Empat Menit yang Mengajari Aku Tentang Waktu
Empat Menit yang Mengajari Aku Tentang Waktu
Oleh Syahbati
Empat menit.
Hanya angka kecil di antara sekian banyak detik yang lalu-lalang tiap hari. Tapi malam itu, angka kecil ini menjelma jadi tamparan yang cukup keras bagiku.
Awalnya aku santai saja. Masih sempat bercanda sama Lara, nulis ini-itu tentang literasi. Hape di tangan, pikiran bercabang-cabang: antara ide, lelah, dan mata yang mulai berat sebelah. Tapi aku yakin, aku masih pegang kendali. Paling nanti, setelah ngopi bentar, aku setor tulisan ke Gurusiana seperti biasa. Target menulis tanpa jeda, kan udah jadi komitmen yang kutanam kuat-kuat di dada.
Tapi malam punya rahasia lain. Entah kapan aku mulai terlelap. Yang pasti lampu kamar masih terang, hape masih di tangan, dan file tulisan masih terbuka. Aku terbangun bukan karena alarm, bukan karena azan. Tapi karena rasa yang aneh. Seperti ada yang mengetuk pelan dinding hati. Aku bangun, kucek mata. Kugeser layar hape… 00:04 “Astaghfirullah…”
Empat menit sudah tanggal berganti. Empat menit yang menghapus jejak komitmenku selama ini. Empat menit yang membuat hatiku meringis, lidahku beristighfar panjang.
Aku duduk diam. Menatap layar hape yang seolah-olah sedang menatapku balik sambil berkata, “Telat, Desy…”
Bukan tentang sekadar tulisan yang tak terkirim. Bukan tentang absen satu hari di Gurusiana. Ini tentang janji. Janji pada diri sendiri. Janji yang semalam tak mampu kulindungi dari sergapan kantuk.
Sejenak aku termenung. Betapa mudahnya waktu mempermainkan kita. Hari ini kita hidup, bernapas, tertawa, menulis… esok siapa tahu? Siapa jamin besok kita masih bisa mengetik satu huruf? Siapa jamin besok kita masih bisa mengeja satu kata, apalagi menyusun satu paragraf?
Penyesalan selalu datang belakangan. Kalau datang duluan, namanya pendaftaran. Hehehe… aku tersenyum getir sambil menertawai nasib diri sendiri.
Tapi sudahlah. Aku paham sekarang. Hidup bukan soal menyesali kemarin. Tapi soal memperbaiki esok. Jangan sampai lalai kedua kali. Jangan sampai menunda lagi. Jangan sampai hari-hari kita berlalu sia-sia tanpa bekas kebaikan.
Aku bangkit.Ambil kertas besar. Kertas kalender yang tergantung di dinding. Kutulis di baliknya. Jadwal harianku:
Waktu menulis Waktu membaca Waktu bersama Allah Waktu bersama keluarga Waktu istirahatAku tempel besar-besar di dinding kamar. Biar aku sadar: Waktu itu mahal. Dan kesempatan kedua tak selalu datang.
Aku tak ingin lagi terlelap di antara detik-detik yang membawa penyesalan. Karena bukan soal tulisan yang terlewat, tapi soal hidup yang terlalu singkat untuk disia-siakan.
"Ya Allah, ajari aku menjaga waktu sebelum waktu benar-benar pergi meninggalkan aku…beri petunjukMu selalu ya Rabb, tunjukin jalan yang menuju padaMu ya Ilahi"
Bakti Jannati. Kamis, 17 Juli 2025
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
