Dalam Dua Hari, Dua Luka
Aku duduk di ruang tunggu. Tak banyak bicara. Hanya menggenggam jemari sepupuku yang baru saja kehilangan anak bungsunya—seorang bocah laki-laki manis yang baru tujuh tahun. Penyakit jantung bawaan yang membawanya pergi, seperti angin yang datang tanpa aba-aba, lalu hilang tanpa pamit. Kami hanya bisa menemani. Tak ada yang bisa diucapkan, sebab kata-kata seringkali terlalu sempit untuk menampung kesedihan sebesar ini.
Sore merayap ke malam. Jenazah kecil itu dibawa ke Bandara, dibaringkan dengan tenang, dikelilingi doa dan air mata. Ibunya ikut, tentu. Mana ada ibu yang rela berpisah di saat seperti ini?
Kami kembali ke rumah. Jalanan Jakarta menyambut kami dengan macet yang luar biasa. Keringat membasahi punggungku. AC mobil memang belum sempat diperbaiki. Tapi siapa yang bisa mengeluh dalam kondisi seperti ini?
"Syukuri aja," ucap suamiku lembut. "Masih banyak yang lebih menderita."
Aku mengangguk. Diam. Merenungi. Di kota besar ini, di balik kaca-kaca mobil, ada yang kehilangan anak, ada yang kehilangan semangat, dan ada pula yang kehilangan harapan.
Jam delapan lebih kami sampai rumah. Mengipas-ngipas diri sendiri sambil berharap keringat segera menguap. Tapi ternyata malam belum selesai menggugurkan kabar duka.
Suara pesan masuk di WA suamiku memecah sunyi. Sepupunya menelepon dari ujung Sumatera. Adik iparku—ya, adik dari suamiku—sakit. Lemah. Sudah dua hari tidak bisa makan dan minum. Tubuhnya tak kuat lagi. Mereka sedang bersiap membawanya ke rumah sakit.
Kami saling pandang. Tak perlu banyak diskusi. “Aku pulang duluan,” kata suamiku. Suaranya tegas, tapi mata itu—aku tahu—menyimpan kekhawatiran yang besar. Segera kami menyiapkan segala sesuatu. Baju, dokumen, doa.
Aku dan anakku mencari tiket. Satu-satunya penerbangan tersedia berangkat pukul tujuh pagi. Tapi pesawat hanya sampai Medan. Setelah itu harus lanjut naik bus ke kampung. Tak apa. Demi keluarga, sejauh apapun harus ditempuh.
Akhirnya, sore menjelang magrib, mereka sampai di rumah sakit. Badan lelah, tapi hati lebih ingin tahu kabar orang tercinta.
Hidup tak pernah bisa ditebak. Dalam dua hari, dua kabar duka datang tanpa aba-aba. Tapi begitulah hidup... Di tengah luka, kita belajar menerima. Di tengah gelap, kita tetap memilih menyulut cahaya.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan