Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Kisah Syahdu dari Karbala

Kisah Syahdu dari Karbala

Oleh Syahbati

Tahun 61 Hijriah. Angin padang Karbala membawa kabar getir dari Madinah. Sang cucu Nabi ﷺ, Husain bin Ali, memutuskan untuk tidak membaiat Yazid bin Muawiyah. Bukan karena ambisi, bukan karena haus kuasa. Tapi karena hati nuraninya menolak kezaliman. Dan karena darah Rasulullah ﷺ yang mengalir dalam dirinya, tak bisa tunduk pada tirani.

Lalu ia berangkat ke Kufah bersama keluarga dan pengikut setia. Ditemani anak-anak, istri, dan sahabat-sahabat yang setia hingga napas terakhir. Mereka berhenti di padang gersang Karbala. Tak ada sungai, tak ada pelindung. Hanya langit yang mulai mendung, dan tanah yang mengingat.

Hari ke-7 bulan Muharram, air Sungai Eufrat diblokade.

Anak-anak menangis kehausan. Bayi kecil merintih dalam pelukan ibunya. Salah satunya adalah Ali Asghar, bayi mungil Husain. Ia menangis pelan. Tak meminta dunia. Hanya seteguk air. Tapi panah musuh justru melesat, menancap di leher mungilnya. Langit berguncang. Bumi menangis.

Hari ke-10 Muharram, hari Asyura.

Satu per satu sahabat Husain gugur. Putra-putranya, saudaranya Abbas, keponakan-keponakan tercinta. Mereka semua tumbang. Bukan karena lemah. Tapi karena keyakinan.

Husain berdiri sendirian. Di depannya ribuan pasukan musuh. Tapi ia tetap tegak, karena yang bersamanya adalah Allah.

Di detik terakhir, pedang menebas tubuh mulianya. Kepala suci itu dipisahkan dari tubuhnya. Dan bumi Karbala pun basah oleh darah penghulu pemuda surga.Tapi kisah ini belum usai.

Zainab binti Ali, saudari Husain, berdiri tegak membawa panji kebenaran. Di hadapan Yazid yang angkuh, ia berkata tegas:

"Wahai Yazid, demi Allah kau tidak akan menghapus sebutan kami dari sejarah, tidak akan mematikan wahyu yang diturunkan, tidak akan menghapus kehormatan kami di hati umat.”

Karbala adalah luka, tapi juga cahaya.

Ia bukan hanya tentang kesedihan, tapi juga pengingat bahwa kebenaran kadang sepi, dan kebatilan kadang ramai. Tapi Allah selalu bersama orang-orang yang jujur.

💧Renungan untuk Kita Hari Ini:

Apa yang telah kita korbankan untuk agama ini? Apakah kita termasuk yang tetap tegak seperti Husain, atau ikut arus seperti pasukan Kufah? Apakah kita Zainab yang berani berkata benar, atau justru Yazid yang sibuk mencari pujian?

Baiti Jannati, Senin 11 Muharram 1447 H, 7 Juni 2025

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post