Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Di Balik Pintu Kain Abu Nawas

Di Balik Pintu Kain Abu Nawas

Oleh Syahbati

Hari itu perut kami bukan cuma keroncongan, tapi udah main orkestra. Sepanjang perjalanan dari Kuta menuju bandara, restoran demi restoran melambai—tapi semua dengan tulisan yang bikin iman menjerit: “Babi Guling”, “Babi Asap”, “Babi Ketawa Miring”. Ya Allah… Di mana kami bisa merapatkan sendok dan nasi dengan amanah hati?

Sampai akhirnya, dari balik kaca mobil, terlihat secercah harapan: "Restaurant Abu-Nawas" —tulisan Arabnya berkilau diterpa matahari. Tanpa banyak drama, mobil langsung belok cantik. Parkir manis, kami masuk dengan semangat dan setengah lapar yang makin ganas.

Lift menjemput kami. Kami sempat mampir di setiap lantai—kayak agen properti dadakan—sampai akhirnya diturunkan di lantai dua. Di sana, petugas berseragam batik menyambut seperti tamu VIP. Kami diarahkan masuk ke balik gorden tebal yang menyimpan ruangan penuh rahasia rasa.

Ruangan persegi 4x4 meter itu seperti rumah rahasia kaum jin baik: harum, sejuk, dan sunyi. Kami duduk bersila di atas ambal yang menghampar seperti permadani, menanti keajaiban bernama makanan halal nan nikmat. Di tengah ruangan, terletak semacam tombol dan barkod yang kalau disentuh, seolah langsung memanggil jin restoran: sang pramusaji.

Satu per satu makanan berdatangan seperti parade Arab: teh lemon dingin, gelas besar yang terlalu banyak untuk kami bertujuh, dan akhirnya… si raja segala nasi datang dalam wadah besar—membawa tiga kerajaan rasa: Briyani, Mandhi, dan Kabsah. Di atasnya bersemayam 7 potong daging kambing seukuran pelukan bayi.

"Ini bisa buat kenduri RT 5 dan 6 gabung nih," celetukku sambil tertawa, setengah khawatir setengah bahagia.

Anak-anak sibuk main HP. Kami para orang dewasa malah larut dalam obrolan yang tak berujung, tawa yang murni, dan doa yang tak terdengar. Tapi ada satu hal yang jelas: kebersamaan ini mahal harganya.

Sebelum sendok menyentuh nasi, tangan-tangan ini terangkat, bibir merapal doa: "Ya Allah, berkahilah rezeki ini, dan jauhkan kami dari yang haram." Setelah itu, mulut kami sibuk menari, lidah kami bersyukur dalam diam.

Tak lama, perut kenyang. Hati lapang. Tagihan? Rahasia negara, kata suami ponakanku. Tapi aku tahu, sejuta dua ratus itu tak sebanding dengan rasa tenang yang kami dapatkan dari makanan yang jelas kehalalannya.“Lebih baik mahal tapi halal, daripada murah tapi membuat kita gelisah di hadapan Allah,” batinku. Kalimat itu kupeluk kuat-kuat dalam hati.

Saat melangkah keluar dari restoran, langit mulai meredup. Mobil melaju pelan, perut penuh, tapi hati lebih penuh lagi oleh rasa syukur yang tak bisa dibungkus dalam plastik bening seperti sisa nasi kambing tadi.

Surabaya, hotel..., Selasa 2 Juli 2025

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post