Kursi Goyang dan Mimpi yang Bergoyang-goyang
Kursi Goyang dan Mimpi yang Bergoyang-goyang
Oleh Syahbati
Dulu… waktu aku masih ABG bau matahari, hidup di kampung dan belum kenal skincare, satu hal yang sering kulakukan selain nonton sinetron dari TV tetangga adalah: ngayal. Iya, ngayal jadi orang kaya. Tapi bukan kaya yang punya istana dan kolam renang, lho. Kayalanku lebih spesifik: duduk di kursi goyang sambil baca koran, dengan kacamata yang nangkring setengah di ujung hidung. Gaya emak-emak sosialita yang sering nongol di sinetron-sinetron jaman dulu. Elegan. Tenang. Kaya gak punya cicilan.
Sementara aku? Jungkat-jungkit di pohon kelapa tumbang bareng temen-temen. Itu pun rebutan. Kursinya satu, penuhnya tujuh orang. Goyang dikit udah miring. Tapi tetap bahagia. Walau tanpa kacamata dan tanpa majalah, kami punya daun pisang dan cerita-cerita lucu.
Tahun berganti. ABG berubah jadi emak-emak. Drama di TV tergantikan drama nyetrika baju sambil kejar deadline nilai. Tapi hayalan itu ternyata masih tersisa.
Satu hari, scrolling IG bukan cari info parenting atau resep viral, tapi malah nemu iklan: KURSI GOYANG MODERN. Bisa dilipat. Bisa rebahan. Bisa santai. Bisa… tidur sampai pagi.
Langsung deh kubisikkan hasrat ke suami: “Bang… aku mau kursi ini. Aku ingin bisa jadi emak-emak di sinetron masa kecilku.” Untung suamiku tipe realistis nan romantis. Dia jawab, “Kalau bisa bikin kamu nggak stress lihat nilai anak-anak muridmu, ya beli aja.” Wuih mantap.
Tiga hari kemudian, kursi goyang impian mendarat mulus di rumah. Warnanya kece. Abu-abu. Kakinya melengkung lembut, kayak lengkung senyum ketika nyeruput kopi. Duduk, dorong pelan, dan... Wushh... goyangannya halus kayak pelukan angin sore. Mau duduk bisa. Mau selonjor bisa. Mau meringkuk sambil nulis puisi juga bisa. Bahkan, waktu aku keasikan, sempat ketiduran dari habis isya sampai subuh. Mungkin ini yang dulu dirasakan emak-emak sinetron itu. Bedanya, mereka baca koran, aku baca chat grup anak-anak fisika. Sama-sama goyang, tapi satu goyangin opini, satu lagi goyangin hidup. 😆
Dan sekarang, kursi itu jadi saksi bisu:
Ketika aku ngoreksi tugas sambil selonjor. Ketika aku curhat ke Lara tentang siswa yang nyontek rumus tapi gak ngerti konsep. Ketika aku pura-pura gak dengar anak minta uang jajan sambil tutup mata pura-pura tidur.Kursi goyang bukan cuma barang, dia adalah kenangan masa kecil yang akhirnya jadi nyata. Mungkin, kita nggak bisa balik ke masa jungkat-jungkit di pohon kelapa. Tapi kita bisa menggoyang mimpi kita sendiri, walau hanya di sudut ruang tamu, dengan sepotong kopi dan setumpuk cinta.
Malaka tiga, Senin, 16 Juni 2025
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan