayak ikan paus leyeh-leyeh di pinggir pantai. Aku cari-cari celah, dan Alhamdulillah, yes..! masih ada satu slot kosong!
Aku turun dari dengan gaya slow motion Silbet seperti di film-film action, kutuntun Silbet perlahan. Dia masih muda, usianya baru 14 bulan, tapi punya prinsip hidup yang kuat: “Gue berdiri tegak, gak usah nyender!” Ya sudah, aku turuti aja maunya.
Mataku menyapu sekitar. Sudah lama aku tak lewat sini. Banyak yang berubah. Lantainya kinclong padahal gak ada yang ngepel. Ada toilet baru, walau tetap kalah bersih sama toilet ruang guru lantai dua. Dan sebuah gedung baru tiga lantai menjulang tinggi, sebuah perguruan tinggi yang sedang bangkit dari nol. Mirip pom bensin, "mulai dari nol ya!"
Tak lama-lama nostalgia, aku segera melipir seperti ninja ke pintu belakang ruang Tata Usaha. Kubuka pelan, beri salam. Sepi, tak ada penghuni lain. Tak ada Mbak cantik yang duduk nyender seorang diri. Cahaya temaram ruang ini membuatku berpikir, apa ini lagi "efisiensi energi?". Dengan hati dag-dig-dug aku menyusup dengan langkah senyap melewati kardus bekas, dua kursi pensiun, dan mesin fotokopi yang lebih cocok jadi artefak museum.
Kubuka pintu ruang bacecamp para pahlawan administrasi itu dan taraaa! Aku muncul di pintu depan dari dalam. Mesin absensi sidik jari sudah menunggu seperti prajurit setia. Sang penjaga waktu yang tak kenal kompromi.
Beberapa Anak-anak lewat,
"Assalamualaikum ibu"
"Selamat pagi Ibu"
Lalu mereka menyalamiku. Tanganku auto refleks menyambutnya. Pagi yang indah, wajah mereka cerah-cerah meriah. Langit di atas kelas mereka masih biru di sapu awan-awan kelabu.
Kutiup telunjukku, “Bismillahirrahmanirrahim.” Kusentuhkan lembut ke layar supermini itu.
"Thank you," jawabnya kalem.
Aku senyum. Terpikat. Layar hijau itu... seperti ngerti perjuanganku. Karena penasaran, kusentuh lagi. "Thank you," ulangnya tanpa ekspresi. Ah, seolah berkata, “Santai Bu, kehadiranmu sudah terekam indah di sistem kami.”
Aku bersyukur, di sekolah ini aturan diperlakukan sama. Semua wajib prinjer pagi dan sore. Seperti halnya aku, walau guru honor, tetap sentuh layar absensi ples manual tentu saja.
Aku ngecek notifikasi WA. Grup "Kehadiran" udah ramai. Semua pasang foto. Lho, aku? Tenang, Aku gak wajib setor,tapi pingin juga. Aku kadang suka mikir andai aku seperti mereka. Dan sudah dua kali ini aku sedang bermain peran. Memerankan sebagai seorang guru yang sedang mengikuti sebuah aturan yang berlaku.
Aku belum foto! Aku Lupa! Foto sebagai bukti naik kendaraan umum! Lalu trik yang diajarin bu Ayu kemarin di mana nyangkutnya ya? Kayaknya nyangkut di hp shohibku deh. Aku emang minjem hpnya kemarin.
Aku tak mau kehilangan peran, inilah akibat terlalu mesra di jalan dengan Silbet sampai lupa misi utama.
Secepat kucing yang dengar suara kaleng ikan, aku melesat ke depan gerbang. Dengan santai penuh tipu daya, aku melangkah ke luar depan gerbang. Kubuka kamera depan ponselku, set sudut miring dikit biar dramatis tidak lupa senyum manis😁 lalu Cekrek! Foto selfie pagi berlatar jalan sekolah berhasil. Dengan senyum tanpa rahasia kukirim ke grup "Kehadiran". Misi nyaris gagal, akhirnya sukses juga. Alhamdulillah.
Sssttt... jangan bilang siapa-siapa ya. Kalau aku sedang memainkan peran. Mudah-mudahan jika aku diangkat menjadi guru yang diakui sebagai Pegawai Negeri, aku sudah terbiasa. Aku sudah mencuri star duluan.
Tapi... Jika dianggap beneran juga gak pa pa. Siapa tahu pejabat pembuat kebijakan terketuk hatinya dan mengevaluasi aturan naik kendaraan umum bagi pegawainya. Apalagi yang merangkap emak-emak, pejuang dapur subuh, lalu gladi resik di jalanan demi negara.
Pagi masih cerah. Awan di langit perlahan bergerak, begitu juga langkahku menuju lantai dua. Markas perjuangan. Bersama teman-teman seperjuangan, menata masa depan anak-anak negeri dengan sabar, canda, dan cinta.
Bersambung.....
Pondok Bambu, 7 Mei 2025
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan