Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Tamu di Ujung Tangga

TAMU DI UJUNG TANGGAP

oleh : Syahbati

"Oh... Bu Desynya lagi salat," terdengar suara Bu Nela menjawab seseorang yang mencariku.

Aku sedikit kaget. Kupikir tadi anak-anak yang mencariku untuk mengumpulkan tugas. Tapi ketika keluar dari ruang guru, kulihat seorang ibu berdiri di ujung tangga. Di anak tangga paling bawah, duduk seorang pemuda yang kutaksir seusai SMA.

“Lah… Ibu?” tanyaku heran.

Ibu itu segera menghampiriku. Aku menyalaminya dengan sopan, mencoba menyembunyikan rasa kagetku.

“Bu, kalau memungkinkan… saya ingin meminjam uang. Jaminannya KTP saya,” katanya, penuh harap.

Aku terdiam. Kami baru tiga kali bertemu. Pertama, ia datang menawarkan buku-buku agama untuk masjid sekolah. Dengan halus aku menolaknya, memberinya pengertian bahwa siswa hanya ke masjid saat waktu Zuhur, itu pun sebentar. Tak ada waktu bagi mereka untuk duduk dan membaca buku.

Kedatangannya yang kedua, masih dengan maksud yang sama. Dan hari ini, ia datang dengan alasan yang benar-benar berbeda.

“Saya mau ke rumah sakit, Bu. Mau membawa anak saya,” katanya lirih, sembari menunjuk pemuda yang duduk di anak tangga.

“Oh, sakit apa, Mas?” tanyaku pada si anak yang sejak tadi memperhatikan percakapan kami.

“Sering kejang-kejang, Bu. Kata dokter, epilepsi. Ini obatnya habis,” jawab ibunya mewakili.

“Sudah lama, Bu?”

“Beberapa tahun ini. Seingat saya, sejak dia jatuh dari metromini. Waktu zaman metromini masih ada,” katanya pelan.

“Tidak pakai BPJS, Bu?”

“Pakai. Tapi pernah beli juga, katanya ada obat yang tidak masuk resep BPJS.”

Aku mengangguk, tak ingin memperpanjang bahasan soal BPJS.

“Ibu butuh berapa?”

“Seratus, Bu,” katanya nyaris berbisik.

“Seratus ribu?” tanyaku, memastikan.

Ia mengangguk pelan. Lalu mengeluarkan KTP dan surat rujukan dari puskesmas. Aku membacanya sekilas, lalu mengembalikannya.

“Sebentar ya, Bu. Mudah-mudahan saya ada uang,” kataku, masuk kembali ke ruang guru, berdoa dalam hati agar uang jajanku cukup.

Beberapa menit kemudian aku kembali. “Ini uangnya, Bu. Ini juga KTP Ibu. Saya tidak meminjamkan, tapi memberi. Ambillah. Mudah-mudahan Allah memberi kesembuhan untuk Mas-nya.”

Matanya berkaca-kaca. Ucapan terima kasih dan doa tak putus dari bibirnya. Pemuda itu berdiri, ingin menyalami. Aku sedikit mundur.

“Maaf, Mas. Saya masih berwudu,” jelasku.

Setelah mereka pergi, aku bersandar di dinding depan kamar mandi. Tanpa kusadari, air mata menitik. Aku lama diam, berpikir.

Beginilah hidup.

Tak semua datang dengan tawa. Tak semua pertemuan hanya tentang tugas dan kelas. Kadang Allah titipkan kasih sayang-Nya dalam bentuk ujian kecil, lewat seseorang yang bahkan belum akrab.

Alhamdulillah Ya Allah, terima kasih. Telah Engkau pilih aku untuk menjadi bagian kecil dari pertolongan-Mu hari ini.

Malaka Sari, 2 Dhulhijjah 1446 H, 29 Mei 2025

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post