Puskesmas
Langkah yang Berbelok ke Puskesmas
Oleh Syahbati
Pagi itu aku bangun dengan niat yang… agak ngambang.
Sajadah sudah tergelar sejak Subuh, tas sudah siap, dan motor kesayangan sudah menanti di teras rumah. Tapi aku—aku malah diam menatap dinding. Antara ingin ikut healing bersama teman-teman, atau ikut kata hati yang belum tentu tahu arah.
Teman-teman bilang, “Ayo ke Tanah Abang! Siapa tahu dapat diskon jilbab lebaran.” Tapi... aku sedang tak ingin berbelanja. Hati ini lebih ingin sunyi. Tapi juga ingin sembuh. Bukan cuma sembuh dari pilek yang menggoda hidung sejak dua pekan lalu, tapi juga dari lelah yang tak bisa dijelaskan.
Aku diam sejenak. Lalu, kuambil air wudu. Shalat Dhuha dua rakaat. Sejenak setelah salam, muncul rasa... seperti ada bisikan lembut:
"Ke puskesmas saja, Desy."
Entah dari mana ilham itu. Tapi aku tahu, itulah arahku hari ini.
Episode Timbangan dan Dosa Karbohidrat
Sampai di puskesmas, suasana lengang. Hanya ada Pak Fuji, petugas ramah yang seolah telah hafal wajah-wajah pasien langganan. “Sudah pada pulang, Bu,” katanya sambil tersenyum.
Aku mengangguk sambil menarik napas. “Masih bisa berobat, Pak?”
“Bisa dong. Tinggi badan sama beratnya berapa ya?”
Aku menyebut angka sekenanya: 149 cm dan 55 kg.
Tapi saat aku menaiki timbangan digital, layar itu menjerit diam-diam: 57.1 kg.
Aku mematung. Astaghfirullah… Kapan naiknya dua kilo ini?
Mungkin... mungkin karena kue bolu kukus ibu RT minggu lalu. Atau martabak telur yang "katanya buat anak", tapi aku yang habisin. Duh, dosa karbohidrat!
Di Balik Masker Dokter Rambuyin
Setelah perjalanan singkat ke lantai dua, aku duduk menanti dengan sabar. Menatap anak-anak kecil yang meringis, orang tua yang disangga oleh cinta dari anaknya, dan remaja yang sibuk dengan HP—semua sedang berjuang dalam sunyi. Puskesmas adalah rumah kecil dari ribuan cerita tak terdengar.
Namaku dipanggil. Aku melangkah ke ruang dokter. “Selamat pagi, Dokter…” sapaku pelan.
“Pagiii,” jawabnya hangat, meski hanya terlihat dari sepasang mata di balik masker. Tapi entah kenapa, aku merasa disapa oleh langit. Sungguh, keramahan itu tak butuh senyum yang terlihat.
“Ada keluhan apa?”
“Nafas dari hidung saya terasa bau, Dok. Kayak... gak segar. Sudah lama juga.”
Dokter Rambuyin mengangguk, lalu menyenter hidungku dengan lembut.
“Agak merah, Bu. Sepertinya infeksi ringan. Kita coba obat dulu ya, jangan khawatir.”
Aku mengangguk. Kadang, yang dibutuhkan hanyalah kalimat: "jangan khawatir."
Kalimat yang bisa menenangkan jauh lebih dalam daripada antibiotik.
Obat, Doa, dan Langit yang Cerah
Aku kembali ke lantai satu, duduk di dekat apotik, menanti obat sambil memandangi langit dari jendela besar.
Langit Jakarta hari itu biru. Tidak selalu bersih, tapi cukup untuk membuat hati ini mengembang.
Obatku siap: tiga jenis, dengan jadwal minum yang teratur. Aku membawa tas kecil, obat, dan... rasa syukur.
Syukur karena hari ini hatiku dipandu menuju tempat yang benar.
Bukan mall. Bukan taman. Tapi puskesmas.
Tempat sederhana yang memberiku lebih dari sekadar obat.
Di sana, aku melihat kasih sayang. Kesabaran. Dan kerendahan hati.
Aku pulang. Menyusuri jalan kecil dengan motor kesayangan.
Udara pagi yang hangat membelai pipi. Dan dalam hati aku berdoa,
“Ya Allah, sehatkanlah tubuh ini, beningkanlah niatku, dan jangan biarkan aku kehilangan arah. Jika semua langkahku hanya menuju kesia-siaan, maka arahkanlah kembali, seperti Engkau arahkan aku hari ini.”
Dan begitulah Desy. Healing yang niatnya semu, justru menjadi perjalanan jiwa yang penuh makna. Kadang kita tak perlu tahu ke mana akan melangkah. Cukup bawa hati yang jujur, doa yang tulus, dan motor yang siap sedia.
Sisanya? Serahkan pada Allah yang Maha Membalikkan Hati dan Jalan.
Malaka Sari, Senin, 24 Juni 2025
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan