Coretan yang Menjadi Skenario
Coretan yang Menjadi Skenario
Oleh Syahbati
Pagi ini, aku menatap buku harianku yang penuh coretan. Angka-angka, tanda panah, garis miring, bahkan simbol misterius yang mungkin hanya aku sendiri yang paham. Itulah seting asliku: rencana pembelajaran yang sederhana, lahir dari intuisi, lalu kusimpan dalam memori otak.
Tapi hari ini berbeda. Ada supervisi. Nah, kalau sudah dengar kata yang satu itu, rasanya seperti ada alarm yang berbunyi: “Hei, jadi guru teladan dulu ya!”
Aku pun pindah posisi, duduk di meja bu Imas yang masih kosong. Kubuka laptop jadulku, duduk lebih tegak, mengetik rapi skenario pembelajaran. Tujuan, langkah, metode, semua kuurai seperti sedang menulis naskah drama. Bedanya, para aktornya adalah murid-muridku, dan aku sendiri jadi sutradara sekaligus pemeran utama.
Apakah biasanya aku begini rapi? Oh, tentu tidak. Kalau tak ada supervisi, cukup coretan kecil di kertas kusut. Selebihnya, aku biarkan improvisasi di kelas mengalir seperti kopi tubruk tanpa gula, yang sering kuminum di ruang guru lantai dua, minuman kesukaanku: pahit tapi jujur.
Namun hari ini, aku menyerahkan lembar rapi itu kepada supervisor. Sambil tersenyum, dalam hati aku berbisik: “Selamat membaca, Pak Shobur. Tapi percayalah, yang paling hidup bukan di tulisan ini, melainkan di kelas nanti. Karena murid-muridku bukan angka di tabel, melainkan jiwa-jiwa yang perlu disentuh.”
Dan begitulah, coretan kecilku akhirnya bertransformasi jadi skenario pembelajaran resmi. Tidak ada yang salah, toh. Sesekali, biarlah ada bumbu drama. Supervisi membuatku sadar: kadang-kadang, untuk menyalakan semangat, aku butuh alasan kecil agar menuliskan semua yang biasanya hanya berputar di kepalaku.
Skenario ini bukan sekadar karena supervisi. Tapi karena aku ingin menunjukkan: guru bukan hanya pengajar, tapi juga pelukis yang menorehkan warna, kadang lewat coretan, kadang lewat naskah rapi.
🌸Baiti Jannati, Selasa 23 September 2025
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan