Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Pelangi Setelah Doa Lara

Pelangi Setelah Doa Lara

Hari itu hujan turun deras sejak subuh. Langit gelap, udara dingin, dan rumah kami seperti terkurung dalam kabut kelabu. Ibu sibuk menjemur cucian yang gagal kering, Ayah merenungi sawah yang banjir, dan aku… duduk di beranda sambil memeluk lutut, menatap langit yang tak selesai menangis.

Lara, adikku yang masih duduk di kelas 6, tiba-tiba datang membawa secangkir teh hangat. “Desy, katanya guru ngaji… kalau hujan itu doa-doa dikabulkan, ya?” Aku tersenyum samar. “Iya. Kan hujan itu rahmat.”

Lara duduk di sampingku. “Aku udah doa lho… semoga habis hujan nanti, ada pelangi. Biar hati Ibu nggak sedih terus.”

Aku menoleh. Lara menatap langit dengan mata bening, seperti menyimpan harapan kecil di balik gerimis. “Aku suka pelangi. Warnanya kayak janji Allah. Setelah hujan pasti ada indah. Setelah sedih, pasti ada bahagia.”

Aku diam sejenak. Ada sesuatu dalam kalimat Lara yang membuat dadaku hangat. “Pelangi itu bukan sulap, Ra. Itu karena cahaya matahari yang pecah kena tetesan air. Namanya pembiasan cahaya.” Lara mengangguk kecil, walau aku yakin dia lebih percaya pada doa daripada hukum fisika.

Aku lanjutkan, “Sinar matahari itu kayak janji Allah. Walau kita nggak selalu lihat, dia selalu ada di balik awan. Saat hujan reda, tetesan air jadi kaca kecil yang membelah cahaya. Jadilah pelangi. Warna-warninya itu lambang kasih sayang Allah. Merah, kuning, biru… semua indah pada waktunya.”

Lara tersenyum tipis. “Berarti… Allah juga ahli fisika ya, Kak?” Aku tertawa pelan. “Allah lebih dari semua ilmu, Ra. Semua hukum fisika itu cuma cara kita ngerti, betapa indah ciptaan-Nya.”

Hujan mulai reda. Dari balik awan kelabu, mentari mengintip malu-malu. Dan benar saja… di ujung bukit, perlahan muncul lengkungan samar. Merah, jingga, kuning, hijau… sebaris cahaya yang seperti sedang tersenyum kepada kami.

Lara berseru kecil, “Desyy… pelangiiiii!” Aku hanya memandang diam-diam. Ada air hangat di sudut mataku. Mungkin bukan karena indahnya warna. Tapi karena aku sadar, kadang yang menguatkan kita bukan teori, bukan rumus… tapi harapan, doa, dan iman kecil yang tak pernah letih menunggu pelangi.

🌿 Catatan Puitis:

“Dan di antara tanda kekuasaan-Nya, Dia jadikan hujan yang menghidupkan bumi. Dan Dia bentangkan langit, hingga pelangi tersenyum untuk mereka yang bersabar.” (Q.S. An-Nur: 43)

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post