Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

IHT dan Aku yang Nyaris Tertidur dalam Cinta Kurikulum

IHT dan Aku yang Nyaris Tertidur dalam Cinta Kurikulum

Oleh Syahbati

Hari ini aku datang paling semangat ke ruang Auvi. Sungguh, bukan karena panggilan hati atau dorongan KPI. Tapi karena satu kata: Kurikulum.

Aku selalu suka membicarakan hal-hal yang dalam — apalagi katanya hari ini tentang deep learning. Kupikir ini akan seperti menyelam ke samudera makna pembelajaran. Kupikir aku akan berenang di antara CP dan ATP dengan anggun seperti duyung. Tapi yang terjadi justru… Aku nyaris tenggelam. Oleh rasa kantuk.

Jam menunjukkan pukul satu siang. Perutku kenyang karena makan siang tadi menu istimewa: Nasi kebuli dan bebek goreng rasa Maknyus. Jum'at berkah dari bu Tati yang baru pulang Umrah.  Kupikir segelas kopi susu yang kubawa dari rumah bisa menjadi penangkal segala godaan kantuk. Tapi nyatanya... Kopi hanya menang selama lima menit. Lalu tubuhku mulai tunduk perlahan, mengangguk tanda "paham", padahal batin berkata: "Tidur di ruangan ini pasti nyenyak..."

AC-nya lembut, kursinya empuk, dan suara narasumber terdengar seperti nyanyian ninabobo. Seketika aku scroll-scroll hapeku. Bukan buat main, tapi biar mata tetap aktif. Lagu lama muncul di timeline, dan hatiku menggumam, "Jangan tidur, sayang... ini IHT, bukan hotel bintang empat."  

Di meja kecil tempatku duduk, aku membawa laptop.Tapi tidak kubuka. Sungguh bukan untuk gaya-gayaan, sudah terlalu banyak gaya dalam fisika. Tapi untuk memberi ruang…pada guru muda di sampingku. Guru PKM yang masih belia, penuh semangat dan membawa aura Zillenial yang memesona.

Dia sibuk membaca CP, membuka ATP, diskusi dengan penuh api. Sedangkan aku... Masih berjuang membuka mata dan hati.

Kami berdiskusi berempat. Membaca kertas CP dan ATP yang dibagikan tadi. Ku bayangkan, jika kami bisa ngantuk bersama, saling mengangguk, sesekali bingung bersama, pasti seru dan menyedot perhatian publik. Hehehe

Tapi itulah seninya jadi guru: Ketika bingung dijadikan bahan tawa, dan ketika paham… langsung buat quote buat status WA.

MGMP mini pun terjadi. Kami foto per meja mata pelajaran. Ada gaya jempol, gaya peace, dan gaya "aku lelah tapi tetap guru hebat". Lalu seluruh peserta IHT dikumpulkan di depan panggung. Kami berbaris seperti pasukan guru-guru superhero. Satu... dua... tiga... jepret! Senyum kami mengembang. Entah karena bahagia, atau karena akhirnya acara hampir selesai. Aku pulang membawa selembar CP, secarik ATP, dan segenggam kantuk yang belum terlampiaskan.

Tapi lebih dari itu, aku membawa semangat baru. Bahwa jadi guru bukan hanya soal mengajar, tapi belajar... menertawakan letih, menyemangati diri sendiri, dan hadir... meski kadang ingin tidur siang.

🌻"Di balik foto IHT, tersimpan rindu pada bantal empuk dan jam tidur siang yang jarang kudapat."

Baiti Jannati, Malaka Yoga, Jum'at 1 Agustus 2025

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post