Jejak Biru di Ruang Guru
🌿
Jejak Biru di Ruang Guru
Oleh Nurbaiti
Di antara banyak cerita yang singgah dalam hidup, ada satu bab yang tak pernah kuduga hadirnya. 1 Januari 2016, sebuah takdir mempertemukan kita. Kita “terdampar” bersama di NASA. Tak ada satupun dari kita yang benar-benar siap, karena kita hanyalah “anak pindahan”, guru rotasi. Tapi justru di situlah, persaudaraan itu tumbuh.
Kita menyebut diri kita “Gurot”, Guru Rotasi. Dari sembilan orang, kini satu demi satu sudah pamit, tidak pulang ke kampung halaman, tetap berjuang, menikmati indahnya perjalanan hidup setelah pensiun masing-masing. Tinggal aku, yang menunggu giliran, in syaa Allah Januari 2028 akan menyusul.
Dan engkau, sahabatku, kini menutup lembaran panjang pengabdianmu.
Aku masih ingat jelas, pertama kali duduk bersebelahan denganmu di ruang guru lantai dua. Aku di sebelah kananmu, dan kursi biru beroda itu menjadi saksi. Tak ada yang istimewa mungkin, hanya dua guru yang kebetulan ditempatkan bersama. Tapi siapa sangka, dari situlah banyak kisah sederhana tumbuh, mengikat kita dalam rasa persaudaraan yang hangat. Menjadi saudara kembar beda usia dan orangtua.
Kita sering shalat berjamaah di ruang guru, kadang hanya berdua, menyatukan doa pada Allah. Dari sujud yang sama, kita belajar bahwa sesulit apapun keadaan, ada tempat untuk bersandar.
Kita sering pulang berdua. Aku memboncengmu, sementara engkau duduk di belakang, kadang diam, kadang bercerita. Perjalanan itu seperti zikir panjang di jalan raya: ada tawa, ada keluh, ada doa-doa lirih yang kadang terucap di antara deru angin sore.
Waktu berjalan. Tahun berganti. Sembilan kali September kita lewati bersama. Sepuluh kali Agustusan kita rayakan dengan semangat yang sama.
Kini, September 2025 hadir dengan wajah berbeda.
Tak ada lagi suaramu di sebelah kursi biru itu. Tak ada lagi pundak yang menoleh ketika aku datang terlambat ke ruang guru. Tak ada lagi tawa sederhana di perjalanan pulang. Tak ada lagi bisik, “Lewat sana aja, biar nggak macet.”
Aku belajar arti kehilangan. Ternyata, kehilangan bukan hanya tentang orang yang tiada, tapi juga tentang perpisahan yang membuat hati teriris pelan-pelan.
Sahabatku, Rasanya baru kemarin kita mengeluh bersama tentang nilai anak-anak yang susah naik, atau tertawa tentang kertas ujian yang susah dibaca. Rasanya baru kemarin kita mengusap peluh selepas lomba Agustusan di sekolah, lalu sama-sama tersenyum puas.
Kini engkau pamit. Bukan karena menyerah. Bukan karena berhenti berjuang. Tapi karena aturan dunia berkata: usia 60 adalah batas.
Tapi aku percaya, perjuanganmu tak berhenti di sini. Seorang guru tidak pernah benar-benar pensiun. Setiap huruf yang pernah engkau ajarkan akan tetap hidup di dada anak muridmu. Setiap nasihat yang pernah engkau ucapkan akan terus berputar di telinga generasi. Setiap langkahmu di sekolah ini akan tercatat di Lauhul Mahfudz, menunggu jadi saksi di hadapan Allah.
Maka, izinkan aku menghadiahkan sepenggal puisi untukmu:
🌹 **Kursi biru itu masih setia, meski kini satu sisinya kosong. Di sajadah ruang guru, doa kita pernah bertemu. Di jalan sore, tawa kita pernah beradu dengan angin.
Kini engkau melangkah, meninggalkan jejak pada papan tulis waktu. Aku yang tertinggal, hanya bisa berbisik pada langit senja: “Ya Allah, jagalah sahabatku, lengkapkan usianya dengan keberkahan, tutup langkahnya dengan husnul khatimah.”🌹
Sahabatku, jika kelak aku menyusulmu di Januari 2028, semoga kita bisa tertawa lagi—di ruang guru yang lain, ruang besar tanpa pembatas, tanpa takut dipanggil kepala sekolah, tanpa takut nilai anak-anak tak tuntas, tanpa lagi khawatir hujan membasahi perjalanan pulang kita.
Dan terakhir, aku hanya ingin bilang: jangan khawatir, kalau aku rindu mie gacoan, atau mie bang Lades, atau bubur ayam selawat, aku tetap akan ngajakmu makan bareng. Tapi kali ini biar aku yang duduk di belakang, gantian nepuk pundakmu sambil bilang, “Jangan gila ya, kebutannya jangan kebangetan.” 😄
Selamat jalan, sahabatku. Bukan selamat tinggal. Karena di jalan Allah, perpisahan hanyalah persinggahan.
"Baarakallah Fii Umrik"
Tak banyak yang bisa kukata, doa terbaik selalu untukmu, sahabatku. Mudah-mudah Allah selalu menuntun langkahmu agar selalu berjalan mendekatiNya. Aamiin
🌿 Baiti Jannati, Malaka 3, Sabtu 30 Agustus 2025🌿
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan