Cinta yang mengapung di kolam renang
Cinta yang Mengapung di Kolam Renang
oleh Syahbati
Pagi itu, langit belum benar-benar bangun, tapi Desy sudah bangkit lebih dulu—menyusun semangat dalam kantong plastik kecil berisi baju ganti, handuk, dan jilbab instan. Suaminya sudah siap di atas motor, helm disodorkan dengan senyum setengah kantuk, setengah cinta.
"Yuk, renang," katanya singkat. Desy cuma nyengir, deg-degan. Bukan karena takut air, tapi... karena topeng renangnya tertinggal di rumah—sengaja. “Aku takut kamu kabur lihat aku kayak ninja Jepang yang kesasar ke kolam,” batinnya geli. Suaminya tertawa waktu Desy cerita itu. Tapi tetap, topeng renang dibiarkan tidur di lemari.
Kolam renang tak jauh. Hanya dua kilometer. Tapi rasanya seperti perjalanan bulan madu kedua—naik motor berdua, tanpa anak-anak, tanpa keribetan. Cuma angin pagi dan kenangan yang ikut menempel di kerudung.
Sesampainya di sana... ramai. Libur sekolah. Tiket masuk naik. Tapi air kolam hari itu bening seperti hati yang baru di-laundry. Seorang nenek dengan topi lebar menyapa Desy, “Airnya beda hari ini, bersih banget. Saya udah langganan di sini sejak 12 tahun yang lalu, dari pertama buka.” Desy tersenyum sopan, dalam hati: “Luar biasa, neneknya setia. Aku aja kadang pindah-pindah kolam.” 😅
Desy tak suka ribet. Baju renang sudah dipakai dari rumah, tinggal copot outer dan... byurrr, nyemplung penuh gaya. Gaya bebas. Gaya Desy.
Di ujung kolam, ibu-ibu dan nenek-nenek muda melakukan senam air. Ada yang pakai topi renang, ada yang pakai topeng seperti pasukan penyelamat dunia. Ternyata mereka bukan mau ikut olimpiade. Mereka pejuang—melawan saraf kejepit. Ada instruktur senam, seorang lelaki yang dulunya penderita, kini penyembuh. Ia menebar gerakan, semangat, dan air cinta. Sungguh, kolam ini bukan sekadar tempat bermain. Ini tempat penyembuhan. Tempat berbagi. Tempat bergerak walau sendi sempat lelah.
Sementara Desy? Ia main air seperti anak kecil yang baru pertama belajar berenang tapi langsung sok gaya. Kadang menyelam ke dasar kolam, menahan napas, lalu membiarkan tubuhnya mengapung perlahan—seolah sedang merenung tentang gravitasi dan hukum Archimedes.
"Aku bakal ceritain ini ke anak-anak di kelas nanti," gumamnya. Berenang bukan cuma olahraga, tapi juga cara praktis memahami fisika.
Suaminya mengamati dari pinggir kolam. “Kamu udah lumayan gaya kodoknya,” katanya sambil nyengir. “Ya iyalah, masa gaya kuda laut?!” jawab Desy sambil nyipratin air ke wajah suaminya. Mereka tertawa. Suara tawa mereka tenggelam di antara sorak anak-anak, gemericik air, dan cinta yang tak butuh gaya.
Matahari merangkak naik. Panas mulai terasa, tapi suasana tetap menyegarkan. Setelah dua jam berenang gaya suka-suka, Desy keluar dari kolam, mandi, dan ganti baju.
Tak lupa, sebelum pulang, mereka mampir ke warung kecil di pinggir jalan. Pecel dengan bumbu kacang yang berani, disajikan di atas daun pisang. Nikmatnya sederhana, seperti pagi itu: Air, senyum, dan rasa syukur karena bisa berenang bersama, tanpa perlu menang dalam lomba apa pun.
Pulanglah Desy dengan rambut sedikit basah, tapi hati penuh cerita.
Karena terkadang, cinta tak perlu liburan mewah atau destinasi jauh—cukup kolam renang 2 km dari rumah, dan sepiring pecel di pinggir jalan.
Baiti Jannati. Selasa, 12 Muharram 1447 H
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan