Rahasia Kecil Yang Tak Terucap
Rahasia Kecil yang Tak Terucap
Oleh Syahbati
Malam itu bukan malam biasa. Malam yang membuat pegal di kaki lebih terasa daripada biasanya. Gara-garanya? Tangan seorang ibu muda yang terus menggenggamku seolah aku ini charger semangat yang takut kehabisan baterai.
Fitri. Usianya mungkin tak terpaut jauh denganku, tapi statusnya sudah emak-emak muda. Anak pertama. Perjuangan pertama. Ketakutan pertama. Dan... genggaman tanganku jadi semacam jimatnya malam itu.
Aku sih sebenarnya cuma magang sok-sok berani. Ikut persalinan? Astagfirullah... Aku takut pingsan lihat darah. Tapi karena yang dipegang bukan urat nadi, melainkan urat hati, ya sudahlah. Pegel, haus, pinggang linu, itu urusan nanti. Sekarang, temani dulu calon ibu ini sampai tuntas perjuangannya.
Anehnya, kami bahkan bukan teman. Bukan kenalan. Tapi dia seolah ketemu aku kayak ketemu kakak kandung yang sudah lama hilang di hutan Amazon. "Kenapa harus aku?" batinku, sambil terus membelai rambutnya yang lepek kena peluh.
Paginya aku datang telat ke sekolah. Anak-anak sudah duduk manis di lapangan, acara literasi. Kepala sekolah, seperti biasa, marahnya lebih cepat dari alarm subuh. Aku? Diam. Untuk apa cerita? Aku masih agen rahasia di sekolah ini. Tak ada yang tahu aku sedang kuliah kebidanan. Aku gak mau jadi bahan gosip apalagi jadi bahan ketawa. Udah ah, biar rahasia tetap rahasia.
Sore harinya, aku balik lagi ke klinik. Bukan karena tugas. Tapi... kok ya hati ini kangen. Bawain buah, kurma, nasi bungkus, semacam bentuk perhatian orang polos yang sok-sokan jadi kakak baik.
Fitri sudah boleh pulang. Waktu aku datang, malah mereka sempat nyariin aku. Teman-temanku bilang aku lagi praktik di klinik lain. Lucu ya... Aku ini magang aja masih takut lihat darah, apalagi buka praktik sendiri. Tapi sudahlah. Kebohongan kecil yang menyelamatkan harga diriku.
Lalu... Momen yang bikin aku senyum-senyum geli. Amplop tebal. Uang. Dipaksa terima. "Haduh, aku bukan bidan profesional, Bu. Aku cuma magang sok perhatian," pengen rasanya ngomong gitu. Tapi karena didesak dan semua pasang mata menatapku dengan paksa halus, aku ambil juga.
Tapi... aku Desy. Aku punya cara balas dendam yang elegan.
Sebelum mereka pulang, aku gendong si bayi. "Anggap saja ini kado kecil dari kakak magang yang belum lulus," kataku sambil menyelipkan amplop itu ke dalam selimut si bayi mungil.
Fitri? Mukanya cemberut. Kesal. Tapi aku tahu, hatinya juga sedang hangat. Dan aku? Aku menang. Aku pulang dengan hati bahagia, tanpa beban.
Kadang, kebaikan tak perlu diumumkan. Cukup dirasakan diam-diam, disimpan diam-diam, jadi rahasia kecil antara aku, Tuhan, dan bayi mungil itu.
Bakti Jannati, Jum'at, 17 Juli 2025
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan