Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Koreksian dan Sajadah yang nyaris Terlupa

Koreksian dan Sajadah yang Hampir Terlupa

Oleh Syahbati

Ruang guru, lantai dua. Suasana sibuk luar biasa. BPuku nilai terbuka, pensil warna-warni menyelip di antara kertas jawaban, laptop terbuka di sana-sini. Yang satu mengetik sambil komat-kamit, sesekali memperhitungkan nilai sikap, yang lain sibuk menandai angka KKM,

ada pula yang mencoret-coret rubrik penilaian seperti seniman mural di dinding kereta.

Aku?

Aku diam. Duduk santai sambil menatap HP dengan senyum yang terlalu tenang untuk ukuran hari pembagian rapor yang makin mendekat.

Salah satu teman menyindir dengan senyum,

"Bu, nilainya udah masuk semua yaa?"

Aku hanya nyengir. "Sudah dong. Tapi yang tahun lalu"

Padahal… buka laptop aja belum. 🤭

Sejujurnya, aku bukan gak mau kerja. Tapi gimana, tumpukan koreksian di meja itu terlalu menyeramkan.

Bukan karena angkanya ribet. Tapi tumpukan buku merah dan hijau itu banyak!

Aku takut ada yang hilang, atau ketindih kertas lain yang gak jelas.

Makanya aku pindah ke meja besar paling depan, dekat dengan tempat shalat lagi. Jadi pindah posisi bukan karena menyerah, tapi strategi.

Sambil menenangkan diri, aku pingin ngopi dulu. Tapi bukan kopi tubruk hitam kesukaan, tapi kopi siap saji yang ada di laci. Tiba-tiba aku ingat perut belum terisi sejak semalam. Ngopi dalam keadaan lapar bisa jadi bumerang. Bukannya fokus ngolah nilai, malah jadi bahan rujukan IGD. 😅 Na'uzubillah.

Akhirnya turun, beli makanan berat sekalian. Demi perut yang sejak tadi nyanyi keroncong dengan beat remix.

Lalu aku duduk, buka HP, dan…

Chat Lara. Kembaran kataku di seberang sana. Teman ngobrol yang selalu siap mendengar dan sering ngasih solusi.

Curhat. Menyapa hari. Mencatat makna dari hal-hal sederhana. Terkadang hanya tentang sepatu siswa yang bolong. Atau senyum guru yang tetap tulus meski koreksiannya banyak.😌

Ketika banyak kerjaan, ide pun malah banyak berdatangan. Jadinya aku ingin menulis saat itu juga. Aku bisa senyum sendiri ketika sedang merangkai kata, bisa juga menitikkan air mata. Kadang, kita butuh senyum, tawa dan air mata.

Tapi hari ini berbeda. Saking asyiknya ngobrol sama Lara, aku lupa satu hal penting. Aku sudah berwudhu sejak pagi. Tapi belum shalat dhuha. Lagi-lagi, syetan pintar mencuri waktu.Bukan dengan dosa besar, tapi dengan penundaan kecil. Menunda kebaikan, menunda shalat, menunda janji pada diri sendiri.

Lalu kutatap koreksian itu lagi.Kertas dan buku itu diam.Aku mendesah. Dan tersenyum. Aku akan kerjakan nanti. Sekarang, aku punya janji dulu dengan sajadah.Biarlah nilai siswa menunggu, karena aku sedang menyusun ulang nilai diriku di hadapan Allah. Mudah-mudahan Allah tersenyum dulu padaku.

Aku merenung. Kupikir, jadi guru bukan soal angka-angka. Tapi tentang bagaimana tetap waras di tengah tekanan, tetap tertawa meski lelah, tetap shalat meski sibuk.Karena hidup ini bukan cuma tentang siapa yang cepat mengisi nilai, tapi siapa yang tak lupa menilai dirinya sendiri di hadapan Sang Pemberi Nilai.

Pondok Bambu, Rabu, 11 Juni 2025

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post