Senja Terakhir
Senja Terakhir di Ujung Sumatera
Oleh Syahbati
*(Lanjutan kisah dari cerpen: "Dalam Dua Hari, Dua Duka")
Kamis, 10 Juli 2025. Langit sore di Jakarta tak menunjukkan gejala apa-apa. Tapi batinku berkabut. Entah kenapa hari itu terasa sunyi. Walau aku mengusiknya dengan aktifitas, tetap saja terasa. Seolah semesta menahan napasnya.
Aku menelpon Riya, anak angkatku yang sudah seperti darah daging sendiri. Tujuanku jelas: ingin berbicara dengan adik iparku yang sedang sakit dan dirawat di rumah. Alhamdulillah, tersambung.
Wajahnya muncul di layar. Terbaring. Pucat. Tapi masih bisa tersenyum kecil. Kami bicara sebentar, meski kalimat-kalimatnya tidak seceria biasanya. Suaranya terdengar seperti gemerisik daun kering di musim kemarau. Pelan. Rapuh. Tapi masih jelas.
Katanya sudah dua hari tak ada makanan yang bisa masuk. Bahkan air pun tak sanggup ditelan. Ia sempat jatuh dari tempat tidur. Di pangkal lengan kirinya membiru, pertanda tubuh itu sedang tak berdaya. Hatiku mencelos.
“Maaf ya, aku gak ikut pulang,” bisikku, merasa bersalah. “Kirain cuma sakit biasa…”
Aku tahu, maafku tak bisa menyembuhkan tubuhnya. Tapi setidaknya, ia tahu ada cinta dan doa dari kejauhan.
Sambil kami bicara, Riya bilang ambulan sedang dalam perjalanan. Jam di dinding kamarku menunjukkan pukul 18.10. Aku menatapnya lama. Seperti menghafal waktu itu agar tak kulupa seumur hidup.
Beberapa jam kemudian, kabar masuk: adik iparku sudah dibawa ke rumah sakit. Langsung masuk IGD karena tak ada kamar kosong. Foto-foto dari Riya membuat jantungku nyeri. Selang di hidung, selang di tangan, tubuh lemah tak bergerak. Tapi di antara sadar dan tidak, ia sempat berpesan: “Minta tolong ambilin daster, aku mau mandi. Sudah dua hari gak mandi…”
Betapa mulianya jiwa yang menjaga kebersihan dan kehormatan, bahkan di detik-detik terakhir kehidupannya.
Kamis berganti Jum'at. Suamiku masih setia mendampinginya. Sepupu-sepupu pun datang lagi. Mereka membaca surah Yasin. Saat itu terasa sakral. Waktu berhenti, seperti memberi ruang untuk hati-hati kami berdzikir lebih lama.
Jam lima sore, kondisinya mulai menurun. Bicara jadi tak jelas. Matanya kadang terbuka, kadang tidak. Suasananya berubah, dan kami semua tahu — waktu sedang mendekat pelan-pelan.
Sabtu dini hari. Tepat pukul 00.39. Tanggal 12 Juli 2025 bertepatan 16 Muharram 1446 H.
Suamiku menelpon. Suaranya parau, tapi tenang. "Des... Adik sudah meninggalkan kita."
Aku terduduk di pinggir ranjang. Sunyi tiba-tiba menindih seluruh rumah. Biasanya aku mematikan HP saat tidur. Tapi malam ini, entah kenapa… tidak. Seolah Allah ingin aku mendengar kabar itu tepat waktu.
Air mataku jatuh satu-satu. Tidak banyak. Tapi terasa berat. Satu per satu kubalas pesan, kukabarkan kepada keluarga dan sahabat dekat. Dan seperti yang kuharapkan, pagi harinya mereka sudah tahu. Beberapa bahkan langsung berangkat ta'ziah meski harus menempuh perjalanan 5–6 jam dari kampung ku ke koung suami. Lintas kabupaten.
Sudah menjadi kebudayaan, tujuh hari lamanya, rumah yang berduka itu tak pernah sepi. Doa dan tamu datang bergantian. Saling menyambung, seperti jalinan kasih yang tak pernah putus. Aku bersyukur, berada di tengah keluarga besar yang peduli dan mengerti arti silaturahmi. Di kampung suamiku, nilai-nilai Islam terasa lebih dekat dengan tanah. Lebih dalam mengakar di dada.
Kini...
Adik iparku telah tenang. Jauh di ujung Sumatera, di pulau kecil tempat ia dilahirkan, tubuhnya disemayamkan.
Dan kami semua percaya, Allah menyayanginya lebih dari siapapun. Ia pulang, membawa dzikir di lidah. Betapa indahnya. Betapa suci akhir hidupnya.
Kami tak kehilangan. Kami hanya mengantar. Kita semua pun sedang mengantri untuk kembali ke sana. Ke pemilik kita. Allah SWT.
“Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, sejahterakanlah dia, dan maafkanlah dia. Muliakan tempat tinggalnya, luaskan kuburnya, bersihkan dia dengan air, salju, dan embun. Bersihkan dia dari segala dosa sebagaimana Engkau membersihkan pakaian putih dari kotoran. Gantikanlah rumahnya dengan rumah yang lebih baik, keluarga yang lebih baik, dan pasangan yang lebih baik. Masukkanlah dia ke dalam surga, dan lindungilah dia dari siksa kubur dan siksa neraka.”
Semoga Allah SWT menerima semua amal ibadahnya, melapangkan kuburnya, dan menempatkannya di surga-Nya. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Baiti Jannati, Malaka III, Sabtu, 12 Juli 2025 (16 Muharram 1446 H)
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan