Minyak Zaitun di Antara Doa dan Dosa wajahku
"Minyak Zaitun di Antara Dosa dan Duka Wajahku"
Aku pernah bersahabat baik dengan wajahku. Kami selalu akur—setidaknya sampai standar kecantikan ala TikTok dan filter Instagram mulai ikut campur urusan kami.
“Dek, kamu putih banget sekarang, glowing lho!” Komentar itu awalnya seperti salju di gurun. Sejuk, menyegarkan, menyejukkan hati yang lapar validasi. Aku tersenyum. Tapi wajahku tidak.
Ceritanya bermula ketika aku—si perempuan dengan kulit sawo yang matang sempurna ala tropis—terjerumus dalam bujuk rayu krim pemutih. Awalnya sih, cuma coba-coba. “Gak akan sampai keterusan,” pikirku. Tapi seperti nonton drakor, satu episode aja gak pernah cukup. Lama-lama, aku ketagihan. Setiap melihat wajah sendiri di cermin, aku merasa seperti iklan sabun: “Kinclong dalam 7 hari!”
Tapi... seperti hubungan yang dibangun atas kebohongan, semuanya runtuh saat krim itu habis. Yang tersisa di wajahku? Bukan cinta, tapi flek hitam yang lebih setia daripada mantan pacar. Mereka menetap tanpa aba-aba, menolak pergi meski sudah kubujuk pakai serum jutaan. Akhirnya, aku menyerah dan pergi ke dokter kulit. Hasilnya? Lumayan, tapi cuma sementara. Begitu dompet menipis, si flek-flek nakal balik lagi. Mereka bahkan datang bawa teman.
Sampai suatu malam... Di tengah keputusasaan, aku duduk di depan cermin, seperti adegan sinetron jam 7. Aku ambil botol minyak zaitun yang selama ini cuma nangkring di lemari dapur. Kuraih juga minyak kayu putih. “Bismillah,” bisikku. Kupikir, kalau hatiku butuh disembuhkan dengan taubat, mungkin wajahku juga butuh istighfar dalam bentuk minyak.
Setiap malam, aku oleskan ramuan sederhana itu. Bukan cuma di wajah, tapi di hati juga. Saat mengoleskannya, aku berkata dalam hati, “Ya Allah, aku pernah menyakiti wajah yang Kau titipkan. Ampuni aku yang dulu malu memiliki warna kulit yang sebenarnya adalah anugerah-Mu.”
Tak ada usaha yang sia-sia. Beberapa bulan kemudian, suamiku menatapku aneh. “Dek, kamu pakai apa? Wajahmu beda... adem banget.” Aku kaget. Bukan karena dia muji—tapi karena dia sadar duluan. Beberapa teman juga mulai bilang begitu. Alhamdulillah... ternyata rahasia cantik itu bukan di klinik mahal, tapi di kejujuran dan penerimaan.
Kini aku tahu... Wajah bukan untuk dipaksakan berubah demi standar orang lain. Ia cukup dirawat, dicintai, dan disyukuri. Karena Allah tak menciptakan wajah yang salah. Yang kadang salah, hanya cara kita memandang diri sendiri.
Dan satu hal lagi... Minyak zaitun? Sekarang bukan cuma buat masak. Tapi juga buat menampar lembut egoku yang dulu suka cari “glow” dari luar, bukan dari dalam.
Catatan akhir: Cerpen ini bisa kamu tambah dengan ayat Al-Qur'an sebagai penguat nilai Islami, misalnya:
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin: 4)
Dan ditutup dengan ajakan reflektif:
Jangan biarkan wajahmu menangis diam-diam karena kamu lupa mencintainya. Rawat ia dengan syukur, bukan dengan paksaan.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan