Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Kerupuk Burung Liar di Pagar Rumah

Kerupuk Burung Liar di Pagar Rumah

Oleh Nurbaiti

Pagi itu aku udah siap-siap berangkat, tapi suamiku malah sibuk di luar pagar. Bukan jemur motor, bukan juga bersihin selokan. Dia lagi bikin warung all you can eat untuk burung-burung liar. 🤣

Iya, beneran warung. Cuma bedanya tanpa etalase, tanpa kasir, tanpa nota bon. Cuma ada satu piring panjang dari kayu bekas, disebar butiran nasi, kadang remah roti, kadang beras mentah. Nah, hari itu spesial: kerupuk edisi terbatas.

Kerupuknya? Jangan bayangin yang mahal. Itu lho, kerupuk putih-kuning gratisan yang suka numpuk kalau kita beli nasi uduk. Biasanya aku simpan di meja, sampai akhirnya jadi penghuni tetap di stoples. Tapi suamiku punya ide: kerupuk ini pasti laku keras di kalangan burung-burung liar.

Lalu dimulailah prosesi unik: kerupuk dihancurkan sekecil biji beras, ditabur rata di piring kayu. Belum lima menit, burung-burung langsung datang bergerombol. Ada yang hinggap di kabel listrik, ada yang nunggu di atap tetangga, ada juga yang nyempil di dahan jambu sambil pasang telinga.

Kayak lagi antre sembako. 😂

Begitu ada yang kasih kode—mungkin bahasa burungnya bunyi “cip cip securee!”—semuanya nyerbu. Aku ngakak lihat gaya mereka: ada yang makannya rakus kayak belum sarapan sebulan, ada yang pura-pura kalem tapi matanya jelalatan, ada juga yang hobinya cuma nyosor doang terus kabur, kayak mau ngetes kualitas kerupuknya.

Yang lebih kocak, mereka ribut sendiri. Suaranya rame kayak sidang DPR. Ada yang protes, “Cip-cip! (Eh, jangan dorong-dorong!)” Yang lain jawab, “Cuit-cuit! (Woi, bagi rata dong!)” Sementara si beo peliharaan di rumah cuma melotot dari kandang, mungkin iri karena kalah heboh.

Aku sempat curiga, jangan-jangan burung-burung itu bikin rapat setelah kenyang: “Guys, besok kita boikot kalau cuma dikasih kerupuk lagi.” “Setuju. Minimal dikasih nasi uduk sekalian.” “+1.”

Tapi ya, meski remeh, aku suka lihat mereka. Kicauannya bikin halaman rumah berasa kayak konser gratis. Dan aku mikir, ternyata burung-burung ini punya solidaritas tinggi juga. Mereka bisa datang, makan bareng, terus terbang lagi tanpa mikirin status, alamat KTP, apalagi saldo ATM.

Kalau manusia? Hmm… kadang dikasih gratisan malah ribut duluan, ya kan? 🤭

Jadi intinya: kasih kerupuk buat burung itu bukan sekadar buang sisa makanan. Itu semacam cara murah meriah buat belajar bahagia. Kita bisa ketawa, bisa lihat kehidupan yang sederhana, bisa sadar juga kalau berbagi itu nggak selalu harus mewah. Bahkan dengan remah-remah kerupuk pun bisa bikin rame satu kampung burung.

Baiti Jannati, Malaka Tiga, Ahad, 14 September 2025

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post