Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Tiga Alat Tiga Rasa

Tiga Alat Tiga Rasa

Oleh Nurbaiti

Begitu bel pergantian pelajaran berdentang, riuh langkah kaki terdengar menghiasi koridor. Lima menit yang biasanya diisi santai, kali ini berubah total. Anak-anak kelas X langsung Moving, bergerak menuju laboratorium fisika. Antusias, penuh rasa ingin tahu, dan... sedikit norak.

“Aku duluan, aku duluan, pengen duduk di depan, deket Bu Nury!” seru Fani, sambil setengah lari menuju meja paling depan.

“Aduh, Fan! Nggak sopan tuh dorong-dorong. Aku duluan dong, aku udah naksir duduk sini sejak jam BK!” balas Laila, sambil membela diri dengan gesit.

Tawa kecil terdengar, saling berebut tempat seperti rebutan bangku konser K-pop. Tapi tentu saja, bukan karena mereka jatuh cinta pada lawan jenis tapi pada fisika.

Sebelum semua duduk rapi, satu per satu mereka salim kepada Bu Nury, sang guru fisika yang lebih sering disebut “Ibu Cahaya”. Wajahnya teduh, suaranya lembut, tapi bisa menggelegar kalau urusan ketertiban diabaikan.

Setelah itu, ketua kelas berdiri memimpin doa, lalu mereka membaca surah Al-Fatihah dengan khidmat. Diikuti salam serempak yang dijawab hangat oleh Bu Nury.

“Apa kabar hati kalian hari ini, anak-anak?” tanya Bu Nury, sambil menyapu wajah mereka satu per satu dengan tatapan penuh cinta.

Mereka hanya tersenyum malu-malu. “Silakan tulis satu paragraf tentang perasaan kalian pagi ini, lalu kirim ke WA Ibu secara pribadi. Jangan di grup. Ibu tunggu ya...”

Beberapa anak langsung mengetik. Ada yang diam lama, memikirkan kalimat. Ada yang mengetik cepat lalu menghapus, mengetik lagi, lalu menghapus lagi. Beberapa pesan masuk:

"Bu, saya tadi subuh kesiangan. Belum shalat. Hati saya nyesel..." "Bu, papa saya masuk rumah sakit. Saya khawatir, tapi gak mau nangis depan teman-teman..." "Bu, saya happy karena udah bisa move on dari sahabat yang dulu nyakitin..." "Bu, saya bawa air teh manis buat praktikum, boleh diminum gak nanti?"

Bu Nury tersenyum membaca satu per satu. Ada rasa haru yang hangat menyelubungi dadanya.

“Tidak semua hari cerah, tapi selalu ada pelangi setelah hujan. Tidak semua semangat datang dari senyum, kadang datang dari luka yang kita rawat dengan sabar. Terima kasih sudah jujur, anak-anak Ibu.”

Dan praktikum pun dimulai.

Hari ini, semua anak mendapat giliran mencoba tiga alat ukur: jangka sorong, mikrometer sekrup, dan termometer.

Mereka duduk berkelompok, tapi setiap anak menggunakan alatnya masing-masing dan membawa benda yang mereka pilih sendiri untuk diukur. Khusus termometer, mereka harus membawa cairan masing-masing. Ada yang membawa air es, ada yang bawa air hangat... dan ada yang bawa dot adiknya, lengkap dengan susu!

“Ini susu siapa, Roy?” tanya Bu Nury sambil menahan tawa.

“Itu... susu adek, Bu. Tadi nggak ada air panas, jadi saya pinjem dot. Kan ada ukurannya juga,” jawab Roy polos.

“Bagus. Kreatif... meski Ibu harap adeknya nggak nangis nyari dotnya sekarang.” Semua tertawa.

Dinda dan Raka kebingungan.

“Ini panjangnya 2,6 cm, Din. Lihat garis nolnya pas di angka dua dan skala nonius-nya di 6.”

“Eh, bukan, Ka! Liat lagi. Itu 2,4. Kamu salah baca!”

Keduanya berdebat. Bu Nury tidak langsung turun tangan. Ia memanggil Desy dan Lara, dua murid yang semalam rajin nonton lewat YouTube, lalu minta bimbingan via voice note.

“Coba Desy dan Lara bantu jelaskan ke Dinda dan Raka. Gunakan bahasa kalian sendiri, biar makin mudah dipahami.”

Desy menjelaskan dengan gambar-gambar kecil, Lara menambahkan analogi lucu: “Bayangin skala nonius kayak anak tangga tambahan. Nggak kelihatan dari jauh, tapi penting untuk akurasi.”

Cika kebingungan saat mencoba mikrometer sekrup.

“Eh kok... kok ini mentok tapi angka nggak sesuai. Eh, eh, gak bisa muter!”

Ternyata dia terlalu kuat mengencangkan alat itu hingga jepitannya nyangkut.

“Iya ampun, dikira buka botol Fanta kali,” celetuk Rio sambil ngakak.

“Ibu Nury... ini kenapa, ya?” tanya Cika panik.

Bu Nury mengangguk memanggil Rafi, si pendiam yang tadi diam-diam mencatat semua step pakai pensil warna.

“Coba bantu Cika ya, Raf.”

Dengan telaten, Rafi menjelaskan: “Kalau muter bagian ratchet-nya, itu ada click, tandanya udah cukup. Jangan sampai nyangkut. Biar alatnya awet, dan hasilnya akurat.”

Ayu mengangkat termometer ke cahaya. “Lho kok air jerukku dingin sih? Padahal tadi masih hangat.”

“Ya iyalah, kamu dari tadi naruh di dekat kipas,” ujar Cici.

“Tapi kok airnya Rio malah panas banget, padahal cuma air putih.”

“Dia bawa dari termos ibunya!” jawab Dito sambil ngakak.

Saat jam istirahat hampir habis, beberapa anak mulai menyodorkan teh manis, susu hangat, bahkan air jeruk ke Bu Nury.

“Ini buat Ibu. Jangan ditolak ya. Buat buka nanti…”

Tapi Bu Nury tersenyum lembut.

“Terima kasih sayang-sayang Ibu… Tapi Ibu masih puasa. Nanti malam Ibu doakan satu per satu dari kalian.”

Lima menit terakhir, Bu Nury meminta dua anak membacakan refleksi yang mereka tulis.

Rafi membaca duluan.

“Hari ini aku belajar bahwa alat ukur bisa salah dibaca kalau kita terburu-buru. Tapi lebih dari itu, aku juga belajar mendengar. Karena kadang, penjelasan teman lebih bisa masuk ke hati daripada angka-angka.”

Lalu giliran Laila.

“Aku senang karena akhirnya merasa bagian dari keluarga. Tadi aku malu ngakuin sedih, tapi Bu Nury membaca pesanku dengan lembut. Dan entah kenapa, hari ini hati aku lebih ringan…”

Semua diam sejenak. Laboratorium terasa hening, tapi penuh makna. Bukan sekadar kelas praktikum hari ini, tapi juga tempat anak-anak belajar mengukur sesuatu yang jauh lebih halus: perasaan mereka sendiri.

Mendung pun turun perlahan. Langit kelabu seperti menutup cerita hari ini dengan pelukan hangat. Dan di ruang lab itu, masing-masing dari mereka membawa pulang lebih dari sekadar angka dan rumus, tapi juga tawa, pengertian, dan kasih sayang dari seorang guru yang memeluk tanpa tangan, tapi menyentuh dengan hati.

Baiti Jannati, Malaka Sari, Ahad 3 Agustus 2025

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post