Tes Akademik siswa Baru
Siang tadi, setelah selesai shalat dhuhur, aku niat banget, lho, mau kelihatan rajin.
Aku ambil mouse. Udah kubayangin, bentar lagi aku duduk manis depan laptop. Ketik... ketik... jadi karya. Tapi... ternyata mouse itu cuma dipindahin dari tas ke meja, terus balik lagi ke tas. Ya Allah... niat semangat kok susah banget ditahan.
Sementara itu, teman-temanku di lantai dua udah sibuk bikin "perangkat mengajar." Aku? Jalan wara-wiri, gaya sibuk padahal gak ngerjain apa-apa. Kadang aku mikir, jangan-jangan kaki ini udah auto berjalan sendiri tanpa komando otak. Tapi sudahlah, mungkin ini bagian dari latihan "literasi pergerakan."
Tiba-tiba, ada notifikasi masuk di grup Wali Kelas. "Wali kelas X, dimohon bantuannya mengawas Tes Akademik." Yaudah. Mouse masuk tas, laptop ditutup. Sekarang waktunya "berkarya di lapangan."
Satu per satu anak OSIS datang menjemput para wali kelas. Mereka pakai rompi abu-abu, senyum ramah, gaya sopan, tapi langkahnya cepat. "Siap, Bu, kita antar ke kelas!" Berasa kayak mau diajak jalan sama pasukan keamanan negara.
Aku masuk ke kelas X-8, satu-satunya kelas di lantai dua. Kelas lain? Bumi alias lantai dasar. Jadi terasa eksklusif. Istimewa. Seakan-akan aku naik jabatan karena tugas di lantai dua. Padahal sama aja: ngawas.
"Assalamualaikum..." kataku sambil buka pintu. Anak-anak langsung serempak jawab, manis bener. Aku masuk bareng Aqiela, anak OSIS yang kayaknya calon guru masa depan: rapi, ramah, telaten.
Ada tiga anak OSIS lain, tapi yang bertahan tinggal Rizki dan Aqiela. Mereka berdiri di belakang. Kursi? Gak usah mimpi. Namanya juga pengawas cadangan. Berdiri udah cukup mulia.
Tes dimulai. Anak depan memimpin doa. Salam. Link soal udah dibagikan. Semuanya pegang gadget.
Aku duduk manis. Mata nyapu-nyapu seisi ruangan.. Bukan merhatiin soal, tapi gaya mereka. Macem-macem, kreatif semua. Kuperhatikan satu persatu.
Anak pertama. Anak ini duduk di depan ku. Tangan kiri pegang HP, tangan kanan pegang tumbler. Tumblernya gak dipegang biasa. Tapi ditaruh di bawah dagu, kayak penyangga kepala. Aku ngikik dalam hati. "Ya Allah, anak ini... jangan-jangan takut HP-nya ngambang."
Anak kedua. Badannya kecil, maklum baru tamat SMP. Duduk dekat dinding, paling depan. Gadget diputar-putar. Aku jadi mikir, ini jawab soal atau mau sulap? Posisinya berubah-ubah, kayak nyari sinyal TV zaman dulu. Matanya menjauh, mendekat, menjauh lagi. "Rabun dekat atau jauh, Nak?" batinku. Tapi gak berani nanya.
Anak ketiga. Duduk di tengah-tengah. Tangan kanan pegang HP, tangan kiri ngelus kuping kiri. Kayak lagi manja-manjaan sama kuping sendiri. Soalnya bacaan semua, bukan soal listening, loh. Tapi ya sudahlah.
Anak keempat. Paling belakang. Kakinya gak bisa diam. Kayak pedal drum ngeband. Aku langsung alihkan pandangan. Bukan takut goyang juga, tapi capek liatnya.
Anak kelima. Duduk santai, tenang, gak nyatet, gak pegang pulpen. Bawaannya anteng, seolah-olah soal matematika itu cuman mainan teka-teki. Yang lain sibuk coret-coret. Dia? Diam. Slow. Adem.
Waktu hampir habis. Suasana mulai ribut kecil. Ada yang senyum lega, 60 soal dijawab semua. Ada yang pucat. Ada yang jawab 50 soal ke atas, ada yang pasrah cuman 50 ke bawah. Ekspresi campur aduk. Macam ujian hidup.
Aku tanya, "Gimana anak-anak? Soalnya mudah?" "Lumayan, Bu..." jawab kompak yang duduk di tengah kiri. Aku lanjut, "Jawabannya benar semua gak?" "Mudah-mudahan, Bu..." Jawaban paling aman sedunia.
Aku kasih kesempatan Rizki dan Aqiela ambil alih. Mereka menjelaskan tata tertib sekolah. Kalau dilanggar? Konsekuensi menanti. Lugas, tegas, rapi. Kayak udah 10 tahun jadi guru.
Sebelum pulang, anak-anak nyanyi lagu "Satu Nusa Satu Bangsa." Suara cempreng, suara sumbang, suara merdu campur jadi satu. Aku senyum, bahagia. Anak-anak ini kelak jadi masa depan bangsa. Walau sekarang ngerjain soal sambil elus kuping.
Dan aku? Aku pulang dengan satu kesimpulan:Kadang bukan soal mouse atau laptop.Tapi tentang hati dan kaki yang selalu bergerak. Seru juga ...
Pondok Bambu, Rabu 16 Juni 2025
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan