Jalan Kemerdekaan Pagi ini
Jalan Kemerdekaan Pagi Ini
Oleh Nurbaiti
Dengan semangat empat lima, aku sudah siap, mau ke sekolah. Mengikuti Upacara Tujuh Belas Agustus, HUT RI ke 80. Aku segera melajukan motor Beat kesayanganku. Angin pagi menepuk-nepuk wajah, lumayan bikin segar. Tapi begitu sampai di pertigaan, aku langsung harus banting setir ke jalan raya—jalan BKT ditutup!
“Aduh, yaudah deh. Gas kiri aja,” gumamku, sok tegar.
Tak mau buang waktu nunggu lampu merah, aku arahkan si kuda besi belok kiri, cari celah buat mutar balik. Belok kanan, terus sekitar dua ratus meter, belok kiri lagi. Awalnya aman—bebas macet.
Tapi ternyata itu hanya “fatamorgana”.
Sekejap kemudian, haduuuh... kiri-kanan penuh orang jualan. Astaghfirullah. Baru aku ingat, hari ini BKT berubah jadi “jalan kemerdekaan”!
Suasananya rame pol. Pedagang berjejer kayak barisan pramuka: dari buah-buahan, sayuran, sampai jajanan wangi menggoda iman—gorengan, bakso, mie ayam, cilok, cireng. Belum lagi lapak pakaian: kaos kaki, daleman, sampai dasteran bergelantungan kayak mangga ranum di ujung dahan. Semua jelas kelihatan.
Aku cuma bisa pasrah. Salah pilih jalan, nggak ada pilihan lain selain meluncur pelan-pelan di tengah arus manusia yang asik jalan santai sambil gandengan tangan.
Pandanganku pun iseng menyapu ke kiri-kanan. Karton-karton bertuliskan harga nangkring manis di tiap lapak: 5 ribu, 10 ribu, 15 ribu, 20 ribu. Murahnya! Pantes aja orang udah rame dari pagi.
Dalam hati kecilku: “Ya Allah, kapan nih sampai ke ujung jalan,bebas dari keramaian ini ?”
Tapi aku buru-buru menertawakan diriku sendiri. Udahlah, nikmati aja. Anggap ini pameran akbar rakyat gempita. Aku coba ubah galau jadi happy. Daripada misuh-misuh, mending senyum-senyum sendiri di atas motor.
Dan akhirnya… taraaa! Ujung jalan pun menyapa. Segera aku tancap gas dengan sisa semangat empat lima. Belok kiri, lurus, kelok kanan, kanan lagi.
Parkir rapi. Kulirik jam: 06.27. Alhamdulillah! Tidak telat. Masih ada tiga menit buat benerin hijab.
Hari ini dimulai bukan dengan drama kemacetan, tapi dengan cerita “jalan kemerdekaan” yang ternyata lebih rame daripada pasar pada minggu.
Dan di balik semua drama belokan kanan-kiri, aku belajar sesuatu. Hidup ini selalu penuh pilihan. Kadang tergesa-gesa, kadang salah jalan, kadang harus sabar melewati "jalan kemerdekaan" bahkan kemacetan. Tapi kalau niat kita lurus, Allah Ta'ala selalu kasih ujung jalan yang kita butuhkan.
Alhamdulillah, pagi ini bukan hanya sampai tepat waktu, tapi juga dapat pelajaran hidup. Bahwa hidup itu kayak naik motor. Yang penting jaga keseimbangan, sabar di jalan, dan jangan keburu tergoda jajanan. 😁😄
Baiti Jannati. Malaka Tiga, Ahad, 17 Agustus 2025
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan