Shalat Idul Adha di Lapangan Parkir
"Allaahu Akbar... Allaahu Akbar... Allaahu Akbar..." Suara takbiran bersahutan antar masjid-maajid terdekat yang terjangkau pendengaran. Udara pagi ngebawa aroma qurban dan semangat umat yang lagi bersiap. Aku berdiri di depan cermin, jilbab udah rapi, hati deg-degan bukan karena daging, tapi karena rindu pada Allah.
Nggak ada yang boleh nyolek dapur. Perut dibiarkan keroncongan sampai selesai shalat 'Id. Karena ini bukan cuma soal makan daging, tapi soal takwa. Dan shalat Idul Adha emang lebih pagi dari Idul Fitri. Jadi kami nggak bisa lelet. Aku dan bu Yesi, besanku yang selalu kompak kayak duo penyanyi religi, udah siap keluar rumah. Chaca? Dapat tamu bulanan. Purna? Belum suci. Dua remaja tangguh, Dhiya dan Mujib, udah kukasih dua sajadah. Mereka ikut ayahnya di barisan cowok.
"Kok lurus Bun?" tanya Bu Sam, melihat aku nggak belok-belok. "Biar beda jalan pergi-pulang, bu. Sunnah Rasul," jawabku santai.
Kami sampai di lapangan parkir besar. Tiga masjid kompak jamaahan di sini. Lapangan ibadah ini muat ribuan jamaah. Wanita di kiri, pria di kanan. Kami belok kanan, nyari spot bersih dan adem. Aku tengok bu Yesi, dia angguk-angguk kayak konduktor.
Aku senyum ke seorang ibu yang lagi gelar karpet tipis. Kutarik dua jilbab jadul dari tas buat alas sajadah. "Jangan bu, sayang. Ini cukup kok. Saya sendirian. Yang ini buat dua sajadah lagi," kata si ibu. Masya Allah, baiknyaaa...
Tiba-tiba, datang Bu Sela dari kiri, nyaut, "Bun, ini kita gabung aja ya. Gak usah pake jilbabnya. Kertas tipis ini lebar. Kita cuma berdua."
Hatiku hangat. Lihat orang-orang ini, berbuat baik tanpa banyak kata. Aku tahu, mereka pasti sadar ini hari-hari istimewa di 10 Dzulhijjah. Amalan sekecil apapun bisa jadi besar di sisi Allah. Aku juga niat bawa 3 jilbab, tapi kalah gercep.
Lapangan mulai penuh. Takbir makin syahdu, shaf makin rapat. Panitia ngasih aba-aba: "Maju bu, rapatkan shafnya." Aku fokus. Takbir terus kulantunkan, menunduk, mata tertutup. Gak mau kepotong ngobrol. Ini waktunya aku berdialog dengan Allah. Besanku juga khusyuk.
Rangkaian shalat 'Id selesai. Kami bersalaman di lapangan. Silaturahmi model praktis. Salim-salim, cipika-cipiki, saling mendoakan. Hangat banget rasanya. Pulangnya, kami pilih rute ketiga. Agak jauh sih, tapi bisa sekalian lihat hewan qurban di Masjid Al-Mujahidin.
Alasan aslinya? Hehehe... biar gak ketemu panitia kantong amal dulu. Tapi akhirnya mampir juga. Karena, ya itu tadi, semoga semua ini jadi bekal amal kalau besok Allah izinkan kita buka mata lagi.
Hari ini bukan cuma tentang daging dan sate, tapi tentang ikhlas, tentang berbagi, tentang mengagungkan Sang Pencipta. Semoga Allah ridha. Aamiin yaa Rabbal'aalamiin...
Jum'at, 10 Dzulhijjah 1446 H
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan