Surat Untuk Diri Sendiri
Surat untuk Diriku di Masa Depan
(Literasi 61: Nulis Surat untuk Diri Sendiri)
Oleh Nurbaiti - Lara
Contoh 1.
Udahlah, Surat Ini Buat Siapa Aja... Termasuk Aku Nanti
Jujur ya...Aku males banget nulis surat kayak gini. Entah buat siapa, entah buat apa. Tapi entah kenapa tangan ini nulis juga. Mungkin karena nggak tau harus cerita ke siapa, atau mungkin... karena capek aja. Aku tulis ini ketika telah selesai praktikum fisika. Tadi aku mengukur sebuah benda dengan menggunakan mikrometer skrup. Alatnya keren. Sebelumnya aku malas banget, tapi ternyata asik juga ngukur-ngukur. Aku menulis apa yang aku ukur dengan angka yang tertera pada alat ukur. Ini menunjukkan bahwa kita harus jujur dan teliti.
Aku masuk sekolah ini bukan karena aku mau. Serius. Ini murni pilihan orang tua. Katanya, “Sekolah ini bagus, disiplin, masa depan cerah.” Tapi gak pernah ada yang nanya aku mau apa. Jadilah aku di sini. Duduk di kelas dengan seragam rapi, ikut aturan yang menurutku ribet banget, tiap pagi disambut oleh guru-guru di depan pintu gerbang dan teguran jika sikap dan pakaian tidak sesuai aturan. Nggak boleh telat, nggak boleh rambut gondrong, nggak boleh nyeleneh. Pokoknya nggak boleh jadi aku.
Setiap pagi rasanya kayak diseret masuk ke dunia yang bukan punyaku. Tapi ya... hari-hari jalan terus. Ini sudah masuk minggu kedua bulan kemerdekaan negara kita. Agustus.
Anehnya, meskipun aku males banget di awal, ada hal-hal kecil yang bikin aku nggak sepenuhnya nyesel. Teman-temanku ternyata... asik juga. Nggak sebrutal yang aku kira. Mereka nerima aku apa adanya, bahkan waktu aku lagi nggak mood. Kadang kita ngobrolin hal random, ketawa sampai sakit perut , kayak pelarian dari segala tekanan.
Dan guru-gurunya, walaupun disiplin, banyak yang pengertian. Mereka bukan robot aturan. Mereka tahu kapan harus tegas, kapan cukup jadi pendengar. Beberapa malah tahu aku nggak semangat dan nggak maksa aku berubah. Tapi mereka tetap ada, tetap nyapa, tetap ngasih ruang.
Aku belum jadi anak rajin, jauh banget. PR masih suka mepet-mepet, tugas kadang asal-asalan. Tapi aku mulai mikir... mungkin, cuma mungkin, ini semua ada gunanya.
Mungkin, sekolah ini bukan penjara. Mungkin, aku nggak seburuk itu. Mungkin, suatu hari nanti aku bakal berterima kasih ke masa sekarang.
Jadi kalau nanti aku — entah di usia 20-an, 30-an, atau kapan pun baca surat ini, tolong inget ya: kamu pernah ada di titik ini. Titik malas, muak, kesel, tapi juga diam-diam belajar bertumbuh. Kamu pernah nggak ngerti arah, tapi kamu juga nggak berhenti.
Lucu ya, surat yang ditulis sambil ogah-ogahan ini bisa aja nyentuh hati kita nanti.
Kalau sekarang kamu udah berubah jadi seseorang yang lebih baik... makasih. Kalau kamu belum, nggak apa-apa. Kamu tetap kamu, yang pernah jujur ke diri sendiri kayak hari ini.
Salam dari aku yang masih suka males,
Tapi nggak sepenuhnya nyerah.
Riadi
Contoh. 2
Hai, kamu…
Iya, kamu yang sedang membaca ini. Masih ingat nggak? Dulu waktu nulis surat ini, aku duduk di bangku kelas, pojok kanan, dengan wajah agak kusut gara-gara tadi sempat ngeluh, “Duh… males banget ikut kegiatan literasi, ngapain sih nulis surat untuk diri sendiri?”
Awalnya bener-bener males. Di kepala cuma ada kata “bosan”. Bahkan sempat mikir, “Mending main HP atau tiduran.” Tapi entah kenapa, di tengah rasa ogah-ogahan itu, aku ingat kultum di Mesjid tadi, ketika selesai shalat Dhuhur berjamaah tadi, ayat yang di baca terlintas di pikiran:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Kalimat itu kayak tamparan lembut—tapi cukup bikin kaget—kayak waktu kamu lagi ngantuk di kelas, eh tiba-tiba guru manggil nama kamu. Aku sadar, kalau aku terus nurutin rasa malas, aku nggak akan ke mana-mana. Hidup akan diam di titik yang sama, kayak pesawat yang mesinnya nyala tapi remnya nggak dilepas.
Dari situlah aku mulai berpikir: “Oke, ayo mulai nulis. Nggak usah bagus dulu, yang penting mulai.”
Kamu tahu? Saat itu aku punya mimpi yang agak “nggak biasa” buat anak seusiaku: jadi pilot. Bukan cuma karena seragamnya keren atau bisa foto di kokpit (walau itu bonus kecil yang lumayan lah 😏), tapi karena aku ingin terbang menembus awan, melihat bumi dari atas, dan menyaksikan langsung ciptaan Allah yang luar biasa indah. Angkasa luar, langit biru, hamparan bintang… semua itu seperti undangan untuk sujud lebih lama, karena ternyata dunia ini terlalu indah untuk tidak disyukuri.
Aku membayangkan beberapa tahun ke depan, kamu—versi dewasa dari aku—sudah terbiasa terbang melintasi negara demi negara. Turbulensi bukan lagi momok, tapi jadi rutinitas. Kamu sudah paham bahwa setiap perjalanan punya resikonya, tapi juga punya pemandangan indah yang hanya bisa dilihat kalau kita berani meninggalkan daratan nyaman.
Kalau suatu saat kamu baca ini dan ternyata belum juga jadi pilot… hey, nggak apa-apa. Mungkin Allah sedang menyiapkan jalur terbang yang lain. Tapi ingat, apapun mimpimu saat itu, tetaplah jadi orang yang mau berubah, mau belajar, dan nggak gampang nyerah. Karena mimpi, seperti pesawat, hanya bisa terbang kalau kamu berani meninggalkan landasan.
Salam dari aku di masa lalu, Yang sedang belajar melawan malas, dan sedang belajar terbang—setidaknya, di atas kertas dulu.
Pondok Bambu, 5 Agustus 2025
Aku yang baru selesai nulis ini
Nury
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan