Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Surabaya

...Jawabannya bikin kami mesem-mesem:

“Boleh, Bu. Tapi belum bisa check-in, ya. Nunggu dua jam sebelum terbang.”

Aku menatap jam di pergelangan tangan. Masih ada waktu dua jam lebih dikit.

Suamiku melirik ke arah kursi tunggu yang melambai-lambai menggoda.

“Duduk dulu, yuk,” katanya.

Aku mengangguk. Kami duduk berdampingan. Dua ransel kami letakkan di kaki.

Ringan, tapi cukup menyimpan mimpi.

Aku menoleh ke sekeliling. Banyak wajah dengan cerita berbeda. Ada yang tampak terburu-buru, ada yang diam menatap layar HP dengan wajah penuh rindu, mungkin pada kampung halaman yang akan dituju.

Aku? Aku merasa seperti anak kecil yang diajak jalan-jalan keluar kota.

Senang. Bahagia. Dan... sedikit grogi entah kenapa.

Mungkin karena sudah lama kami tak pergi berdua. Hanya kami. Tanpa anak. Tanpa koper besar.

Hanya aku, dia, dan selembar tiket menuju Surabaya.

Hari itu langit Jakarta bersahabat.

Tidak terlalu panas. Tapi cukup membuat keringat kecil muncul di dahi.

Aku lap dengan tisu yang tadi terselip di kantong tas selempang.

Tisu penuh parfum. Aku tersenyum sendiri.

“Tanda siap difoto,” batinku.

Tas ransel kami tidak hanya berisi pakaian dan perlengkapan.

Tapi juga bekal:

— Gamis senada dan semangat yang tidak mudah pudar.

— Jilbab panjang dan hati yang tak ingin tertinggal.

— Power bank penuh dan harapan agar sinyal cinta tak pernah low-batt.

Citilink QG-724 belum datang. Tapi perasaan ingin terbang sudah mengangkasa.

Di bangku ruang tunggu itu, aku dan suami bukan hanya menunggu pesawat.

Kami juga menunggu babak baru dalam kisah berdua.

Setelah duduk cukup lama di ruang tunggu, akhirnya pengumuman itu datang juga:

“Kepada penumpang Citilink QG-724 dengan tujuan Surabaya, dipersilakan boarding melalui gate 9...”

Aku menoleh ke suami. Ia langsung berdiri, meraih ransel, dan tersenyum kecil.

Aku ikut berdiri. Tas selempang kukaitkan ke bahu.

Langkah kami pelan tapi pasti menuju gate, seperti dua murid sekolah yang tak sabar study tour.

Di depan petugas, tiket discan, kami ucapkan salam. Mereka membalas ramah.

Ada rasa deg-degan yang lucu—bukan karena takut terbang, tapi karena semangat jalan-jalan yang sudah lama absen dari hidup kami.

Masuk ke pesawat, deretan kursi menyambut seperti sahabat lama.

Kami duduk bersebelahan. 24A dan 24B. Dekat jendela.

Aku mengintip keluar. Sayap pesawat membentang. Langit seperti menunggu kami.

“Dudukmu enak?” tanya suami.

“Enak. Tapi hati lebih enak,” jawabku, sambil nyengir.

Ia tersenyum. Kami tertawa kecil.

Tak lama, pesawat mulai bergerak.

Deru mesinnya seperti nada pembuka dari sebuah perjalanan yang bukan hanya fisik, tapi juga batin.

Ketika roda mulai terangkat dari landasan, aku menatap awan.

Di dalam hati aku berbisik,

Ya Allah, terima kasih atas kesempatan ini. Perjalanan kecil yang besar maknanya. Bersama orang yang tak pernah letih menjadi tempat pulang.

Di kabin, aku menyandarkan kepala sebentar. Tak ingin tidur, hanya ingin merekam.

Merekam rasa, merekam momen.

Karena nanti, setelah mendarat, kisah ini akan terus tumbuh.

Di Surabaya, kami akan menapaki langkah baru—masih berdua, masih membawa ransel yang sama, tapi dengan isi cerita yang lebih kaya.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post