Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Formasi, Air Mata, dan Senyum yang tertinggal di Laoangan

"Formasi, Air Mata, dan Senyum yang Tertinggal di Lapangan"

oleh: Wali Kelas yang Bangga Diam-diam

“Tidak perlu sempurna untuk disebut luar biasa. Kadang yang paling indah adalah usaha tanpa cela, walau penuh cela.” — Lara 61

Cerpen

Mereka berdua belas. Putih-putih. Bukan malaikat, hanya anak-anak SMA yang sedang belajar percaya pada diri sendiri.

Pagi tadi, sebelum jam istirahat kedua, mereka masih sempat ngaca di cermin musholla. Bukan karena ingin jadi selebgram, tapi karena takut wajah kucel merusak formasi. Beberapa bahkan mengoleskan bedak tipis seperti olesan keyakinan — semoga debunya menutupi deg-degan mereka.

Hari ini, kelas kami tampil pertama. Nomor urut satu dari delapan kelas.

Dan kalian tahu sendiri, kan? Nomor urut satu itu... Bukan hanya pertama tampil, tapi juga pertama merasa panik. Panas. Panik lagi. Satu-satunya hal yang lebih cepat dari langkah mereka adalah detak jantung masing-masing.

Ketika nama kelas dipanggil, mereka maju. Langkah serempak. Bendera OSIS tergenggam seperti cita-cita: tinggi, berat, tapi harus dijaga. Mereka membentuk barisan. Formasi seperti huruf "V" yang mirip lambang victory. Tiga juri turun. Langkahnya pelan, tapi tatapannya dalam. Satu-satu dinilai. Dari posisi tangan, ketegapan bahu, sampai senyum yang katanya harus simetris dua senti ke kiri dan kanan.

Tapi mana bisa tersenyum kalau keringat dingin mengalir dari belakang telinga sampai ke dalam dada? Bahkan ada satu yang bisik-bisik,

"Eh, bener nggak sih langkah gua barusan? Kok kayak kaki kiri dua-duanya..."

Lalu mereka menyelesaikan semuanya. Mengibarkan bendera, memberi hormat, menyusun ulang formasi, dan kembali ke posisi awal.

Selesai? Belum.

Ada yang mulai menunduk. Ada yang menggigit bibir. Ada yang buru-buru keluar barisan dan lari ke pojok lapangan. Ada air mata yang jatuh sebelum peluh sempat kering.

"Maaf, Bu... aku salah tadi." "Maaf ya teman-teman... aku nggak sinkron..." "Maaf, Kak... aku kayaknya bikin kacau..."

Dan di sanalah, hatiku sebagai wali kelas meleleh. Karena aku melihat keberanian mereka — bukan dalam formasi, tapi dalam bertanggung jawab bahkan untuk hal yang tak perlu mereka tanggung sendiri.

Kalian tahu apa yang kubilang ke mereka?

"Kalian nggak gagal. Kalian hebat. Yang gagal itu cuma senyum kalian, yang lupa ikut tampil."

Satu-persatu dari mereka mulai tersenyum kecil, lalu tertawa malu. Kakak pelatih pun menghampiri, memberi pelukan dan berkata,

"Kalau sempurna yang dicari, kita bukan manusia. Tapi kalian tadi sudah kasih yang terbaik, dan itu lebih dari cukup.

"Aku tahu, bukan ranking juara yang kalian cari hari ini.

Tapi pembuktian bahwa kalian bisa. Dan sudah terbukti.

Kalian bukan cuma membentuk formasi barisan. Kalian juga sedang membentuk sesuatu yang lebih besar: hati yang berani, jiwa yang mau mencoba, dan tim yang saling menguatkan.

Dan hari ini, aku bangga. Bukan karena kalian sempurna. Tapi karena kalian manusia — yang tak menyerah.

Jadi...Jangan menangis terlalu lama, ya Nak.Senyummu masih ditunggu di barisan depan kelas

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post