Termodinamika di Lab Fisika
Bab 1: Panas Itu Ilmu, Bukan Emosi
“Des, kayaknya kita salah pintu deh.”
Lara menahan napas sambil memeluk tas selempangnya. Dinding-dinding laboratorium ini bukan seperti lab fisika biasa yang bau solder dan kabel semrawut. Di sini, semua tertata rapi. Terlalu rapi. Udara terasa hangat, tapi bukan dari AC. Lebih kayak dari… ketel air raksasa?
Desy mengintip ke dalam. Di sudut ruangan berdiri mesin-mesin mengkilap dengan pipa-pipa yang menyemburkan uap. Satu di antaranya bergetar halus, seperti habis nelen rahasia besar.
“Lah, bukannya tadi tulisannya Lab Moving Fisika ya?” bisik Desy.
Lara menunjuk tulisan di dinding belakang dengan ekspresi panik:
"RUANG TERMODINAMIKA: PANAS ITU ILMU, BUKAN EMOSI."
Mereka berpandangan.
“Jangan-jangan ini kayak film… kita masuk dunia teori!” gumam Desy.
Belum sempat Lara membalas, pintu di belakang mereka menutup sendiri. Klik. Terkunci. Lampu berubah redup, lalu nyala merah seperti alarm. Mesin kopi di pojok kanan tiba-tiba menyala sendiri dan mengeluarkan suara
:"Selamat datang di Ruang Termodinamika. Anda akan menjalani simulasi: Bertahan Hidup dengan Energi Dalam."
Desy menjerit. “La! Kopinya ngomong!”
Lara sudah siap pingsan..
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan